{fanfiction} ` her birthday. ☆
04/09/2013. dedicated to Anita Septyarini~~! yo, happy birthday, nigga! you are 14 now! hope you like the story!
<p.s: lagi krisis moneter nich, jadi hadiahnya ff deh :[>
her birthday.
(created by: aviamaulidina. do not plagiarize, guys!)
cast
anita septyarini as Son Minyeo
sweet, cute, kind. i think those words are enough to describe her.
jung daehyun
loves minyeo eversince he can remember.
not that OH-MY-GOD-OPPA-IM-YOUR-FANS.
a poor.
friends with yongguk, himchan, youngjae, jongup, zelo.
oh, and they hate suho + his fellas.
kim joonmyeon (suho)
fell for minyeo.
rich rich rich rich rich rich rich.
popular.
rich rich rich rich rich.
has 11 friends, who also hates daehyun + his fellas.
3 September 2013
Daehyun’s pov
“Hey, ulangtahunnya besok,” Yongguk meraup segenggam French fries jatah makan siangku seraya duduk di meja yang biasa aku, Youngjae, Himchan, Zelo, Jongup, dan dirinya tempati.
“Sial kau, hyung, itu milikku!” aku meninju lengannya.
Yongguk terkekeh berat, gummy smile-nya yang menyebalkan itu muncul. “Santai saja, man. Jangan sewot seperti itu.”
“Dia sedang panik, hyung,” Youngjae yang duduk
di hadapanku mengangkat bahu dan menyedot susu kotak miliknya. “Daedae belum punya
u—“
Aku cepat-cepat menggebrak meja (Youngjae
langsung menyemburkan susu di mulutnya karena kaget). “Keparat! Diamlah!”
desisku.
“Wow, wow, Guys,
ada apa ini?” Himchan datang dengan membawa nampan makan siang, kedua alisnya
terangkat. Berdiri di belakang Himchan hyung, duo termuda di antara kami
(Jongup dan Zelo) sedang melempari satu sama lain dengan potongan sandwich.
Aku menggeleng dan memalingkan wajah.
Setan-setan itu… apa mereka tidak tahu aku sedang pusing setengah mati? Dan aku
benar-benar pusing seperti benar-benar
pusing dengan font miring. Jung
Daehyun tidak pernah sepusing ini walaupun ribuan rumus Matematika
berputar-putar di kepalanya.
Mengedarkan pandangan, aku tidak butuh banyak
waktu untuk menemukan sosok gadis yang sedang duduk di antara teman-temannya. Ia
terlihat menarik, sungguh, walaupun entah berapa meja yang memisahkan kami.
Tanpa sadar, aku terus menerus memperhatikan Son
Minyeo. Ya, namanya Son Minyeo
(minyeo: cantik). Dan dia benar-benar cantik seperti namanya. Aku menyukai
bagaimana caranya tertawa, tersenyum, caranya berbicara… Entahlah, sesuatu yang
hangat mengaliri hatiku setiap kali aku melihatnya—
Uh, stop Daehyun, kau mulai melantur lagi.
Tapi tatapanku berubah tajam saat melihat
sekelompok laki-laki mendekat ke meja Minyeo. What the hell?! Suho, Si Kaya itu, dan komplotan brengseknya, untuk
apa mereka dekat-dekat dengan gadisku?
Calon gadisku di masa depan, jika harus
kukoreksi.
Aku bangkit dari meja dengan amarah, tapi
tangan Yongguk langsung menahan bahuku.
“Kau mau apa? Cari ribut dengan kawanan orang
kaya?”
“Lepaskan.”
“Jangan konyol, Dae. Kau bisa dikeluaran dari
sekolah, dan itu lebih buruk daripada tidak punya uang untuk membeli kado,”
Youngjae ikut bangkit.
Mulutku membuka. Keparat itu, Youngjae, beraninya
dia membocorkan rahasia—
“Hahahahahahahahahhahaha!”
Sialan. Aku memutar mata seiring dengan
pecahnya tawa Yongguk, Jongup, Zelo, dan yang paling keras, Himchan.
“Daedae tidak punya uang untuk membeli kado!”
