{fanfiction} don't judge a book by its cover (judging is a serious thing, kyungsoo!)
Summary
“Jangan nilai sebuah buku berdasarkan sampulnya, Kyungsoo.” Biasanya, Kyungsoo
menolak mentah-mentah pepatah tersebut.
Cast
Do Kyungsoo
Jung Soojung
Kim Jongin
Etc.
“Hey, Kyungie-Kyunger! Kau sudah
dengar berita hangat pagi ini, belum?” sebuah lengan panjang tiba-tiba
merangkul pundak Kyungsoo—membuat buku yang sedang dibacanya hampir terjatuh.
Bola mata Kyungsoo berputar tiga
ratus enam puluh derajat. Si Brengsek Jongin, harus berapa kali ia katakan
padanya, bahwa panggilan ‘Kyungie-Kyunger’ itu sangat menjijikkan? Dan
sepertinya Berandalan itu lupa, kalau Kyungsoo benci dirangkul seperti anak
kecil.
Entahlah, harusnya Kyungsoo
daritadi menghindar saat melihat Jongin sudah menunggu di depan gerbang
sekolah. Seringai jahil, kemeja berantakan, jas seragam kusut, dan syal
awut-awutan yang sejak hari pertama Musim Dingin bertengger di leher Jongin
benar-benar mencerminkan kepribadiannya. Bahkan, dalam radius lima ratus meter
sebelum mencapai gerbang sekolah, Kyungsoo dapat mengidentifikasikan wujud
sahabat sekaligus orang yang ia benci itu.
“Kyungie-Kyunger! Kau
mendengarkan aku tidak? Jadi, ada gadis ini, dia...”
Kyungsoo menghembuskan napas
dengan jengah, diam-diam berharap dirinya dapat mengambil bongkahan salju yang
melapisi tanah lalu menyumbatkannya ke telinga. Terkadang ia sendiri bingung,
akan jadi apa Jongin setelah lulus SMA nanti? Yang dipikirkan si bocah bermarga
Kim hanyalah gadis-gadis cantik serta cara untuk membolos pelajaran. Tsk, sangat berlawanan dengannya.
“Kau benar-benar tidak
mendengarkanku, ya?” Jongin menggoyangkan bahu kiri Kyungsoo, membuat buku yang
dipegangnya benar-benar jatuh kali ini.
Memungut bukunya yang kini basah
oleh salju cair, Kyungsoo memutuskan untuk meninggalkan Jongin dan memandu
jalan menuju kelas sendirian.
“Hey, hey, Kyungie-Kyunger! Yah,
Kyungie-Kyunger, tunggu aku! Kyungie-LittleKyungKyung-Doraemonnie-Kyunger!”
***
Pelajaran pertama baru akan
dimulai lima belas menit lagi—kau dapat membayangkan betapa riuhnya kelas
berisi kumpulan remaja hiperaktif tanpa pengawasan guru.
Sementara itu, Kyungsoo duduk dengan
tenang di bangkunya yang berada di sudut depan ruangan kelas. Setidaknya, sebelah kiriku adalah jendela,
batinnya, memandangi kaca berkabut yang menampilkan halaman sekolah penuh salju
beserta pohon-pohon cemara yang memutih.
“...benar sekali! Aku sudah
memprediksikannya, Arsenal akan menang dalam pertandingan kemarin!”
Kyungsoo cemberut. Suara konyol
Jongin masih jelas terdengar dari sisi kanan bangkunya.
“W-whoa! Hey, Teman-teman, lihat
yang berjalan di halaman itu! Si murid baru bersama Joonmyeon!” seru Chanyeol
tiba-tiba, sontak membuat seisi kelas berlomba-lomba menuju ke arah jendela.
“Waaah.”
“Cantik.”
“Waktu itu kau menyebutkan
namanya, kan?”
“Ia pacaran dengan Joonmyeon
Pendek itu?”
“Hah? Apa kau bilang? Goo Seojoong?”
“Sial, Joonmyeon mendahuluiku!”
“Aku yakin namanya Jung Soju!”
“Kabarnya gadis itu pindahan dari
California.”
“Bukan California! San Francisco!”
