Fanfiction: Reminiscence

Reminiscence


Author : Avia Maulidina
Cast :
• Super Junior’s Hyukjae
• Hello Venus’ Yoo Ara
Genre : Sad romance
Length : Oneshoot
Rating : don’t know kkk


...Hai. Gue abis nulis fanfiction nih HAHAHAHA. Entahlah, agak sedikit ancur sih. Dan maaf juga kalo ada typo, maklum gue males ngoreksi ulang. Anyway, masukan sangat diperlukan. Kalo punya kritik bilang aja heuheu /padahal gak ada yang baca/ Oh ya, ff ini terinspirasi dari lagu SJ KRY - Reminiscence, makanya judulnya sama. Dan ada beberapa kata yang diambil dari arti lagu itu juga hehehe. Oke, langsung aja ya, HERE COMES TROUBLE!~~ *gaya Tiffany*




Hyukjae’s pov
Udara laut membekukan tulangku. Kabut dingin merayap masuk melalui pori-pori kulitku seperti racun.
Aku merapatkan jaket, menggenggam pinggirannya erat-erat  dan memeluk diriku sendiri. Nada-nada keras yang berasal dari iPod-ku berdentam-dentam, menghantam sisi kepalaku dan memblokir seluruh akses dari luar sana.
Memicingkan mata, aku melihat gadis itu sedang duduk menjeplak diatas pasir—tampaknya tidak memedulikan tamparan dingin laut di Bulan Desember serta butiran pasir bercampur salju yang menempel pada pahanya yang hanya tertutupi celana pendek dibagian atas.
“Kapan kau mau pulang?” tanyaku kesal.
Dia menengadah. Helai-helai rambut menutupi wajahnya. Alisnya berkerut, mencoba melihatku dengan jelas diantara rambut yang merecoki pandangannya. Mulutnya membuka, mengatakan sesuatu yang tidak dapat kudengar diantara hiruk pikuk dentuman musik.
Aku melepaskan earphone. “Apa katamu?”
“Aku akan pulang sekitar satu atau dua jam lagi,” ia mengulang kata-katanya.
“Satu atau dua jam lagi?” aku melotot. “Apa menariknya berada disini? Jika ini Musim Panas, ya, memang akan sangat menyenangkan berada disini—memandangi wanita-wanita seksi yang hanya memakai bikini sedang berlarian menuju pantai. Tapi di Musim Dingin? Di saat laut tidak mempunyai pengunjung satupun, dan hawa dingin memeluk tubuhmu? Kau tidak perlu heran jika aku menganggapmu gila,” sentakku.
Dia nyengir. Giginya menyembul dibalik garis bibir yang tidak diolesi pewarna sedikitpun. “Karena itulah aku ingin ada disini. Aku ingin menemani laut yang kesepian di Musim Dingin, karena aku sendiri juga kesepian. Kau boleh mengataiku gila, tapi itu tidak akan merubah apapun.”
“Aish, anak ini,” desisku kesal. Aku kembali menempelkan earphone ke telinga kiriku, jengah mendengar suaranya yang terlampau riang.
“Lagipula, aku tidak menyuruhmu menemaniku hingga aku ingin pulang. Kau boleh pulang kapan saja. Aku bisa naik taksi ke apartemen,” lanjutnya lagi. Kepalanya menunduk, tangannya memainkan gumpalan pasir-campur-salju dengan ketertarikan yang luar biasa.
Sungguh, apa dia memang selalu seperti anak TK seperti ini?
Jujur saja, wajahnya memang tampak sangat kekanakkan, tapi itu tidak berarti ia harus bertingkah layaknya anak ingusan juga, kan?
Tapi… ah, melihat wajahnya yang begitu polos… rasanya tidak mungkin jika melihat gadis itu bersikap dewasa. Justru ia terlihat lebih natural dengan sikap bocah-ingusan-yang-tanpa-dosa itu.
Saat aku mengenalnya—mengetahui bahwa dia ada di bumi ini, sebenarnya—dan itu sekitar dua tahun yang lalu, kukira umurnya masih duabelas tahun. Dengan mata berbinar, pipi yang penuh dan postur tubuh yang tidak seperti wanita dewasa, ia benar-benar terlihat seperti anak yang baru lulus SD.
Waktu itu aku baru saja naik ke kelas tiga SMA, dan dia naik ke kelas dua. Aku begitu heran saat mengetahui bahwa Kris Wu Fan, juniorku di sekolah—dan merupakan orang tertampan setelah aku, harus kuakui—memacarinya. Dengan terpaksa aku memutuskan bahwa Yoo Ara adalah gadis yang pantas untuk dilihat lebih lanjut. Namun setelah itu, mereka putus dan nama Yoo Ara jarang kudengar lagi.
Lalu, aku lulus sekolah dan kuliah di Kyunghee. Siapa sangka, tahun kedua dia pun kuliah disana dan ruangan apartemennya berada di sebelah ruangan apartemenku? Sejak pertemuan di lift, dan mengetahui bahwa kami tinggal di tempat yang sama—hampir sama—aku terbiasa mengantarkan gadis itu pergi kemana-mana, termasuk pergi ke kampus bersama.
Sekitar 6 bulan yang lalu, orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Itulah pertama kalinya aku melihat keceriaan lenyap dari wajahnya. Hilang tak berbekas. Selama dua bulan dia seperti mayat hidup—walaupun senyum masih sering tersungging di bibirnya, namun matanya kosong seperti tak memiliki hasrat apapun. Kehidupan tersedot habis dalam wajahnya yang kaku.
Sebuah kesadaran terlintas di benakku. Besok, tanggal 26. Hari peringatan kematian kedua orang tuanya. Satu-satunya hari dalam sebulan dimana semua warna dalam dirinya hilang.
Tanpa sadar, aku bergidik. Itu… menyeramkan. Melihatnya seperti itu, rasanya seperti… hidup di dunia arwah?
Aku tersentak ketika air laut menghempas, memercikkan air hingga ke tungkaiku. Merutuk pelan, aku segera memasang earphone dengan benar dan melangkah pergi meninggalkan bibir pantai dengan musik yang kembali berdisko didalam kepalaku.
“Kalau begitu, aku pulang dulu,” aku bergumam. Lebih seperti berpamitan pada laut daripada kepada Ara.
“Mm,” jawabnya, balas bergumam. Mengangguk-angguk.
Aku mengangkat bahu dan melangkah menuju mobil.
***

