Dalam Arti Sesungguhnya
sebuah cerpen mengenai kemerdekaan, oleh Avia Maulidina
(Juara III Lomba Cerpen sastramu.com 2015)
“Jika kau mengetuk bagian tembok yang tepat di underpass itu, Nak, tembok itu akan membuka—dan kau akan menemukan wilayah rahasia dari kota ini.” Begitulah yang dikatakan oleh kakekku, beberapa tahun yang lalu ketika aku masih SD kelas enam.
Ah, Kakek memang hobi bercerita,
dari mulai dongeng hingga kejadian nyata yang pernah dialaminya. Sayang, aku
tidak pernah tahu kelanjutan cerita tentang wilayah rahasia Bogor. Kakek
meninggal sebelum sempat melanjutkannya.
Tapi, karena itulah aku berada di
sini sekarang. Sebuah underpass di
dekat Tugu Kujang, yang mungkin sering kalian lewati ketika akan bepergian ke
salah satu mall ternama di Bogor.
Berbekal rasa penasaran, setelah berbelanja pakaian di mall aku melewati underpass
tersebut meski sebenarnya arah pulangku tidak perlu menyeberang. Kutanggalkan
tas belanja di lantai semen underpass
dan mulai mengetuki keramik-keramik tembok—sesekali berhenti untuk memelototi
orang-orang yang lewat sambil menertawakanku dan berseru “orang gila”.
Yah, seharusnya aku tidak perlu
memelototi mereka. Mungkin memang benar aku gila—aku
bahkan tidak tahu kebenaran cerita Kakek. Meski begitu, karena sudah terlanjur
melakukannya, aku melanjutkan pekerjaan tersebut.
Keramik-keramik berwarna abu itu
merespon serupa. Memperdengarkan bunyi teredam yang sama dengan jika kau
mengetuk lantai di rumah. Buku jariku sampai memerah karena mengetuk terlalu
banyak keramik. Tetapi, ketika aku tiba di ujung lain underpass, aku menemukannya.
Keramik yang berbunyi lain.
Menggema, seolah ada ruangan kosong di dalamnya.
Mungkin
akibat semen yang tidak rata, pikir otakku yang lebih rasional. Mungkin cerita Kakek benar! bantah
hatiku yang sudah bersemangat terlebih dahulu.
Kuketuk keramik tersebut. Sekali,
dua kali, tiga kali.
Aku hampir meninggalkannya ketika
sekonyong-konyong beberapa petak keramik tersebut terdorong ke belakang dan
bergeser. Menyingkapkan kegelapan pekat di baliknya.
Mungkin orang lain akan ketakutan
atau apalah, tapi aku malah memekik kegirangan. Jantungku melompat-lompat
seolah ingin dibebaskan dari dalam rongga dadaku—bersemangat, bukan takut.
“Cerita Kakek benar!” kataku tanpa bisa kucegah. Aku segera menoleh ke
kanan-kiri, takut ada orang yang mendengar. Tapi tidak ada seorang pun kecuali
aku di dalam underpass. Aneh. Kemana
perginya orang-orang? Detik sebelumnya aku yakin ada pasangan suami-istri yang
baru saja masuk.
“Halo?”
tanyaku, melongokkan kepala ke dalam ruangan di balik tembok. Di dalam sana
hangat dan lembab. Aku tidak bisa melihat apa pun. Mendadak segalanya terasa
seperti di film-film horor. Bedanya, aku tahu betul bahwa aplikasi senter di ponselku dapat membantu pada saat-saat
seperti ini, tidak seperti dalam film-film di mana tokoh utamanya berkeliaran
dalam gelap tanpa penerangan. Aku mulai melangkahkan kaki, masuk ke dalam sana.
Ruangan gelap itu jauh lebih sempit dari perkiraanku. Aku bahkan tidak bisa merentangkan
kedua tanganku.
Senter ponselku mengekspos lorong panjang di
hadapanku. Kakiku melangkah, menelusuri lorong hampir tanpa komando. Lorong itu
tidak begitu panjang, karena tahu-tahu aku sudah sampai di ruang bawah tanah
luas dari beton yang kelihatan sudah sangat tua.
Di
dalam ruang bawah tanah itu, berpasang-pasang mata menatapku.
Aku
tidak dapat menghitung jumlah mereka, yang jelas lebih dari dua puluh pria dan
wanita dari segala umur. Pakaian mereka mengingatkanku pada foto hitam-putih di
buku sejarah: yang wanita mengenakan kebaya sederhana, sementara lelakinya
kebanyakan mengenakan kaus putih dan celana kain. Salah satu dari mereka,
pemuda yang kelihatan seumuranku dan mengenakan baju safari coklat kekuningan
maju dengan wajah sumringah.
“Apa
Nona adalah penyampai berita kemerdekaan?” tanyanya, terdengar begitu
bersemangat.
Dahiku
langsung terlipat tiga. “Penyampai berita
kemerdekaan?” ulangku.
“Ya,”
kata pemuda itu. “Kapten Muslihat menyuruh kami untuk tetap berada di sini
sampai seseorang datang dan memberitahu kami bahwa Indonesia sudah merdeka.”
Rasanya
aku tidak dapat memercayai pendengaranku. Apa ini semacam lelucon? Indonesia,
kan, sudah merdeka dari tujuh puluh tahun yang lalu. Dan... Kapten Muslihat? Bukankah itu nama
pahlawan yang patungnya dipajang di salah satu taman kota?