San Francisco itu bagian dari California, Bodoh, gumam Kyungsoo
dalam hati—sama sekali tidak tertarik untuk berdesak-desakkan di jendela. Malah,
Kyungsoo merutuki Jongin yang menggencetnya demi menempelkan wajah disana.
Kris Wufan, sang ketua kelas yang
termasuk ke dalam daftar salah satu dari sedikit orang yang Kyungsoo sukai (ia
merupakan satu-satunya orang yang tetap diam di kursinya selain Kyungsoo),
berdehem. “Kembali duduk, kalian semua. Kabarnya gadis yang kalian idam-idamkan
itu adalah anggota baru kelas kita, jadi tunggu dengan sabar dan diamlah!”
Gegap gempita kelas perlahan
mereda, walau tetap saja ramai. Dan ketika keadaan kelas mulai normal—dan
ketika Jongin berhenti membuat Kyungsoo menghirup bau badannya—mata Kyungsoo
melirik ke luar jendela.
Gadis yang lima menit lalu
disebut-sebut oleh seisi kelas masih ada di halaman, sibuk berjalan dengan
angkuh menuju ke arah bangunan sekolah. Sepatu botnya menggilas salju laksana
seorang diktator, mematahkan beberapa ranting cemara yang berserakan. Jaket
Adidas-nya—hitam-merah-biru-putih—sedang dirapatkan pada tubuh ramping
tersebut. Rasa tidak suka Kyungsoo langsung bertambah begitu melihat kacamata
hitam yang menutupi kedua mata si gadis. Cih.
Gadis itu tunanetra atau seorang yang benar-benar dungu serta sombong? Ini
Musim Dingin, matahari bahkan tak mau menampakkan diri! Untuk apa memakai
kacamata hitam?
“Akhirnya kau mau melihatnya juga,
Kyungie-Kyunger. Dia yang kubicarakan tadi pagi! Bagaimana? Cocok denganku,
kan?” bisik Jongin, mencondongkan tubuhnya.
Do Kyungsoo mendorong jauh-jauh
tubuh Jongin. Katanya sambil mengerutkan dahi, “Apa yang kau lihat darinya?
Bagiku, dia seperti Ratu Es dari San Francisco yang angkuh. Membuatku muak.”
Jongin memprotes, “Yah,
Kyungie-Kyunger! Seperti kata pepatah, jangan lihat buku dari sampulnya!”
“Pepatah itu konyol. Menurutku,
sifat seseorang selalu tercetak jelas dalam penampilannya,” bantah Kyungsoo
cuek.
Lelaki yang lebih tinggi tidak
terima. “Kau, kan, tidak mempunyai bukti!”
“Aku punya banyak bukti.”
“Sebutkan!”
“Kau, Kris, Chanyeol, Baekhyun, Chen.
Termasuk Joonmyeon dan beberapa anak kelas sebelah lainnya. Itu semua adalah
bukti.”
“Aku? Memangnya aku kenapa?” tanya Jongin, alisnya terangkat tinggi-tinggi.
“Penampilan luar dan sikapmu...
begitu sesuai. Tipikal lelaki bobrok yang akan mati muda hanya karena berkelahi
memperebutkan seorang gadis,” Kyungsoo menjawab dengan tenang dan datar.
“YAH!!! Aku tidak sehina itu,
Keparat Kecil Penghuni Perpustakaan! KyungKyung-DoubleKyungiersoo-Sialan!”
“Berisik.”
***
Goo Seojoong, atau Jung Soju
(untuk sekarang, hanya ia dan Tuhan-lah yang tahu pasti siapa namanya) datang
pada jam pelajaran kedua. Sebelum melangkah melewati pintu kelas, gadis
tersebut menepuk-nepuk jaketnya—berusaha menghilangkan debu, serpihan salju,
atau apalah yang melekat disana. Tapi gerakan kecil saja dapat membuat Kyungsoo
dongkol setengah mati—contohnya gerakan itu tadi.