Jam berdetak sayup-sayup. Aku menyandarkan bahu di sofa dan mencoba menelpon ke apartemen Ara.
Tidak ada jawaban.
Kemana anak itu? Apa dia sudah pulang dari laut? Sudah jam 10 malam, bukan wajar lagi namanya jika sekarang dia sudah tiba di apartemennya, namun aku tidak mendengar satu langkah manusia pun melewati lorong di antara apartemen kami.
Menelpon lagi.
Tik tok tik tok tik tok.
Tidak diangkat.
Tik tok tik tok.
Aku menggigit bibirku dan menghempaskan ponsel. Menyambar jaket, melirik ganas jam yang membuatku semakin ketakutan, aku melangkah keluar apartemen, pergi menuju parkiran mobil.
Jalanan lengang di malam hari. Malam hari di Musim Dingin—orang gila macam apa yang akan berkendara ditengah ancaman tertimbun salju dan membeku hingga pagi hari?
Aku menancap gas, merasakan seluruh darahku mendesir. Mengapa aku begitu mengkhawatirkan Ara?
Ada suatu firasat buruk yang menjelajahi otakku, menempel bagaikan lintah.
Ban mobilku berdecit pelan. Berhenti di dekat pantai yang tadi pagi aku kunjungi. Aku melangkah keluar dari mobil dan segera membanting pintunya hingga menutup.
Mencari-cari diantara gelapnya langit Korea Selatan.
Sial, mengapa aku tidak ingat untuk membawa senter?
“Yoo Ara?” tanyaku, entah pada siapa.
“Yoo Ara?”
“YOO ARA?”
Lima kali nama itu terucap, tapi tidak ada sahutan.
Aku mulai akan kembali pulang saat kakiku mengenai gundukan kecil.
Menoleh kebawah—
Dan ternyata itu sama sekali bukan gundukan kecil.
Itu manusia! Batinku ngeri.  Ara?
Aku berlutut dan mencoba melihat wajahnya.
Benar. Itu Yoo Ara. “Neorago,” bisikku, campuran lega dan ngeri.
Aku merengkuh Yoo Ara dan membawanya ke dalam mobil.
Salju mulai turun.
“Kenapa kau membawaku pulang? Turunkan aku.” Sebuah suara terdengar.
Aku menunduk, memandang Ara yang berada diatas kedua tanganku. Ia sudah terbangun. Matanya sayu membuka, bibirnya yang membiru kedinginan bergetar—berbicara.
“Tidak.” Jawabku, agak sedikit lebih keras daripada yang dimaksudkan.
“Turunkan aku, Hyukjae,” desisnya.
Bulu romaku berdiri. Ara terlihat marah.
“Besok hari kematian orang tuaku. Biarkan aku bersama laut untuk malam ini saja,” ujarnya. “Aku tidak punya siapapun di dunia ini. Aku kesepian, sama seperti laut Musim Dingin. Turunkan aku.”
Aku tidak bergeming.
“Lee Hyukjae!” dia berteriak.
Oh Tuhan. Aku menyerah. Aku menurunkan Ara.