“Pantas saja suasana hatinya sedang buruk!”
“Sudah kubilang, jangan gila! Kau ingin punya
masalah dengan orang kaya, sedangkan dirimu saja benar-benar miskin!”
“Sayangnya, kau dan orang kaya itu menyukai
gadis yang sama. Siapakah yang akan menang?”
“TENTU SAJA SI KAYA! HAHAHAHAHA!”
Oh betapa aku ingin mencekik leher teman-teman
idiotku.
***
Minyeo’s pov
Suho tersenyum menawan. Ia membersihkan
tenggorokannya sebelum berkata, “Jadi… besok kau ulangtahun. Maukah kau pergi
bersamaku? Dan yang lainnya, tentu saja. Kami akan merayakan ulangtahunmu di—“
“Hahahahahahahahahhahaha!”
Tawa itu mengalihkan perhatianku dari Suho.
Malah, tawa super kencang itu mengalihkan semua
perhatian murid-murid yang sedang berada di kafe. Semuanya menoleh, dan
mendapati keributan tersebut berasal dari meja Yongguk beserta kawan-kawannya.
Mereka berenam sedang tertawa, yah, tidak
berenam sih, hanya berempat, karena Daehyun sedang menunduk dan Youngjae terlihat
nyengir bersalah. Yongguk berdiri di samping Daehyun dengan tangan berada di
bahu Dae, Youngjae berdiri di seberang mereka berdua, sedang Himchan, Jongup,
dan Zelo duduk dengan tawa berkelanjutan.
“Dasar berandalan kampungan. Tak tahu malu,” aku
dapat mendengar geraman Suho dan beberapa temannya.
Namun aku malah tersenyum kecil. Anak-anak di
meja itu terlihat bahagia sekali.
Aku tetap memperhatikan mereka. Setelah
beberapa menir kemudian, Daehyun pelan-pelan mengangkat kepalanya. Semburat
merah muncul di pipi lelaki itu.
Tunggu.
Apa aku salah lihat?
Matanya berkaca-kaca.
Ia mengibaskan tangan Yongguk dan berjalan kaku
menuju ke luar kafetaria. Yongguk dan yang lainnya berpandangan. Kelimanya baru
akan menyusul Daehyun saat aku berjalan dan mencegat mereka.
“Apa yang terjadi padanya? Boleh aku yang
menemuinya?” aku tidak tahu, tapi rasanya aku ingin menenangkan Daehyun, walau
entah apa yang terjadi padanya.
Himchan nyengir lebar dan menyikut Youngjae. “Rupanya
Daehyun beruntung.” Melihat tatapan heranku, ia segera meralat, “Oh, maksudku, silahkan
saja. Itu akan lebih baik. Dan, sebaiknya kau hati-hati pada Suho, orang kaya
itu terlihat akan meledak.”
Aku mengerling ke arah Suho. Benar saja, ia
terlihat dongkol. Aish, permusuhan antara Kelompok Suho dengan Kelompok Yongguk
selalu membuatku bingung ~_~
Aku memberi tanda ‘Ok’ dengan gerakan tangan
pada Suho sebagai jawaban atas ajakannya tadi dan segera menyusul Daehyun.
Kemana
perginya ia? batinku, tepat
saat aku terjatuh dan menimpa seseorang.
Orang itu tidak lain adalah Daehyun. Dengan
wajah merah seperti kepiting rebus. Serta dua aliran sungai di masing-masing
pipinya. Aku dapat melihat wajahnya tapi ia tidak dapat melihat wajahku.
Aku cepat-cepat berdiri dan membungkuk 90°. “M-maaf! Kau tidak apa-apa?”
Dia menggeleng lalu berdiri. Kepalanya ditundukkan.
“Kenapa kau menangis?”
Daehyun menengadah sedikit. Saat melihat
wajahku, dia menegakkan kepalanya dan tergagap. “A- Son- A- Ah-“
Tawaku melompat dari mulut. “Son Minyeo. Bukankah
kita sudah sering satu kelas di pelajaran Seni dan yang lainya?”
“Y-ya, aku tahu,” ia menghindari tatapanku. “Kau…
besok…?”
