Lelaki yang Menunggu di Teras Rumah
sebuah cerpen oleh Avia Maulidina
(dimuat di Majalah Kawanku edisi 8/2016)
Lelaki itu sudah menunggu bahkan sebelum aku turun dari bus umum.
Aku menghela napas melihatnya. Dengan begitu santainya ia duduk di teras
rumahku, dalam balutan seragam sekolahnya yang acak-acakan. Motornya diparkir
di depan pagar dengan asal-asalan, seolah memberitahu bahwa ia bisa datang dan
pergi kapan saja. Huh, sangat mengganggu. Kuangkat daguku tinggi-tinggi dan
melangkah sesombong mungkin. Dia harus tahu bahwa aku tak akan pernah
mengacuhkannya.
“Halo, Sherin.” Tanpa menoleh pun aku tahu senyum jahil telah terpampang di
wajah lelaki itu begitu aku melewatinya. Kubuka pintu rumahku dan cepat-cepat
menutupnya kembali—atau lebih tepatnya aku membanting pintu hingga
kusennya bergetar.
Sayup-sayup kudengar suaranya, begitu riang meski baru saja kuperlakukan dengan
buruk, “Dah, Sherin. Semoga sisa harimu menyenangkan.” Ketika aku menoleh,
wajahnya mengintip dari jendela. Secepat kilat kutarik gorden hingga sosoknya
tak terlihat.
Tetap
saja, senyum menyebalkannya terus membayangiku. Aku menghentakkan kaki dan
membaringkan tubuh di sofa, menutupi wajah dengan tangan sambil memejamkan
mata. Baru ketika suara motornya yang beranjak pergi sudah tak terdengar, aku
dapat berteriak sekencang-kencangnya. Meluapkan emosi yang tertuju pada lelaki
itu.
“Lho,
temannya Kak Sherin sudah pulang?” Nadine, adik yang terpaut tiga tahun dariku,
muncul dari dapur dengan segelas limun dingin. “Baru saja aku mau memberinya
minum.”
“Sudah
kubilang, dia bukan temanku,” ralatku kesal. “Cuma orang kurang kerjaan. Kenapa
kamu tak pernah mengusirnya, sih? Malah memberinya minum, pula.”
Aku
tidak bohong. Lelaki itu memang bukan temanku—bahkan aku hampir tidak
mengenalnya. Semua ini berawal dari hari Senin, ketika aku selaku ketua OSIS
pergi ke sekolahnya dalam rangka mengunjungi OSIS di sana. Siapa sangka lelaki
berjaket OSIS yang mengenalkan diri dengan nama Gara ternyata sama sekali bukan
anggota OSIS sekolah itu? Hal tersebut baru kuketahui setelah anggota asli OSIS
sekolahnya menyuruhnya mengembalikan jaket dan berhenti bertingkah memalukan di
hadapan orang luar.
Dan
sepulang dari kunjungan itu, bam! Dia menunggu di teras rumahku begitu
saja. Dengan percaya diri mengajakku mengobrol seperti kawan lama. Kalau
tadinya kusangka gangguan itu hanya berlaku sehari dua hari, sangkaanku meleset.
“Habisnya
kasihan.” Nadine mengangkat bahu dan meletakkan limun dingin itu di meja
sebelum ikut duduk di sofa seberangku. “Dia datang hanya untuk melihat Kakak,
lalu pulang.”
“Itulah,
Adikku,” kataku dramatis, “alasan mengapa dia sangat mengganggu.”
“Tapi
sepertinya dia orang yang menyenangkan,” komentar Nadine. “Plus lumayan
ganteng.”
Aku
mengerang. Kuraih gelas di meja dan meneguk isinya cepat-cepat. Sudah cukup
gangguan yang kuterima dari Gara hari ini, tidak perlu membahasnya lagi. Lagi
pula besok hari Minggu. Dia tidak akan datang, pikirku.
Sayangnya, aku salah besar. Lelaki itu sudah menunggu bahkan pada pukul enam
pagi keesokan harinya.
Kali ini tidak ada seragam acak-acakan ataupun motor, hanya ada Gara yang akan
pergi berolahraga berdasarkan penampilannya. Ia menoleh begitu pintu terbuka.
“Pagi, Sher-Sher,” sapanya disertai senyum khas itu, kedua alisnya naik hanya
untuk membuatku kesal. Di meja sebelahnya terhidang teh—pasti buatan
Nadine—yang sudah kehilangan panasnya tapi belum juga tersentuh.
Ugh. Dasar konyol. Dan Sher-Sher? Panggilan macam apa itu?