Sombong sekali. Aku yakin perkenalannya akan berlangsung singkat dan
arogan. Jangan lupa tambahkan adegan menaikkan kaki ke atas meja, seperti dalam
drama murahan di TV. Tatapan Kyungsoo beralih pada benda tebal di mejanya. Apa ia pernah menyentuh, bahkan membaca
buku? Pikirnya seraya meraba tekstur buku tersebut. Tulisan ‘BERMUDA’ tercetak rapi menggunakan tinta
emas, tampak kontras dengan sampul biru tua sewarna palung dasar laut yang dihiasi
corak rumit segitiga yang samar-samar terlihat. ‘BERMUDA’ merupakan salah satu buku favorit Kyungsoo—buku yang ia
baca sejak tadi pagi. Buku yang, sampul dan isinya, begitu mengesankan. Meskipun
sudah seratus dua puluh tiga kali buku itu dibacanya, namun Kyungsoo tetap
terkagum pada ekspedisi menjelajah Segitiga Bermuda yang benar-benar dilakukan
oleh sang penulis buku.
Tenggelam dalam pikirannya
sendiri, Kyungsoo sampai tak memperhatikan sewaktu si gadis baru memperkenalkan
diri di depan kelas. Oh, dan kacamata hitamnya sudah dilepas.
“Annyeonghaseyo! Namaku Jung Soojung—”
“Ha! Jung Soojung, Kawan-kawan!
Bukan Goo Soju atau semacamnya!” celutuk Baekhyun, menyela perkenalan Soojung.
Soojung hanya tersenyum sopan.
“Pssh! Kyungsoo, lihat itu! Dia menawan, lagi baik hati! Apa
kubilang! Tunggu, sepertinya barusan aku menyebutmu ‘Kyungsoo’... Maksudku,
Kyungie-Kyunger!” desis Jongin bersemangat. Bangkunya berdecit-decit aneh.
Kyungsoo mengerjapkan mata,
tersadar dari lamunan tentang Segitiga Bermuda. “Apa? Barusan kau bilang apa?”
Giliran Jongin yang tak
mendengar. Ia asyik menggigiti bibir, sudah terlampau ingin menjabat tangan
Soojung lalu bertukar nomer ponsel.
“Anak-anak, mohon tenang. Kim
Jongin, berhenti mencoba menghancurkan mejamu. Do Kyungsoo, bisakah kau
memperhatikan kesini sebentar? Byun Baekhyun, tolong tutup mulut selama dua
menit saja. Itu termasuk teguran untukmu juga, Jongin!” Guru Kang berseru.
“Nah, Nona Jung, silahkan ulangi kalimatmu.”
Kyungsoo mendengus. Di hari
pertama ‘Ratu Es Angkuh dari San Francisco’ masuk ke SMA-nya, rupanya Yang Mulia telah membuat seorang Murid
Teladan ditegur oleh guru. Sial—
“Annyeonghaseyo, namaku Jung Soojung. Aku baru saja kembali ke Seoul
setelah dua belas tahun tinggal di San Francisco, California. Kuharap kita
semua dapat bekerja sama dengan baik. Mohon bantuannya, Teman-teman Sekalian!”
—... Wow. Kyungsoo tidak tahu perkenalan Ratu Es dari San Francisco
akan sesopan dan seramah tadi. Belum lagi, gerakan membungkuk yang dilakukannya
terlihat sangat tulus. Juga saat Yang Mulia, ehm, Soojung, melempar senyum manis ke seisi ruangan...
Rahang Kyungsoo jatuh dibuatnya!
Tidak, tidak, tidak. Dia tetap Ratu Es dari San Francisco yang lebih
buruk dari Adolf Hitler, Kyungsoo meyakinkan dirinya sendiri, cepat-cepat
memasang ekspresi datar.
“Aku melihat kau menganga, lho.
Aku melihatnya, Kyungie,” goda Jongin. “Membuatku
muak,” tirunya, berusaha menutupi kekeh yang keluar.
Kata Kyungsoo dingin, “Dia masih
membuatku muak.”
“Ayolah, man. Dia buatmu, deh. Sepertinya kalian cocok—” Jeda. Jongin
melirik Soojung dan Kyungsoo bergantian. “—sedikit.”