“Ulangtahun?” aku menyeringai. Hari ini
semuanya selalu bertanya seputar ulangtahunku. Apakah aku begitu spesial? Hahaha.
Ia tertawa pelan. “Aku baru saja akan
mengatakannya.”
Tapi percakapan kami terputus oleh bel masuk yang
sangat tidak bersahabat. Belum lagi, gerombolan lelaki yang mendekat ke arahku—siapa
lagi kalau bukan Suho dan teman-temannya.
“Uh, dah, Daehyun! Jangan lupa memberiku kado!”
seruku, cepat-cepat pergi.
***
Author’s pov
Sepulang sekolah, Daehyun mencari-cari uangnya
yang tersisa. Uangnya—yang tidak seberapa. Termasuk uang tabungannya.
Tepat jam 8 malam, ia baru selesai mengumpulkan
seluruh uang miliknya. Ia langsung memacu langkah menuju pertokoan dan bersusah
payah mencari kado.
Dompet, dompet, baju, kalung, anting, kalung…
Demi
Tuhan, apa yang harus kubeli? Pikirnya
panik. Daehyun mengacak-acak rambut. Semua itu terlalu mahal—
Boneka.
Sebuah boneka beruang berwarna biru di etalase
toko menarik perhatiannya. Tanpa pikir panjang, ia masuk ke toko tersebut.
“Aku. Beli. Yang. Ini,” katanya dengan
kehabisan napas. “B-bisakah. Sekalian. Di-b-bungkus. Dengan. Kertas. K-kado?”
Si kasir toko melihatnya dengan terkikik. “Benahi
napasmu dulu, Tuan. Ya, tentu saja. Apa ini untuk pacarmu?”
“Bukan!!! Ah, b- ah, umm, aisssh, semacam
itulah.” Gerutu Daehyun, membantingkan uangnya di meja kasir.
***
4
September 2013
Hari ini sekolah libur. Ini sangat menguntungkan bagi Daehyun, karena ia dapat menghabiskan waktu dengan Minyeo berdua, tanpa diganggu oleh murid lain seperti di sekolah.
Atau, kira-kira begitulah perkiraannya.
Daehyun mandi pagi sekali, ia memakai lebih
banyak sabun dari biasanya. Dae menata rambut rapi-rapi, bahkan menggunakan gel yang biasanya ia benci.
Keluar dari kamar mandi, lelaki muda itu berkutat
di depan lemari, mencari pakaian yang paling bagus. Akhirnya ia memutuskan
untuk memakai kemeja putih dengan garis hitam tak beraturan di bagian kancing, celana
biru tua (tidak dapat menemukan yang hitam, atau mungkin sebenarnya dia memang
tidak punya), dan ikat pinggang hitam-cokelat. Tak lupa ia menyemprotkan
parfumnya yang hampir habis.
Senyum riang tergambar di bibir Daehyun,
seiring dengan ia mengambil bungkusan kado untuk Minyeo dan melangkah keluar
rumah.
Daehyun hapal dimana rumah Minyeo berada. Dia
selalu pergi kesana hanya untuk melihat Minyeo yang kadang-kadang melongokkan
kepala ke luar jendela.
Mengambil napas dalam-dalam, Daehyun memegang
erat bungkusan kado dan berlatih menyanyikan lagu ulangtahun.
“Kau mau kemana, Anak Muda?” tanya penjaga
rumah Minyeo, menghalangi jalan Daehyun.
“Ah, selamat pagi, Ahjussi. Aku Jung Daehyun,
teman sekolah Minyeo. Aku kesini untuk menemui Minyeo,” Daehyun membungkuk
sopan.
“Nona Minyeo?” penjaga itu mengangguk-angguk. “Sayang
sekali Tuan Daehyun, tapi tadi dia baru saja keluar bersama Tuan Suho dan
kawan-kawannya…”
***
Minyeo’s pov
Aku menguap. Sudah jam sembilan malam,
sebaiknya kami segera pulang atau aku akan tertidur sekarang juga.
“Oppaa,” panggilku.
“Ada apa, Minyeo? Apa ada yang kau butuhkan?”
Suho menoleh dan berjalan ke arahku.