Walau
ada banyak hal yang dapat kukatakan pada Gara, termasuk umpatan, aku memilih
untuk mengabaikannya seperti biasa. Hari ini aku mendapat giliran mengurus
tanaman di halaman rumah, yang jika tidak kulaksanakan akan mengakibatkan uang
jajan selama seminggu melayang. Jadi, meski setengah mati ingin, aku tidak bisa
kembali ke kamar dan menjalani hari Minggu dengan tenang dalam pelukan selimut
tebal, jauh dari gangguan Gara.
“Tadi malam tidurmu nyenyak?” tanya Gara ketika aku mulai menyirami tanaman
begonia menggunakan selang air. Aku dapat merasakan tatapannya terpaku padaku.
Tak berapa lama, Gara kembali berbicara seolah aku sudah menjawab pertanyaannya,
“Oh, begitu. Pasti nyenyak karena memimpikanku, kan?”
Ih. Hidungku berkerut sementara tanganku semakin erat mencengkeram
selang, menyebabkan aliran airnya menjadi kencang dan jauh. Ada apa sih
dengannya dan segala kepercayaan diri yang berlebihan itu?!
Setelah obrolan yang hanya berlangsung di benaknya itu selesai, Gara melompat
berdiri. “Senang bisa mengobrol denganmu, tapi sekarang sudah pukul tujuh. Aku
harus latihan futsal di GOR. Mau ikut menontonku latihan?”
Keheningan yang menyambut Gara sama sekali tidak mengganggunya. “Apa? Kamu
ingin, tapi banyak tugas?” Gara tertawa. “Ya sudahlah, memang sulit punya gadis
seorang ketua OSIS. Aku pamit, Sher-Sher.”
Dengan santai, Gara pergi dari rumahku, berjalan kaki menuju GOR yang ia tuju.
Kutatap sosoknya yang semakin menjauh sambil menahan keinginanku untuk
menyiramnya dengan selang air. Seolah tahu dirinya sedang diamati, Gara
mendadak berbalik dan melambai.
Cepat-cepat kualihkan pandanganku kembali ke tanaman. “Jangan kembali lagi,”
gumamku pelan.
Tapi dia selalu kembali, menunggu di teras rumahku sepulang sekolah. Menungguku
di setiap Minggu. Pulang begitu sudah melihatku. Minuman buatan Nadine yang
awalnya tidak pernah tersentuh lama kelamaan habis diminumnya, secara tak
langsung menyatakan bahwa dia semakin nyaman berkunjung. Kadang, ia bahkan
mengobrol dengan adikku. Benar-benar menyebalkan.
Hari yang kebetulan adalah hari di mana genap sudah satu bulan kehadirannya di
teras rumahku merupakan hari terburukku di sekolah. Masalah internal menerpa
OSIS, dan seperti biasa, ketualah yang selalu terkena imbasnya—aku dimarahi
habis-habisan oleh kepala sekolah di depan seluruh anggota.
Kutahan
tangisku, bertekad untuk melepas air mataku di rumah. Di mana pun asal
jangan di hadapan orang-orang. Karena itulah, sepulang sekolah, ketika
turun dari bus umum dan mendapati Gara menunggu di teras—aku meledak.
“Selamat
datang kembali, Sherinrin!” sapanya dengan nama panggilan baru.
“Pergi!”
jeritku. Kenapa dia ada di sini?! Aku ingin sendirian. Aku ingin punya tempat
di mana air mataku bisa jatuh dengan bebas.
Untuk
pertama kalinya, Gara terlihat terkejut. Ia terdiam sesaat, wajahnya berubah
serius. “Ada apa, Sherin?”
Bibirku
bergetar menahan tangis. Kemarahanku meluap-luap, tak tentu arah. Aku ingin dia
segera pergi agar aku bisa menangis! Aku ingin dia berhenti menunggu di teras
rumahku, berhenti mengangguku! “Ini semua salahmu!” semburku. Padahal saat itu
aku pun tahu, dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah yang
menimpaku hari ini. Hanya saja dia berada di sini, mencoba menggangguku di saat
yang tidak tepat. Itulah yang menyebabkan Gara menjadi sasaran kemarahanku.
“Aku?” Gara menelengkan kepalanya, kebingungan.
Sudut mataku terasa panas, bulir-bulir air menuruni pipiku tanpa dapat
dibendung. Kenapa dia tidak juga pergi?! “Keluar.” Aku menunjuk pagar rumahku.
“Sekarang juga. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Jangan pernah kembali ke sini, kumohon.
Kehadiranmu mengiritasiku.”
Pundak Gara melorot, sinar jenaka yang biasa menyinari matanya redup dalam
sekejap. Ia menunduk.“Baiklah.” Dengan ekspresi tak terbaca, lelaki itu
melangkah menuju pagar. Sebelum membukanya, ia berkata pelan, “Maaf sudah
mengganggumu, Sherin.”
