one sunny day. —a short story






            Dakota tidak tahu kenapa dia selalu berakhir di London Adventure Island.
            Sendirian.

Mungkin seharusnya dia mengajak seseorang untuk menemaninya. Alison, atau Brooklynn, atau Jamie dengan kumpulan gengnya yang berisi cowok-cowok sinting. Tapi dia tidak pernah ingat untuk mengajak salah satu dari mereka.
Dakota mendengus dan melempar rambut ikalnya ke belakang bahu setelah menjalinnya menjadi gumpalan rumit. Ia membenahi letak beanie-nya dan meluruskan tulang punggung. Sekarang, karena ia telah masuk ke dalam tempat ini, ia harus bersenang-senang.
Tapi...
“Uh, bisakah aku muntah?” gumam Dakota, melihat satu per satu wahana dengan jenuh. Rasanya ia sudah terlalu sering menaiki wahana-wahana itu.
Well, sebaiknya aku makan es krim saja.
Es krim selalu membuat mood-nya bagus. Satu cone es krim Oreo dengan namanya yang ditulis menggunakan coklat leleh – itu yang dia butuhkan. Mm.
Jadi, Dakota melangkah menuju stan es krim favoritnya bersamaan dengan seorang pemuda yang juga sedang melangkah kesana sambil menggenggam seorang lelaki kecil. Mereka memesan es krim yang sama, dan Dakota tersenyum sopan pada keduanya.
“Namamu?” tanya wanita penjual es krim.
“Dakota.”
“Smith.”
Dakota menoleh dan tertawa bersama si pemuda yang mengucapkan nama bersamaan dengannya. Ia membungkuk lalu mengacak rambut lelaki kecil berumur kira-kira lima tahun yang berada di sebelah pemuda tersebut.
“Senang berkenalan denganmu, Dakota,” kata si pemuda. Lengkap dengan senyum jenaka yang mencapai mata abu-abu teduhnya.
Dakota meringis. “Well, kalau itu bisa disebut dengan ‘berkenalan’... Senang berkenalan denganmu juga, Smith. Uh, yang mana...?” ia menelengkan kepalanya dengan tatapan bertanya.
“Pangeran cilik ini yang bernama Smith,” jawab pemuda itu, menunjuk ke arah si anak lelaki dengan dagunya. Ia kemudian mengulurkan tangan kirinya yang tidak menggenggam tangan Smith. “Tim. Timothy Christopher Danté, kurasa. Tapi aku lebih suka tidak diingatkan dengan nama panjangku.”
Dakota mengambil es krim Oreo bertuliskan ‘Dakota’ yang sudah disodorkan si wanita penjual es krim terlebih dahulu sebelum balas menjabat tangan Tim. “Dakota. Dakota Emma Clarkson. Sayangnya, aku tidak bisa memendekkan namaku sepertimu. Tapi aku suka nama panjangku.”
Keduanya tertawa singkat. Sementara itu, Smith berusaha meraih es krimnya dari tangan wanita penjual es krim yang menjulang lima puluh senti di atasnya.
“Jadi... Smith itu adikmu?” tanya Dakota ragu-ragu.
Smith memberi mereka tatapan hey-tolong-ambilkan-eskrimku.
Tim menoleh dan menyadari tatapan Smith. “Yeah,” jawabnya pada Dakota seraya mengambilkan es krim milik Smith. “Aku tidak kelihatan seperti seorang ayah, kan...” jeda sebentar. “...Lady Dakota?”
Jilatan Dakota pada es krimnya terhenti. “Lady apa? Oh, ya ampun. Tidak, tidak, tidak. Aku tidak sedang menganggapmu menggodaku di pertemuan pertama kita dan di depan adikmu. Kau tidak, kan? Tidak, Keparat.” Dan Lady Dakota? Hell, jelek sekali.
“Dan kau mendampratku di depan adikku? Dalam pertemuan pertama kita? Kau memberi contoh tidak baik bagi anak tak berdosa, dasar jahat. Aku benci gadis jahat,” Tim menyeringai.
“Duh? Kau hanya sedang mencoba mengelak, Sir Timothy.” Sir Timothy! Dakota tertawa dalam hati. Lady Dakota tidak ada apa-apanya dibanding Sir Timothy.
“Ha! Sir Timothy, katamu? Sekarang kau yang mencoba menggodaku. Kau pikir aku tertarik? Jangan gila.”
Tawa mereka berdua pun pecah.
“Kau menyenangkan, Dakota.”
“Kau juga, Tim,” sahut Dakota. Ia melirik ke arah Smith, yang bergerak-gerak tidak nyaman sambil memakan es krim. Smith menarik-narik kemeja Tim, menyuarakan kata “pulang” yang terdengar merengek dan memaksa.
Mengetahui situasi, Dakota mengangkat bahu. “Jadi? Sampai bertemu lagi?”
Tim melirik adiknya dan memperlihatkan tatapan kecewa sekilas. Tapi kemudian, keceriaannya kembali lagi. “Ya. Telpon aku, oke?”
“Oh sial – ada apa dengan gerakan mengedipkan mata itu?! Harusnya seorang gadis yang minta ditelpon.”
“Apa? Jadi kau minta ditelpon? Baiklah jika kau memaksa. Berapa nomer ponselmu?”
Nice try, dasar konyol.”
“Oh, ayolah, Dakota. Kau mau mempercepat proses ini tidak?”
“Baiklah. xxxxxxxxxx.”
“xxxxxxxxxx. Got it. Uhm... – ” Tim membungkuk sebentar dan membisikkan sesuatu yang terdengar seperti iya Smith, sebentar lagi ke telinga Smith,“ – yah, Smith harus segera pulang, kami sudah berada disini lebih dari setengah hari. Dah, Emma!”
“Dah, Timothy.”
...
Emma?
Maksudnya Dakota Emma Clarkson? Senyum kecil muncul di wajah Dakota. Ia menggelengkan kepalanya.
Nah, sekarang setelah Tim pergi, wahana apa yang harus ia naiki?
Juga, ingatkan Dakota untuk mengajak Tim dan Smith menemaninya ke London Adventure Island kapan-kapan.
***

Comments

Popular Posts