“Tutup mulut besarmu. Dia tetap
arogan serta angkuh di mataku.”
Oh ya? Jongin menyeringai. Ia gatal ingin membuktikan pada Kyungsoo
bahwa pepatah itu benar. Bahwa Soojung tidaklah seburuk yang Kyungsoo katakan. Bahwa aku bukan lelaki bobrok yang akan mati
muda! (yang ini lebih ke pembelaan harga diri, sih). Pokoknya, Kyungsoo
tidak berhak menilai seseorang hanya berdasarkan penampilan.
“Soojung, kau bisa duduk di...” hening
sementara guru Kang mencari kursi yang kosong di antara murid didikannya. “Ah,
sebelah Jongdae. Jongdae, tolong sambut teman sebangkumu dengan baik.”
“A—guru Kang!” secepat mungkin,
Jongin berdiri, mengangkat tangan dengan seringai canggung.
“Ada apa, Jongin?”
“Uhh, bolehkah aku bertukar
tempat dengan Soojung?”—melihat Jongdae yang hendak membuka mulut untuk protes,
Jongin segera mengirimkannya tatapan nanti-kujelaskan—“Yah, kupikir akan lebih
bagus jika Soojung duduk di sebelah Kyungsoo—maksudku, bukankah Kyungsoo itu
murid yang teladan? Barangkali Soojung bisa menjadikannya panutan.”
HEY, APA-APAAN? KIM JONGIN, MATILAH KAU DI BERMUDA! Dahi Kyungsoo
terlipat, alisnya menyatu sedang tanpa sadar bibirnya maju beberapa mili.
Lama sekali guru Kang menatap
Jongin, dari atas kepala hingga ujung kaki—memastikan tak ada rencana jahat
terselubung. Yang ditatap buru-buru menambahkan, “Dan, kalau-kalau guru lupa,
Jongdaedae—ehm, maksudku Jongdae—adalah raja troll sekolah! Bayangkan apa yang akan diperbuatnya pada Soojung!”
Jongdaedae-Troll-Chennie, maafkan aku. Jongdaedae-Troll-Chennie, jangan
marah. Jongdaedae-Troll-Chennie, tolong simpan semua lelucon/jebakan
Batman/permainan kecilmu dalam saku dan jangan jadikan aku sasaran. Aku akan
menjelaskannya nanti nanti nanti nantiiii, oke? Jongin mencoba bertelepati dengan
Jongdae.
Guru Kang mengganggu sambungan
telepati Jongin dengan berkata, “Baik, baik. Lakukan apa yang kau mau, Jongin. Soojung,
sepertinya kau memang harus duduk di sebelah Kyungsoo.”
“Arasseo, guru Kang,” angguk Soojung.
Selagi Jongin sibuk memasukkan
barang-barangnya ke dalam tas—ia pura-pura tidak melihat tatapan laser Kyungsoo
yang dapat membunuhnya—dan berpindah habitat ke sebelah Jongdae, Soojung mulai
melangkah menuju bangku yang sebelumnya didiami Jongin.
Langkah pertama...
Angkuh, desis Kyungsoo tanpa suara.
Langkah kedua...
Oh, hai Yang Mulia.
Langkah ketiga...
Tsk. Lihat wajahnya.
Langkah terakhir...
Tunggu sampai dia merasa jijik untuk du—
“Hey, apa itu ‘BERMUDA’?” mulut
Kyungsoo berkata tanpa dikomando. Terperangah.
Karena, tepat sebelum Soojung
duduk di sampingnya, gadis itu mengeluarkan sebuah buku dari balik jaket dan
meletakkannya—tanpa sadar—di sebelah buku yang sama persis.
Dua buku ‘BERMUDA’. Yang baru
saja diletakkan tampak lebih kumal, bagaikan sudah dibaca beribu-ribu kali,
jauh melebihi buku Kyungsoo yang baru saja kelipatan seratus.
“Kau mempunyainya juga?” Soojung
menelengkan kepala sambil tersenyum penuh minat.
“Y-ya, itu... um, buku
kesukaanku,” Kyungsoo merutuki kegagapannya. Selama sedetik, ia bingung apa
yang harus ia katakan sampai ia melihat Jongin melambai kepadanya dari sisi
lain kelas dan berkata dengan gerakan bibir, ‘Kenalkan namamu!’.