Author’s pov
“Pulanglah.”
Hyukjae tidak menjawab.
“Hyuk, pulanglah, juseyooo,”  Yoo Ara melirik lelaki di sebelahnya dengan tatapan memohon. Jaket Hyukjae yang kebesaran di tubuhnya menyelimutinya hingga ke bagian bawah celana pendek yang ia pakai.
Hyuk memandang kaku ke arah lautan. Dinginnya pantai lebih menusuk tiga kali lipat di malam hari dibandingkan saat tadi pagi ia berkunjung kesini, dan satu-satunya perlindungan yang ia punya—jaket—ia berikan kepada Yoo Ara.
“Pulanglah, Hyuk. Aku memohon padamu,” suara Ara berubah dingin dan tajam.
“Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendirian?” Hyuk bersuara.
“Kau tidak perlu begitu memperhatikanku. Aku tidak penting.”
“Kau penting.”
“Tidak. Aku bisa mati dan pergi dari dunia ini tanpa seorang pun merindukanku, karena aku tidak penting.”
“Kenapa kau berbicara tentang kematian?”
Ara meringis. “Tidak apa-apa.”
“Bohong. Ceritakan padaku.”
“Aniyo. Tidak kenapa-napa.”
“Yoo Ara,” seru Hyuk tajam.
“Baiklah. Aku punya penyakit dan mungkin aku akan mati detik ini juga. Uh, seperti di drama sekali.” Jawab Yoo Ara ringan.
Hyukjae terkesiap. “Jangan bercanda!” gertaknya.
“AKU TIDAK BERCANDA!” jerit Yoo Ara marah.
Lalu suasana hening yang kaku menyelimuti mereka.
“Kau… punya penyakit?” tanya Hyuk hati-hati. Ara hanya mengangguk-angguk.
“Penyakit apa?”
“Jangan bertanya lagi,” tukas Yoo Ara, berusaha menutup pembicaraan.
“YAK! Yoo Ara, beritahu aku! Selama dua tahun kita mengenal, dan kau tidak pernah memberitahuku?!”
“Tidak.” suara Ara terdengar lirih. Ia menumbuk-numbuk pasir yang tercampur salju dengan kepalan tangannya.  “lagipula, semua orang yang mencintaiku, ayah dan ibu, telah mati. Siapa lagi yang akan keberatan jika aku mati?” Mulutnya membuka, membuat sebuah seringai masam.
Hyukjae terdiam. Aku. Aku akan keberatan. Aku akan merindukanmu setiap hari jika kau pergi dari dunia ini. “Laut. Laut mencintaimu dan akan merasa kehilangan saat kau mati nanti.”
“Jangan konyol,” Ara mencoba tertawa. Namun yang keluar dari kerongkongannya hanyalah suara parau, sarat akan kegetiran. “Sekarang, kau lebih gila daripada aku.”
“Terserah.”
Hening lagi untuk beberapa saat.
“Kau tahu kenapa aku menyukai laut di Musim Dingin?” tanya Yoo Ara.
“Kau bilang itu karena kau sama kesepiannya dengan laut, benar?” Hyuk balik bertanya.
“Ya. Dan disini sangat banyak kenangan tentang orang tuaku
“Orang tuaku sangat senang mengajakku pergi ke laut saat Musim Dingin, karena di musim lainnya, mereka selalu berada di luar negeri. Awalnya, aku membenci semua ini. Deburan ombak yang membuat kakiku basah saat mengenainya, udara dingin yang membuat pipiku berdenyut-denyut, itu semua menyebalkan,
“Sampai suatu saat, aku menyadari bahwa laut sangat kesepian.  Aku mulai berpikir bahwa laut ingin bermain denganku lewat ombaknya yang menghampiri kaki kecilku. Sejak itu, setiap Musim Dingin datang, aku selalu meminta kepada orang tuaku untuk pergi ke laut. Mereka bermain denganku disana. Mengajariku banyak hal,
“Kami bertiga selalu berkunjung ke laut bersama di Musim Dingin, sampai akhirnya saat aku masuk ke Kyunghee dan tidak tinggal serumah lagi dengan mereka, aku terpaksa pergi ke laut sendirian. Lalu, enam bulan lalu, mereka pergi meninggalkanku dan dunia,
“Namun aku masih menganggap bahwa orang tuaku selalu berada di laut saat Musim Dingin. Dan karenanya, aku selalu pergi kesini untuk menemani laut serta berharap akan bertemu orang tuaku lagi.”
Ara menghela napas panjang.
Ia menoleh ke arah Hyuk dan segera mengeluarkan desah jengkel. Hyuk sudah tertidur dengan pulas. Kepalanya tertunduk dan dengkuran pelan terdengar dari kerongkongannya.
Ara menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibir. Sesaat kemudian ia menyenderkan kepalanya ke bahu Hyukjae.
“Aku ingin, kita selalu bersama disini. Kau, dengan aku,” bisiknya pelan, tidak mau Hyuk mendengar sedikit pun kata-katanya yang konyol itu.
Bibir Hyuk membentuk segaris senyum. Dia dapat mendengar suara Yoo Ara lamat-lamat, walaupun sedang tertidur.
Ara melepaskan jaket Hyuk dari tubuhnya dan memakaikan kembali ke tubuh pemiliknya.
***

