Earth-eater

sebuah cerpen oleh Avia Maulidina


“Ini makan siangmu, Ra.”
Sebuah plastik obat berisi pil biru cerah disodorkan tepat ke hadapan wajahku yang sedang menatap ke luar jendela. Aku dapat melihat sosok Genta dari pantulan kaca, berjongkok agar sejajar denganku. Ia terlihat rapi dan tenang seperti biasanya. Yah, kami memang tidak terlihat seperti tawanan, pikirku.
Perlahan, aku menoleh dan mengambil “makan siang” milikku sambil melempar senyum simpul. Genta balas tersenyum, lalu duduk di sebelahku. Kami diam, sama-sama menatap kehampaan yang teramat luas di luar sana. Titik-titik bersinar yang menghiasi hitamnya angkasa mungkin saja terlihat indah di lain waktu, tapi aku merindukan langit biru dan tanah yang biasa kupijak.
“Kau ingat terakhir kalinya kita menyantap makanan sungguhan?” tanyaku pada Genta. Aku belum memakan pil tersebut. Meski pilnya memiliki rasa—jika beruntung, kami mendapatkan rasa yang dibuat seperti rendang—tetap saja menjijikkan. Ini bukan makanan yang sebenarnya. Hanya ratusan bahan kimia yang dipilin menjadi sesuatu yang menyerupai makanan dari segi rasa dan nutrisi.
Genta memainkan pil miliknya ketika menjawab, “Ya. Aku makan mie di kantin sekolah dengan Bangkit dan Fauzan saat istirahat.” Menyebut nama-nama tersebut membuat matanya menjadi jauh. Kedua pemilik nama itu telah tiada. Mereka hanyalah dua dari tujuh milyar lebih manusia yang musnah di bumi. Sisanya, segelintir manusia yang beruntung—atau tidak beruntung—ditawan dalam pesawat angkasa yang ditambatkan pada Mars. Seperti kami.
“Aku makan bekal ibuku,” sahutku getir. Ibu. Aku masih mengingat garis-garis wajahnya dengan jelas, atau bagaimana aroma sabun cuci piring berbau lemon kerap menempel di tubuhnya. “Ia membekaliku rendang. Kesukaanku.”
Hari itu rasanya seperti sudah berjuta-juta tahun yang lalu. Padahal, jika aku tidak salah memperkirakan waktu dalam pesawat ini, aku hanya terpaut dua minggu jauhnya dari hari terakhirku di bumi.
Guru Fisika kelasku, Bu Lina, sedang menjelaskan sesuatu yang disebut elongasi—tidak begitu kudengarkan karena sibuk menyalin PR Biologi—saat ruangan kelas yang diterangi cahaya matahari dari luar mendadak menggelap.
Alih-alih awan badai, ratusan pesawat berbentuk aneh yang kukira hanya ada dalam film Star Wars menutupi langit kami.
Interkom sekolah menyuarakan peringatan langsung dari pemerintah—menyuruh kami semua berlindung dalam satu ruangan tertutup. Genta sebagai ketua OSIS segera mengkoordinir murid-murid untuk pergi ke aula. Tapi, aku, yang terkesima dengan kemunculan pesawat-pesawat tersebut, sama sekali tidak bergerak.
Mereka pasti mengabsen murid-murid sebelum menyadari aku tidak hadir di aula. Genta menyusulku, tepat ketika militer mulai menembaki pesawat-pesawat tersebut.
Seluruh dunia menembaki pesawat-pesawat milik makhluk asing itu tanpa tedeng aling-aling. Seandainya manusia berbicara dengan baik-baik kepada mereka, pasti tidak akan ada perang. Seandainya manusia tahu sampah luar angkasa yang berasal dari bumi telah menabrak planet kecil mereka yang mengorbit di bintang lain hingga planet itu hancur, dan mereka datang untuk meminta bantuan, pasti semua ini tidak akan terjadi.
Selanjutnya begitu cepat. Aku dan Genta ditangkap oleh makhluk mirip manusia—hanya saja dengan mata tiga kali lebih besar, tubuh kerdil, lengan yang terlalu panjang, dan kulit kebiruan tanpa pori-pori. Mereka hanya menangkapi manusia-manusia yang dapat ditemukan. Sementara yang bersembunyi... mati akibat ledakan dalam peperangan.
“Kau harus makan, Rara.” Suara Genta memecah lamunanku.
Aku mengangguk, mataku terpaku pada bayang-bayang planet hijau-biru nun jauh di luar sana. “Sebentar lagi.”
Aku bisa saja memberontak melawan makhluk-makhluk itu. Seperti Katniss Everdeen. Tris Prior. Siapa saja pahlawan dunia dystopia yang kutonton dahulu.
Namun aku melihat layar-layar yang menayangkan kondisi bumi kami kini. Tidak seperti manusia, makhluk-makhluk ini mencintai lingkungan. Mereka membangun kembali. Aku dapat melihat pohon-pohon di bumi perlahan kembali menghijau. Air di sana menuju kejernihan seperti sedia kala. Polusi yang memberati udara hilang sedikit demi sedikit menghilang dengan teknologi yang mereka gunakan.
Mungkin memang lebih baik seperti ini. Bukankah manusia sendiri yang merusak bumi? Kami memangsa seluruh kekayaan alam tanpa memperbaikinya. Seharusnya bumi sudah musnah bertahun-tahun yang lalu akibat ulah kami. Dan, tidak cukup dengan merusak bumi, kami juga menghasilkan sampah luar angkasa yang telah menghancurkan planet makhluk asing tersebut. Kami memang jenis yang paling buruk.
Aku memasukkan pil tersebut ke mulut, mengecap rasa yang keluar dari teksturnya yang licin.
“Rendang,” gumamku pelan.
Genta tertawa kecil. “Rupanya kita sedang beruntung.”
***

Comments

Popular Posts