Desiree
“Aku tidak pernah benar-benar hidup.”
Stevan
melirik ke arah gadis di sebelahnya dengan terkejut. Gadis itu menoleh dan tersenyum—dia
selalu tersenyum. Namun apa yang ada di balik senyum itu, Stevan benar-benar
tidak tahu. Sama seperti perbincangan ini dan ribuan perbincangan mereka yang
lainnya: Stevan tak tahu menahu akan kemana arahnya, atau apa maksud di balik
kata penuh kiasan yang diucapkan si gadis. Satu
kata bisa menghasilkan seribu kata lain, Stevan masih ingat kalimat itu, masing-masing saling mempengaruhi dan
menghasut, tergantung bagaimana kau menafsirkannya.
“Sudahkah
aku bilang padamu kalau aku ini psikopat?” tanyanya, menelengkan kepala dan mencari
mata Stevan. Helai rambut hitamnya jatuh dengan lembut di antara leher,
sementara matanya yang coklat terasa begitu dalam dan jauh.
Stevan
menghela napas. “Aku tidak pernah benar-benar tahu sesuatu tentangmu, Dee. Dan
kau memang tidak pernah benar-benar hidup jika kau terus menjaga jarak dari
orang-orang di sekelilingmu.”
Tangan
Desiree terulur, mengacak rambut Stevan pelan. “Kau mengucapkan hal-hal aneh.”
“Dan
kau sendiri tidak pernah
memberitahuku makna hal-hal lebih aneh yang kau katakan,” gumam Stevan sambil
memejamkan mata. Ia merasa seperti anak kecil di hadapan Desiree, yang sebenarnya
seumuran dengannya, bahkan sedikit lebih mungil dibanding remaja perempuan lain—Desiree
yang terlihat seperti peri dengan kecantikannya yang halus.
“Dan,”
balas Desiree, matanya menari-nari, “hal aneh macam apa yang kukatakan?”[]


Comments
Post a Comment