“Do Kyungsoo,” gumam Kyungsoo pendek—berusaha
kelihatan tidak terlalu tertarik ataupun salah tingkah. Tangannya terulur.
Cengiran kecil muncul di wajah
Soojung yang hampir sempurna, “Kau pasti sudah tahu namaku.” Lalu dijabatnya
tangan lelaki yang akan menjadi teman sebangkunya itu.
Aliran listrik seolah menyambar
tangan Kyungsoo. Tidak mungkin! Harusnya, harusnya, harusnya, tangan Soojung
dingin dan kaku! Dia Ratu Es dari San Francisco! Ratu Es! Tangannya tidak boleh sehangat tadi!
Soojung melepas jaket dan duduk
di bangkunya, yang menurut Kyungsoo, gerakannya sangat anggun namun tetap
sedikit angkuh (Kyungsoo benar-benar keras kepala soal ‘angkuh’ ini). “Jadi,
kau juga menyukai buku karangan kakakku, eh?”
Kakakku?
Jongin, yang sedari tadi menajamkan
telinga dan mendengar seluruh percakapan Kyungsoo dengan Soojung, berusaha
menahan semburan tawa. Sementara Jongdae, Chanyeol, serta Baekhyun—benar-benar,
si Jongin itu. Ia memberitahu ketiganya tentang penilaian Kyungsoo terhadap
Soojung dan betapa yakinnya ia bahwa Kyungsoo akan mempermalukan dirinya
sendiri!—sudah cekikikkan secara terang-terangan.
Tapi Kyungsoo tak mendengar semua
itu. Kyungsoo sedang terkena serangan
jantung, terkesima, dan merasa malu di saat yang bersamaan. Ia melirik nama
pengarang buku ‘BERMUDA’; Jessica J. tertulis
disana. Dalam buku tersebut pula, diceritakan bahwa Jessica mempunyai adik
bernama Krystal yang sangat baik hati, menyenangkan, penurut, serta suka membaca
buku.
Tidak mungkin.
“Aku tahu kau pasti tak percaya. Di
luar negeri, kami memakai nama lain. Kakakku, Jung Soyeon, alias Jessica Jung. Dan
aku, Jung Soojung, sebagai Krystal Jung.”
Kyungsoo kehilangan kata-kata.
***
Epilog
“Hey, Kyungie-KyungKyung-UzumakiNaruto-Kyunger!”
sapa Jongin suatu pagi ketika Kyungsoo datang ke kelas bersama Soojung. Ia
melanjutkan dengan berbisik, “Kau sekarang percaya, kan, jangan nilai buku hanya dari sampulnya saja. Kini, kau malah menduakanku
dengannya. Huh, aku merasa dikhianati.”
Kyungsoo mengangkat alis,
ekspresinya tenang walau dalam hati ia membenarkan perkataan Jongin. Katanya, “Terserah.”
“Aku tahu kalian membicarakan
sesuatu yang ada sangkut pautnya denganku,” sahut Soojung, menggaruk kepalanya
yang tak gatal.
Jongin menyeringai. “Tapi, Kyungie-Kyunger,
Soojung-Kryssie-KrysKrys adalah kutubuku yang jauh lebih menyenangkan daripada dirimu,” Jongin menjulurkan lidah
dan merangkul Soojung.
“Uh. Kyungsoo, kau benar. Badan
Jongin bau.”
“HEH—WOI, APA KATAMU?! YAH!!! KYUNGIE-KYUNGER
PENGKHIANAT, PEMBOCOR RAHASIA BERMULUT BIG-SIZE!”
“Setidaknya, pendapatku tentangmu sepenuhnya benar,” ujar Kyungsoo
terhadap Jongin.
“Berandalan yang akan mati di umur
25,” sambung Soojung. “Gadis mana yang akan kau perebutkan, Jongin? Sepertinya gadis
itu malah akan menyelingkuhimu.”