Aku
jatuh terduduk di lantai begitu motornya pergi. Kutatap pintu, baru menyadari
bahwa pintu rumahku menyisakan sedikit celah bagi Nadine untuk melihat drama
tadi secara langsung. Adikku itu menghambur keluar, memeluk dan mengusap-usap
punggungku tanpa bertanya. Kami tetap seperti itu selama beberapa saat, dalam
keheningan.
Sejak
hari itu, Gara tidak pernah menunggu di teras rumahku lagi.
Tak
pernah kusangka kekosongan di teras rumahku akan terasa menyesakkan. Selepas
turun dari bus umum, aku berusaha mengontrol wajahku agar tetap datar dan
terkesan sombong hanya untuk menyadari Gara tak lagi ada di sana untuk
menyaksikannya. Meski aku tidak mau mengakuinya, tapi aku merindukan sapaannya,
senyumnya yang menyebalkan, juga bagaimana ia berbicara sendiri—berpura-pura
aku menanggapi obrolannya.
Mungkin
tanpa sadar, dibalik kejengkelanku pada Gara, aku telah jatuh hati pada
sosoknya. Mungkin memang benar, kebencian hanyalah rasa cinta yang terpelintir
dan dipandang melalui kaca yang buram. Dan mungkin sekaranglah giliranku untuk
menunggu kehadirannya di teras. Ironis, mengingat dulu aku sangat membenci
kehadirannya yang terasa mengganggu.
Tapi
lelaki itu tak pernah muncul lagi—lenyap begitu saja bagaikan uap air. Rasa
bersalah menggelayutiku, kian hari kian besar. Kau mengiritasiku, aku
ingat caraku mengatakan kalimat tersebut. Dengan penuh amarah, kebencian, dan
rasa jijik.
Kini,
di sinilah aku. Terpaut tiga bulan jauhnya dari hari kedatangan terakhir Gara.
Melangkah dengan gontai setelah turun dari bus umum, tidak berani melihat ke
arah rumah. Takut harapanku terbukti kosong.
Itu,
ketika aku menangkap siluet sebuah motor di depan pagar rumahku. Mataku
mengerjap. Kutatap teras rumah dengan jantung yang berpacu cepat. Ada sosok
yang sedang menunggu di sana. Gara, duduk mengenakan kaus dan celana pendek,
perhatiannya tertuju pada ponsel. Seragamnya ia simpan di atas tas sekolah,
terlalu acak-acakan untuk disebut sudah dilipat.
Aku
tidak tahu apakah aku berjalan cepat atau berlari, yang jelas aku sudah berdiri
di hadapannya beberapa detik kemudian, tak dapat menyembunyikan rasa lega serta
bahagia yang mengalir deras. “Gara!”
Lelaki
itu tersentak dan mendongak. “Hai,” katanya, memasukkan ponsel ke dalam saku
celananya. Pasti dia menyadari sikapku yang berubah drastis dari kali terakhir
kami bertemu, karena sejurus kemudian ia meringis, “Lama tidak bertemu,
Sherin.”
Jika
sikapku padanya berubah, begitu pula dengan sikapnya. Dia terdengar jauh,
senyum jahil tidak lagi bermain-main di wajahnya. “Maafkan aku,” kataku
terbata-bata. “Waktu itu aku tidak bermaksud—aku—”
Gara
menepis udara dengan tangannya, memaksakan sebuah senyum. Senyum yang sama
sekali bukan senyumnya. “Sudahlah. Aku tidak di sini untuk membahas
itu.”
Rasanya ada sesuatu yang salah dengan kalimat tersebut. Ah, tidak—tentu saja
dia tidak berada di sini untuk mengungkit betapa jahatnya aku; dia datang dan
menunggu untuk melihatku seperti biasa. Dia merindukanku, sama seperti aku
merindukannya.
“Kau tahu, aku—” ucapanku terputus oleh terbukanya pintu. Nadine muncul dalam
pakaian siap pergi, sibuk mencari-cari sesuatu dalam tas tangannya sambil
berbicara—sama sekali tidak menyadari kehadiranku, “Maaf sudah membuatmu
menunggu lama, Kak Gara.”
Perhatian Gara teralih dariku, matanya bersinar jenaka. “Wah, wah. Padahal
tadinya aku berencana liburan dulu ke Baghdad selagi menunggumu, Nadidadin.”
Lalu ia memberikan adikku senyum itu, senyum jahil yang menyebalkan,
senyuman khasnya.
Tubuhku
membeku seiring dengan pemahaman yang mulai tercerna.
Lelaki
itu sudah kembali menunggu di teras rumahku. Hanya saja, bukan menungguku.
***


Comments
Post a Comment