Hyukjae terbangun saat menyadari udara dingin membekap tubuhnya. Matahari sudah membayang di langit sana. Ia mengernyitkan wajah, mencoba menghilangkan kaku.
Masih dalam keadaan setengah sadar, ia menyadari ada yang hilang. “Yoo Ara!” serunya panik. Hyukjae segera membenahi posisi jaketnya dan bangkit seraya menggosok-gosokkan tangan ke lengan jaket untuk menghilangkan dingin.
“Mengapa anak itu senang sekali menghilang,” desahnya jengkel.
“Hyukkie!” tiba-tiba seseorang menerjangnya dan memeluknya.
“Yoo Ara?” belum selesai rasa heran menerpanya, badannya kehilangan keseimbangan dan jatuh bersama Ara yang memeluknya.
“Kau sudah bangun,” Ara melepaskan pelukannya dan membalikkan badan menjadi menghadap langit. Kedua tangannya terbentang.
“Kau baik-baik saja?” tanya Hyuk, memijit-mijit pelipisnya sendiri. Ia tersenyum lebar, kejadian semalam sama sekali tidak diingatnya.
“Ya, aku baik. Sangat baik,” Ara tertawa lepas.
“Aish, dasar gila,” Hyuk menjitak kepala gadis tersebut.
“Yak! Appheoyo!” jerit Ara, menggembungkan pipinya dan mengusap kepalanya.
Hyukjae tertawa.
Ia sama sekali tak menyadari betapa tawa lepas Yoo Ara terdengar dibuat-buat, atau betapa pucat wajah gadis itu—dan betapa ia berusaha menghilangkan noda merah di bajunya.