Aku, Suho, dan kesebelas temannya sedang berada
di sebuah restoran yang Suho sewa untuk merayakan ulangtahunku.
“Aku ingin pulang,” ujarku sesopan mungkin.
“Pulang? Baiklah…” ia mengangkat bahu. “Oi, ayo
kita pulang! Minyeo sudah mengantuk!”
“Biarkan saja hyung, bukankah kita bisa
menculiknya saat dia tidur?” Kai tersenyum jahil.
“Bocah ini benar-benar seorang byuntae,” Kris
mendorong kepala Kai dan melangkah keluar restoran. “Ayo semuanya, turuti kata
Suho dan gadisnya.”
Uh. Mereka semua selalu menyebutku ‘gadis
Suho’. Sedangkan aku hanya menganggap Suho sebagai kakak.
Satu per satu, teman-teman Suho oppa beranjak
menuju pintu. Kami mengendarai dua mobil—tujuh orang di mobil Suho (termasuk
aku) dan enam lainnya di mobil Kris.
“Aku akan mengantarmu sampai rumah,” Suho, di
bangku sopir, bersikeras.
“Tidak usah, oppa. Aku akan baik-baik saja,
lagipula rumahku hanya tinggal satu belokan lagi,” tolakku kembali.
“Aku tetap akan mengantarmu.”
“Tidak tidak tidak.”
Suho terlihat sedikit kesal. “Baiklah.
Hati-hati di jalan. Kalau terjadi sesuatu hubungi aku.”
“Yak! Kau berlebihan,” seruku tertawa. Aku
membuka pintu dan turun.
Kumpulan lelaki di mobil membuka jendela,
tangan mereka melambai. “Selamat ulangtahun! Sampai ketemu besok, Minyeo!”
Aku tersenyum. “Ya, terimakasih untuk hari
ini!”
Kedua mobil pun melaju sementara aku berjalan
sendiri ke arah rumah.
Kulihat Kwangsoo, penjaga rumahku, tertidur di
posnya. Aku menggelengkan kepala dan menggoyang-goyangkan tubuh beliau.
“Ahjussi~~~! Kwangsoo Ahjussi~~~~~~!”
Bagaikan melihat hantu, Kwangsoo Ahjussi bangun
dengan terperanjat.
“Kwang—Daehyun?!”
Itu bukan Kwangsoo Ahjussi sama sekali. Itu
Jung Daehyun.
Jika kemarin aku melihat Daehyun dalam keadaan
menyedihkan, sekarang keadaannya dua kali lebih parah. Dengan mata merah sembab
serta wajah kusut yang penuh amarah, ia menatapku.
“Kenapa kau disini? Dan ada apa denganmu?”
tanyaku heran.
Tanpa jawaban, Daehyun menyerahkan sebuah
bungkusan, lalu melangkah pergi.
Aku berbalik, menghadap ke arahnya berjalan. “Ini
untukku? Terima—“
“Maaf aku tidak bisa memberikan hadiah yang
lebih baik daripada yang Suho berikan,” ucapnya dingin. Tangannya menepis
udara.
“Suho? Ada apa dengan—“
Daehyun tak berhenti berjalan. “Setidaknya,
hargailah benda dariku, oke? Aku- aku- seluruh uangku habis untuk membeli benda
itu. Walau tetap saja, itu tidak sebanding dengan kado dari Suho.”
Apa? Apa dia cemburu dengan Suho?
Apa dia menyukaiku?
Apa katanya tadi? ‘Seluruh uangku habis untuk
membeli benda itu’?
Aku tidak pernah dekat dengan Daehyun
sebelumnya, tapi sekarang aku berlari kearahnya dan memeluknya dari belakang.
“Jung Daehyun, terimakasih. Tidak peduli
seberapa mahal hadiah yang Suho berikan, hadiah darimu juga berharga—sangat
berharga.”
Kurasakan otot Daehyun menegang.
“A-“ suaranya bergetar. “A- Son- A-“
“Son Minyeo,” aku menyambung ucapannya cepat.
“S-Son Minyeo, selamat ulangtahun…”
fin


Comments
Post a Comment