Boys
Gue menghabiskan sekitar sepuluh menit untuk menulis kata sapaan yang tepat di sini, dan sekarang gue sudah memutuskan kata yang tepat untuk mengawalinya: hai.
Iya, cuma 'hai' doang. 'Hai' yang, kadang, bisa bikin baper setengah mati. Atau bisa bikin emosi, karena abis dibales 'haii jugaaa' taunya balesannya 'Bajak'. Emang minta dibakar.
Jadi, dude and dudettes (gila, emang luar biasa dampak nulis dude and dudettes, berasa makin swag), gue hadir kembali di blog ini. Bingung juga mau cerita apa. Bingung juga siapa yang mau baca.
Lah, kayaknya setiap gue bikin post baru di sini, gue nggak tahu mau cerita apa. Pada dasarnya blog ini sendiri bener-bener random, sampe dulu gue pernah ditanya sama Vida, "Kamu punya blog? Isinya apa? Banyak yang suka baca?" Gue cuma bisa nyengir rendah hati sambil bilang, "Eh, iya. Ah, ya gitu aja. Yang baca cuma temen-temen deket doang sih hehehehe." Terus siapa gitu di kelas juga pernah bilang, "Avia, blog lu kok isinya curhatan semua?" sambil ketawa laknat. Gue cuma bisa mengelus dada dan berucap sabar dalam hati, Yaudah... Apalah gue ini... Bikin novel aja nggak selesai-selesai...
Terus, semakin lama, semakin berkurang juga semangat nulis sesuatu di blog. Sosial media makin banyak, blog makin nggak dilirik sama orang-orang. Tapi tetep aja, bagi gue cuma blog yang bisa ngeliatin jati diri kita. Yah, mungkin melihat blog gue, jati diri gue nggak lebih dari sate usus yang muncul out of nowhere di film Insidious 3. Nggak, jangan coba-coba cari tentang itu di Google, gue cuma iseng ngomong begitu.
Sebentar. Kayaknya gue tau gue mau bikin post ini berisi apa. Gue mau nulis tentang cowok-cowok gantang, yang kalo gak salah gue pernah janji mau nulis tentang ini. Oke, di post sebelumnya kan gue bilang tentang gue alergi cowok. Nggak juga, sih, sebenernya. Coba aja liat Bugi, Gaza, Bacas, Ahmat. Mereka cowok, last time I check, dan gue nggak alergi sama mereka. Kecuali, kadang-kadang gue alergi tingkat tinggi sama Ahmat. Tapi selain mereka, gue juga nggak alergi sama beberapa cowok lainnya (nah, anak-anak SPLASH terutama Alip, tolong, ya, gue nggak minat masukin mantan-teman-alias-kalian-taulah-siapa dalam daftar ini, karena gue alergi juga sama dia), dan gue JELAS nggak alergi sama cowok-cowok yang bentar lagi akan gue sebutkan namanya.
Cowok-cowok yang, sayangnya, cuma fiksi semata. Tapi mereka tetap terasa nyata; bahkan lebih nyata dari yang beneran nyata.
First, let me introduce you to William Herondale.
Will. Siapa yang nggak bakalan suka sama dia? "Will is described to have deep violet-blue eyes and black hair that falls in his eyes. He has elegant features—high cheekbones, long, thick lashes, full lips, and an elegant throat, and is often described as extremely handsome by most people. He is said to look amazingly like his mother, Linette. He is muscular and well-built with broad shoulders, and callused hands from his years of training as a Shadowhunter. He is also quite tall at nearly six feet." Itu kalau deskripsi fisiknya versi Shadowhunter wikia.
Tapi, bodoamat mau seganteng apa, yang bikin Will super menarik itu kepribadiannya.
Will dari seri The Infernal Devices yang termasuk ke dalam Shadowhunter Chronicles. Dia ini Shadowhunter, alias nephilim, alias manusia-setengah-malaikat yang hidup untuk membasmi iblis. Nah, selain berburu iblis, dia juga suka baca karya sastra semacam novel dan puisi. Novel dan puisi lama, karena Will sendiri hidup di era Victoria. Oh ya, dia benci sama bebek, hahaha. Dia juga absurd, saking absurdnya dia bikin nyanyian tentang cacar iblis. Jangan lupa, Will punya parabatai bernama Jem Carstairs; dan tali persaudaraan mereka (walau nggak sedarah) dan persahabatan mereka itu bikin gue merinding.
Awalnya, waktu pertama ngeliat Will, pasti kita bakal langsung tertarik. Ya iyalah, bad boy berkelas yang charismatic dan suka asal ngomong, suka sarkastik juga, tapi tetep funny, siapa yang nggak suka? Tapi mungkin kita juga akan benci sama dia setelah melihat beberapa kelakuannya (yang ternyata memiliki alasan tersendiri, kalau mau tau baca novelnya aja yaaa). Walau tetep aja pada akhirnya kita nggak bakalan bisa benci sama Will setelah mengetahui rahasia dan lukanya. Dalam Will, gue bisa lihat serapuh apa cowok yang keliatannya kuat. Yang keliatannya bodoamat sama dunia, tapi sebenernya punya terlalu banyak kesedihan dalam dirinya.
Quotes about/by Will Herondale (The Infernal Devices trilogy, Cassandra Clare):
“The handsome young fellow who's trying to rescue you from a hideous fate is never wrong.”