“Apa… kau ingat hari ini tanggal berapa?” tanya Hyuk kaku. Ia duduk dengan lutut menekuk. Di atas sana, matahari mulai meninggi. Mencoba mencairkan es yang menutupi daratan dengan sinarnya yang terhalang kabut.
“26,” jawab Ara suram. “Aku tahu hari ini adalah peringatan kematian kedua orang tuaku.”
“Aku tidak bermaksud—“
“Tentu saja kau tidak,” senyumnya mengembang kembali. “Aku mengenalmu, Hyukjae. Seperti kau mengenal dirimu sendiri, atau bahkan lebih.”
Tiba-tiba Ara terbatuk kencang. Kedua tangannya langsung menutupi mulut cepat-cepat. Ara bangkit, lalu pergi menjauh dari Hyukjae.
“Yoo Ara, ada ap—“
Dan Hyuk melihatnya. Melihat setitik cairan merah yang mengalir di sela-sela jemari gadis itu.
Dengan perasaan ngeri dan khawatir, Hyukjae segera berlari menuju Yoo Ara dan menarik pergelangan tangannya—berusaha melihat apa yang Ara tutupi.
Darah. Di mulut serta telapak tangan Ara. Mencoreng bibirnya—yang sekarang terlihat benar-benar pucat—dengan warna merah mengerikan.
“Tidak! Aku tidak apa-ap—” dan darah menyembur lagi dari dalam mulut Ara. Mata Hyuk melebar.
Lelaki itu segera membopong Yoo Ara lalu berlari ke mobil seperti kemarin malam saat Ara pingsan.
“Dulu di laut ini ibuku pernah bercerita tentang vampir. Dan aku selalu penasaran seperti apa rupa vampir sehabis meminum darah manusia. Aku berasumsi bahwa mulut vampir itu akan bersimbah darah, dan itu keren. Tapi sekarang, setelah aku melihat bahwa mulutku juga bersimbah darah—sepertinya tidak bagus sama sekali.” Ara tersenyum. Kelopak matanya bergerak menutup.
Hyuk menggigit bibir. Ia cepat-cepat membuka pintu mobil dan mendudukkan Ara. Pikirannya tertutup kabut tebal.
***