“YAH! Aisssh, KALIAN BENAR-BENAR—”
Kemurkaan Jongin terpotong oleh
kedatangan Kris yang tiba-tiba. “Pembagian hasil ulangan Fisika,” umumnya
sembari memasuki kelas dengan gaya elegan. Chanyeol, Baekhyun, serta Chen
mengekor di belakang Kris, memegangi telinga mereka yang merah. Serpih salju
menempeli jas SMA keempat lelaki tersebut.
“Woah—guys! Ada apa dengan warna di indra pendengaran kalian?” Jongin
tertawa.
“Remaja berjiwa pria ini,”
Chanyeol menunjuk tengkuk Kris. “Kami dijewernya hingga kupingku pengang!”
“—hanya karena nilai Fisika kami
paling jelek di seluruh angkatan!” Baekhyun menghentakkan kaki, merajuk dengan
nada anak manja.
“Kita lihat saja permen karet
macam apa yang akan menempel di pantat Kris besok,” gumam Chen, nyengir
membayangkan rencana balas dendamnya.
Kyungsoo dan Kris memutar bola
mata mereka bersamaan, sementara Soojung menggelengkan kepala dan Jongin
meledak akan tawa.
“Hey, Kyungsoo! Kau belum lihat
saja nilai Fisikamu,” protes Baekhyun, dongkol akan gerakan memutar mata milik
Kyungsoo. “Nilai kita semua jelek! Itu sebabnya aku tidak terima kupingku yang
berharga dijewer olehnya!”
Kyungsoo mengerutkan dahi dan
memandang Kris, meminta kebenaran. Kris mengangkat bahu. “Begitulah,” ujarnya
singkat, tangannya memindahkan tumpukan kertas ke meja.
“Tapi tak kusangka Jongin akan
mendapat nilai sembilan puluh lima,” desis Chen iri.
“Ap-Apa?” Jongin menoleh ke arah
Chen, matanya berbinar. “AKU MENDAPATKAN NILAI SEMBILAN PULUH LIMA,
JONGDAEDAE-TROLL-CHENNIE? KYUNGIE-KYUNGER, APA KAU MENDENGARNYA?!”
“Pasti terjadi kesalahan. Atau,
kau menyontek ke buku,” komentar Kyungsoo, sama sekali tak terkejut.
Tumben sekali, kali ini Kris
membela Jongin, “Tidak, Kyungsoo. Tidak terjadi kesalahan. Aku melihat dengan
jelas Jongin mengerjakan ulangannya sendiri, dan sebelumnya ia minta diajari oleh
Luhan serta Xiumin di kelas sebelah. Aku tahu Jongin juga telah belajar
mati-matian di rumah. Aku tetangganya.”
Kris mengeluarkan selembar kertas
berisi tulisan Jongin—kentara sekali Jongin berkonsentrasi keras dalam ulangan dan
memegang pensilnya erat-erat, sampai guratannya menembus bagian belakang
kertas. Dan di sisi kanan atas kertas—yang membuat Kyungsoo mengucek mata,
yakin ia salah lihat—terdapat angka 95 dengan pulpen biru.
Sinar matahari laksana ditumpahkan
ke wajah Jongin (meskipun seharusnya di Musim Dingin tidak ada matahari). Ia
bersorak dan memeluk Kris, “Aku tahu itu, Kris-AngryBirdie-ColdMan-Kevin-WuWu! Aku
tahu pada akhirnya kau akan mengakuiku sebagai tetanggamu! Aku tahu itu!”
2 - 0. Kyungsoo kalah telak
melawan Jongin.
“KYUNGIE SI PENGKHIANAT BERMATA
SEPERTI PIRING TERBANG! LIHAT, NILAI ULANGANKU SEMBILAN PULUH LIMA, DAN KALAU
BOLEH JUJUR, AKU BELAJAR SETIAP HARI DI RUMAH. HA!”
“Jangan nilai sebuah buku berdasarkan sampulnya, Dwarfie-Lil’Kyungie-KyungerRainbow.”
Biasanya, Kyungsoo menolak
mentah-mentah pepatah tersebut.




wanjir hahahaha lanjut lah vi bikin sequel nya /puppy eyes/
ReplyDelete