“Dear me,” said Will, and he took another bite of his apple. “Is it because I'm better-looking than you?”
“Remember when you tried to convince me to feed a poultry pie to the mallards in the park to see if you could breed a race of cannibal ducks?”“They ate it too,” Will reminisced. “Bloodthirsty little beasts. Never trust a duck.”
“If no one cares for you at all, do you even really exist?”
“Reparations,” said Jem very suddenly, setting down the pen he was holding.
Will looked at him in puzzlement. “Is this a game? We just blurt out whatever word comes next to mind? In that case mine is ‘genuphobia’. It means an unreasonable fear of knees.”
“What’s the word for a perfectly reasonable fear of annoying idiots?” inquired Jessamine.
“Sometimes, when I have to do something I don't want to do, I pretend I'm a character from a book. It's easier to know what they would do.”
“Demon pox, oh, demon pox,
Just how is it acquired?
One must go down to the bad part of town
Until one is very tired.
Demon pox, oh, demon pox I had it all along—
No, not the pox, you foolish blocks,
I mean this very song—
For I was right, and you were wrong!”
“I have lost everything. Lost everything.
Everything.”
Next, we have Leo Valdez.
Leo. Oooooke, mungkin pada dasarnya emang gue suka cowok humoris. Leo ini nggak ganteng, mau seganteng apa pun gue ngebayangin dia, kalau di Rick Riordan bilang dia nggak ganteng yaudah gue bisa apa. Leo itu ya kayak cowok Spanyol kebanyakan gitu ciri fisiknya. Cowok berambut keriting ini putra dari Hephaestus, Dewa Pandai Besi Yunani. Itu yang menyebabkan dia suka ngotak-ngatik mesin. Dia ngocol parah, dan nggak pinter kecuali yaaa dalam bidang ngotak-ngatik mesin tadi.
Leo ini juga punya bagian dalam dirinya yang 'rusak' akibat peristiwa menyedihkan ketika kecil. Dia menutupi hal tersebut dengan menjadi anak yang humoris, selain untuk menghindari bullying juga. Yah, seperti yang kita temui sehari-hari: orang yang paling banyak ketawa, yang paling suka ngelucu di kelas lu, yang paling keliatan nggak pernah serius, sebenarnya adalah orang yang paling sering ngerasa sedih dan sendirian.
Dalam seri The Heroes of Olympus di mana Leo eksis, gue nggak pernah membenci dia. Kecuali sebel, ya. Karena kadang ini anak annoying parah, tapi gue bisa mengerti karena menurut gue kepribadian kita nggak jauh beda. Pokoknya, Leo emang paling juara kalo dijadiin sahabat cowok. Dia ini setia banget sama sahabat-sahabatnya, walau terkadang dia sering merasa kesepian di antara temen-temennya yang udah punya pacar. HAHAHAH.
Quotes about/by Leo Valdez (The Heroes of Olympus series, Rick Riordan):
“Rainbows. Very macho.”
“Gaea?” Leo shook his head. “Isn’t that Mother Nature? She’s supposed to have, like, flowers in her hair and birds singing around her and dear and rabbits doing her laundry.”
“Leo, that’s Snow White,” Piper said.
“This is Leo. I'm the... What's my title? Am I like, admiral, or captain, or...”
“Survive first. Figure out crayon drawing of destiny later.”
“She wanted me to betray you guys, and I was like, 'Pfft, right, I'm gonna listen to a face in the potty sludge'.”
“Yours in demigodishness, and all that. Peace out!”
“Don't stay in one place too long. It was the only way to stay ahead of the sadness.”
Aaaaaand, Peeta Mellark.
Peeta. Dia selalu jadi salah satu karakter cowok favorit gue, nggak peduli berapa banyak buku yang udah gue baca. Gue nggak perlu jelasin dia banyak-banyak karena kalian pasti tau Peeta kayak gimana, karena Josh Hutcherson menghidupkan karakter ini dengan sangat baik.
Berbeda dengan Will dan Leo, the boy with the bread ini beneran seorang sweetheart. Nggak humoris, cuma cowok sederhana yang berhati baik dan seorang gentleman. Yah, pokoknya Peeta itu perfect boyfriend material deh ya.
Quotes about/by Peeta Mellark (The Hunger Games trilogy, Suzanne Collins):
“Peeta, how come I never know when you're having a nightmare?” I say.
“I don't know. I don't think I cry out or thrash around or anything. I just come to, paralyzed with terror,” he says.
“You should wake me,” I say, thinking about how I can interrupt his sleep two or three times on a bad night. About how long it can take to calm me down.
“It's not necessary. My nightmares are usually about losing you,” he says. “I'm okay once I realize you're here.”
“You love me. Real or not real?”
“Because...because...she came here with me.”
“The problem is, I can’t tell what’s real anymore, and what’s made up.”
“I don't want to forget.”
“You have a... remarkable memory.”
“I remember everything about you. You're the one who wasn't paying attention.”
Hmmm, sebenernya masih banyak sih kalau gue lanjutin. Ada Simon (Simon Bae, bukan Simon Lewis), Jace, Jem, Raffe, Raffin, Percy... pokoknya banyak deh. Tapi berhubung gue males nulis banyak-banyak, yaudah segitu dulu aja. Gue juga males nulis apa-apa lagi sebagai kata perpisahan. Yaudah. Dadah!


Comments
Post a Comment