Kesadaran gadis itu berangsur-angsur kembali.
Bau obat-obatan segera menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Ia mengernyit.
Ini di rumah sakit. Tapi bagaimana—
Dan tangannya menyentuh kulit seseorang.
Seseorang yang langsung berbalik dengan terkejut dan memeluknya refleks.
“Akhirnya kau bangun,” bisik Hyukjae. Ara tertegun. Hyuk mendekapnya lembut sekali, tidak ingin menyakiti tubuhnya yang baru saja sadar dari pingsan berjam-jam. Bau obat-obatan segera berganti dengan aroma tubuh Hyuk.
“Kau… sudah…?” Ara bertanya dengan terbata.
“Tentang kanker paru-paru itu? Ya, aku sudah tahu sekarang.” Hyuk menyusuri rambut Yoo Ara dengan tangannya pelan.
Sesuatu yang hangat jatuh ke bahu Hyukjae, merembes melewati kain kausnya. Air mata.
“Menangislah,” gumam Hyuk lirih. “menangislah di bahuku.”
“Aku tidak…”
“Ya. Kau menangis.”
Semua emosi yang ada dalam diri Yoo Ara pun tumpah. Ia meletakkan dagunya di bahu Hyukjae dan menangis tanpa suara. Tubuh Hyuk terasa hangat dan nyaman.
“Kau sudah sering batuk darah seperti yang kemarin itu?”
“Kemarin? Berapa lama aku pingsan?”
“Yah, hanya satu hari. Lebih beberapa jam,” Hyukjae menghirup dalam-dalam wangi shampoo dari rambut Yoo Ara. Shampoo itu beraroma seperti bayi.
Ara terdiam sebentar. “Ya. Sudah sering. Dari dulu itu selalu membuat orangtuaku khawatir. Dan kemarin-kemarin darah itu semakin banyak keluar setiap aku batuk.”
“Aku juga khawatir, sama seperti orangtuamu.”
“Jangan, jangan pernah mengkhawatirkanku.”
“Tapi aku ingin mengkhawatirkanmu.”
Ara kembali terdiam.
“Hyukjae. Aku ingin pergi ke laut.”
“Ke laut? Lagi?” tanya Hyuk, masih memeluk Yoo Ara.
“Aku takut.”
“Takut?”
“Takut tiba-tiba Tuhan memutuskan untuk mencabut nyawaku. Setidaknya aku ingin berpamitan kepada laut.”
“Idiot!” tiba-tiba Hyukjae berseru marah.
Yoo Ara tersentak.  Tubuh yang melingkarinya bergetar. Lelaki itu menangis.
“Kenapa kau selalu berpikir bahwa kau akan mati? Kenapa kau hanya memikirkan laut? Kau tidak pernah berpikir tentang aku, ya? Kau harus mengerti perasaan orang lain yang ada di sampingmu, Yoo Ara!”
“Kau tidak mengerti—“
“Ya. Aku mengerti!” Hyuk berteriak.
“Tidak… Kau tidak mengerti… Aku tahu bahwa waktu tidak akan berlama-lama lagi. Pada suatu hari semua orang akan bangun dan mendapati aku sudah tidak ada di dunia. Tapi, kenangan manusia sangat mudah dihapuskan. Berapa lama aku akan bertahan dalam benak mereka? Satu bulan? Atau dua? Mungkin tiga. Berbeda dengan benda. Sebuah benda akan terus-terusan berbau seperti pemiliknya, terasa seperti pemiliknya. Dan aku ingin laut akan terasa sepertiku. Jadi saat orang pergi kesana, ia akan ingat padaku.” Jadi saat kau pergi kesana, kau akan ingat padaku.
“Kalau begitu aku ingin menjadi benda milikmu,” ujar Hyuk.
“Hah?”
“Agar aku selalu merasa kau ada padaku. Agar aku tidak perlu mencari sampai ke surga untuk menemukanmu. Agar saat aku terbangun, aku mendapati kau masih disini.”
Dan Yoo Ara balas memeluk Hyuk.

”Sudah tidak ada harapan untuknya.” Dokter menggeleng sembari membaca dengan teliti sebuah berkas di tangannya.
“Satu lagi yang akan mati karena kanker paru-paru,” desah pria paruh baya itu. Ia menggaruk kepalanya yang mulai dipenuhi rambut putih.
“Kasihan pria yang membawa gadis itu.” Gumam seorang suster yang sama-sama berada di ruangan tersebut. “Dia terlihat sangat mencintai si gadis. Apa mereka kakak beradik?”
“Sepertinya bukan, mereka tidak mirip,” sahut suster satunya lagi. Tangannya sibuk mengatur berbagai peralatan medis. “Mungkin mereka sepasang kekasih. Ah, aku tidak tahu.”
“Kisah cinta anak muda,” balas suster pertama. “Aku yakin waktu gadis itu hanya tinggal beberapa hari lagi.”
***

Yoo Ara’s pov
Aku benci membuat Hyuk sedih. Benci melihatnya menangis setiap hari di sebelah ranjang rawatku.
Aku bodoh. Bodoh karena membuat lelaki sebaik dan setampan dia terlihat begitu menyedihkan. Hari ini tepat seminggu dia menemaniku di rumah sakit. Dan dia terlihat semakin kurus.
Ingin aku menggerakkan jemariku ke arahnya, menyentuh garis rahangnya yang keras, meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Tapi semua terasa kaku dan sakit luar biasa sekarang, dua hari ini aku merasa sangat lemah.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu hadir.
Sesuatu yang bercahaya. Mendekat ke arahku. Aku ingin berteriak, memanggil Hyukjae yang tertidur di kursi yang berada di sebelah ranjangku, tetapi suaraku tertelan bulat-bulat bahkan sebelum bisa mengeluarkannya.
“Tenanglah,” sebuah suara terdengar.
Seakan patuh, aku tidak lagi panik dan berusaha memberontak. Rasa nyaman dan hangat mengelilingiku.
Apakah yang dihadapanku ini adalah seorang cheonsa? Kalau itu benar, berarti… aku akan segera mati.
“Yoo Ara. Waktumu di dunia sudah habis. Ikutlah denganku.”
Tuh. Benar saja. Waktuku di dunia sudah habis.
Aku merasakan jiwaku terangkat, tersentak dan terlontar-lontar dalam ragaku. Rasanya sakit bukan main. Aku mengurungkan niat untuk mengerang. Tidak ada gunanya. Pada akhirnya aku hanya akan membangunkan Hyukjae dan membuatnya melihatku menghabiskan detik terakhir dalam hidup.
Dan akhirnya, aku merasa terlepas. Aku melayang sekarang, dan rasanya seperti angin—ringan dan tak berarti.
“Ayo.” Cheonsa itu mengulurkan tangannya yang bercahaya.
Aku baru akan menyambut tangan itu saat teringat sesuatu.
Aku harus mengatakan salam perpisahan pada Hyukjae.
Jika aku masih berada di dalam ragaku, mungkin aku akan menangis sekarang. Aku akan merindukannya, merindukan Hyukjae yang biasanya menghiasi hari-hariku. Aku—
“Izinkan aku melakukan sesuatu,” ujarku. Tidak bermaksud untuk selirih itu.
“Melakukan apa?” tanya cheonsa.
“Menulis surat. Untuknya,” aku menoleh lemas ke arah Hyukjae yang masih tertidur lelap. Dia terlihat sangat tenang dan damai…
“Cinta.” Cheonsa itu menggumam pelan. Taruhan, jika  dia manusia, dia akan memutar bola matanya. “Tulislah. Cepat.”
Aku segera melesat menuju meja di kamar rawatku. Entah bagaimana caranya, tapi aku dapat menggenggam pulpen dan menulis di kertas.
Setelah suratku selesai, aku pergi menuju Hyuk dan mencoba mengecup pipinya.
“Sekarang aku tidak akan kesepian lagi seperti laut di Musim Dingin. Aku akan bertemu orang tuaku dan yang lainnya… Tapi disana tidak ada kau Lee Hyukjae. Mungkin aku akan kembali sama kesepiannya dengan laut.”
“Sudah?” suara cheonsa menyudahi kalimat terakhirku. Aku menoleh pada cheonsa dan pergi ke hadapannya.
Ia mengulurkan tangan. Mengajakku pergi ke alam selanjutnya.
Aku menggenggam tangannya.
“Selamat tinggal.”
Dan suara Hyukjae memenuhi kepalaku. “Agar saat aku terbangun, aku mendapati kau masih disini.”
***

Untuk Lee Hyukjae.
Terima kasih. Untuk semuanya. Untuk semua bisnis antar-jemput yang kau lakukan untukku. Dan semua waktu yang kau luangkan untukku.
Maaf telah berkali-kali membuatmu kedinginan saat menemaniku di laut. Maaf sudah terlalu sering membuatmu kesal dan khawatir. Sungguh, aku benar-benar minta maaf.
Aku penasaran, apa di surga ada laut. Atau pun salju? Hm.
Omong-omong,  aku belum sempat mengatakan ini. Tapi aku selalu senang saat kau ada di dekatku. Aku senang mencium aroma tubuhmu yang berbau campuran kayu manis, jeruk, harapan, dan kehidupan. Sebenarnya deodoran dan parfum apa yang kau pakai? Aku pernah mencoba mencarinya di toko loak yang suka kau kunjungi, dan ternyata mereka tidak menjual parfum. Kau membeli parfum itu dimana? Hhh -.-
Aku akan merindukanmu, Lee Hyukjae. Mungkin aku akan merindukanmu hingga aku merasa layaknya mati dalam kematian[?]. Ini akan sangat sulit. Apa mereka akan mengambil ingatanku saat di dunia bila aku sudah berada di surga? Aku harap tidak. Aku tidak mau menghapus begitu saja kenangan tentang dirimu.
Hyuk, KAU JELEK. SUMPAH, KAU JELEK SEKALI. MASA KAU TIDAK MENGIZINKANKU KE LAUT? HA? BENAR KAN, WAKTUKU HABIS DAN AKU TIDAK BISA PAMITAN PADA LAUT! DASAR JELEK BODOH.
Oh ya, sebagai gantinya, tolong jaga laut. Aku takut laut akan kembali kesepian, dan itu membuatku merasa tidak bertanggung jawab. Daaah! ^^
-Yoo Ara-
***

EPILOG

Hyukjae’s pov
Aku memandangi lautan dihadapanku. Rasanya laut Musim Dingin tidak pernah sesepi ini sebelumnya.
“Aku ingin menemani laut yang kesepian di Musim Dingin, karena aku sendiri juga kesepian.” Kata-kata itu terngiang di telingaku. Bagaikan sengaja ingin merobek-robek pertahananku, menohok jantungku. Aku memejamkan mata, merasakan sundutan air hangat di sisi alat indra yang paling banyak merekam kenangan itu.
Salju turun perlahan-lahan. Butirannya mulai menimbun peti mati di sebelahku.
Peti mati… kedengarannya sangat menyakitkan. “Mati”. Itu berarti tidak akan terbangun selamanya, bukan?
Aku berjongkok di sebelah peti. Bulir-bulir air mulai mendesak mataku, berusaha keluar.
“Aku ingin, kita selalu bersama disini. Kau, dengan aku.”
Tess…
Perlahan, aku menyentuh kaca peti yang sekarang sudah tertutupi salju dengan sempurna. Menyingkirkan kristal-kristal salju yang dengan lancangnya berani menutupi peti tempat Yoo Ara beristirahat.
Tanpa sadar, tanganku yang tidak tertutup sehelai benang pun sudah membiru kedinginan. Biar saja. Aku tetap mengeruk salju dari kaca peti hingga tanganku mulai berdenyut-denyut dan dinginnya salju terasa memecut kulitku.
Akhirnya, peti itu bersih dari salju. Tepat saat tanganku mulai mati rasa. Melalui kacanya, aku dapat melihat wajah itu. Wajah yang kini pucat keabuan.
“Mengapa kau pergi kesini sendirian? Kemana perginya gadis itu?”
Aku mendongak. Tapi hanya ada deburan ombak yang terdengar. Rasanya seperti ombak sedang bertanya kepadaku.
Aku mengambil napas panjang dan menjawab. “Tidakkah kau lihat? Dia di sampingku. Dia sedang menghindar dari angin dan tertidur sebentar. Saat hangatnya matahari sudah bersinar, ia akan bangun. Tunggulah sebentar.” Suaraku bergetar. Aku tidak berani mengatakan bahwa aku tidak bisa melihat Yoo Ara lagi.
Tanpa kusadari, air mataku kembali jatuh.
Angin yang berlalu bagaikan mengatakan bahwa aku tidak akan bisa menemukan Yoo Ara lagi. Tidak peduli kemana pun aku mencari, aku tidak bisa menemukannya. Aku merasakan bahwa lautan berbicara padaku, bertanya lagi dan lagi kemana Yoo Ara pergi. Dan itu membuat air mataku jatuh lagi dan lagi. Deburan ombak layaknya menyuruhku untuk tidak datang jika tidak bersama Yoo Ara, menyuruhku untuk membawa Yoo Ara yang hidup ke depan mereka.
Dan aku hanya dapat menjawab kembali, “Tidakkah kau lihat? Dia di sampingku. Dia sedang menghindar dari angin dan tertidur sebentar. Saat hangatnya matahari sudah bersinar, ia akan bangun. Tunggulah… sebentar…”
Tunggulah sebentar. Aku mengulang lagi kata-kata itu dalam hati. Tunggulah sampai kapan?
Tanganku mengelus peti Yoo Ara. “Sebuah benda akan terus-terusan berbau seperti pemiliknya, terasa seperti pemiliknya. Dan aku ingin laut akan terasa sepertiku. Jadi saat orang pergi kesana, ia akan ingat padaku.”
“Yoo Ara, sudahkah aku bilang bahwa aku mencintaimu?”
An ocean without you will live just as tears.

FIN.

Comments

Post a Comment

Popular Posts