Tapi,
melihat dari wajah penuh harap orang-orang ini, kelihatannya mereka
bersungguh-sungguh. Atau mungkin mereka hanya aktor yang terlampau piawai
memerankan perannya. Yah, sungguh-sungguh atau tidak, aku tetap memberitahu
mereka, “Aku bukan orang yang kalian tunggu—siapa pun dia. Dan Indonesia telah
merdeka sejak tujuh puluh tahun yang lalu.”
“Tujuh
puluh tahun yang lalu?” Mereka semua terkesiap. Lalu, perlahan, ekspresi yang
sama muncul di wajah-wajah tersebut: kebahagiaan
dan rasa syukur. Rasa syukur yang begitu besar hingga aku harus memalingkan
wajah, berusaha tidak memikirkan bagaimana bisa mereka berada di dalam ruang
bawah tanah ini selama tujuh puluh tahun sedangkan pemuda di hadapanku saja
umurnya sama sepertiku.
Pemuda
itu memandangiku ketika kelompoknya bergantian mengucap kata “Merdeka!” dengan
penuh penghayatan. Ia memandangi langit-langit ruang bawah tanah itu dan aku bergantian.
“Maukah Nona mengantarkanku ke atas sana? Aku ingin melihat negeriku yang
sekarang.”
Yah,
bisakah aku menolak? Jadi, aku hanya mengangguk, dan sebagai gantinya ia
tersenyum penuh rasa terima kasih. Pemuda itu lantas mengumumkan pada semuanya bahwa
ia akan melihat kondisi di atas sana—membuat semua orang semakin gembira dan
bersemangat.
“Siapa
nama Nona?” tanya pemuda itu ketika kami menyusuri lorong dengan penerangan senter
ponselku.
“Nala,”
jawabku. “Dan tolong jangan panggil Nona. Kamu?”
“Suhari.”
Suhari.
Seberapa sering aku menemukan nama itu? “Berapa umurmu?” tanyaku. Setidaknya
aku tidak menanyakan apa dia hantu atau bukan (terlebih karena aku tidak yakin
ingin mendengar jawabannya).
“Enam
belas,” jawabnya, seolah tidak ada hal yang salah. Apa dia lahir di dalam ruang
bawah tanah itu? Tapi, caranya mengucapkan ‘Kapten Muslihat’... seolah-olah dia
mengenalnya, dan mengaguminya.
“Sudah
berapa lama kamu berumur enam belas?” tanyaku tanpa bisa kucegah.
Suhari
hanya tersenyum simpul, dan aku pun tidak berniat bertanya lebih jauh.
Ketika
kami sampai di underpass, tempat
tersebut masih lengang. “Tempat apa ini?” tanya Suhari.
“Underpass. Tempat orang-orang
menyeberang jalan.” Aku mengangkat bahu.
Suhari
hanya mengangguk-angguk. Ia meraup seluruh pemandangan di dalam underpass dengan matanya—mencerna segala
hal yang terasa sudah biasa bagiku namun mungkin baru baginya. Hampir-hampir
Suhari tidak beranjak dari sana jika aku tidak memanggilnya dan menyuruhnya
mengikutiku.
Kami
menaiki tangga underpass dalam diam.
Aku sibuk memikirkan kakekku dan ceritanya. Bagaimana Kakek tahu terdapat ruang
bawah tanah di dalam sana? Apa Kakek pernah masuk ke sana? Atau Kakek hanya
mengarang saja tentang wilayah rahasia itu, sama sekali tidak tahu bahwa tempat
itu benar-benar ada?
Aku
baru tersadar dari lamunan ketika sinar matahari menyambut kami di luar underpass. Suhari mendadak bergeming,
napasnya tertarik dengan keras. “Bogor,”
bisiknya penuh kerinduan. “Bogor. Sepetak kecil taman dari negeriku yang
perkasa.”
Ia
melangkah dengan hati-hati, seolah jika ia memijak tanah dengan terlalu keras
kota ini akan hancur lebur. Dipandanginya Kebun Raya Bogor seolah tempat itu
adalah kawan lamanya. Ia bahkan menghampiri pohon besar di sisi trotoar,
menyusuri tekstur kasar pohon tersebut dengan telapak tangan.
Entah
apa yang kurasakan saat itu. Belum pernah, belum pernah sekali pun aku melihat
penghargaan sebegitu besar pada kota ini. Apalagi cara Suhari menyebut “Sepetak
kecil taman dari negeriku yang perkasa”. Mendadak aku malu dengan impianku
tinggal di luar negeri—“Mana saja asalkan jangan di Indonesia,” kataku saat
ditanya ingin tinggal di mana jika sudah hidup mandiri nanti.
Tapi senyuman Suhari lenyap begitu
seorang pengemis menepuk kakinya. Seorang nenek tua renta, dengan rambut kelabu
sepenuhnya. Mulut si pengemis membentuk kalimat meminta tanpa suara. Baru saat
itulah Suhari sadar: terdapat banyak orang seperti itu di sekitar sini. Ada
pengemis di bawah pohon yang berada lima meter di depan kami; di tengah jalan,
tepat pada undakan pembatas; di pintu masuk Kebun Raya, seolah menjadi patung
selamat datang. Pintu-pintu angkot dijejali pengamen dari mulai anak kecil
hingga orang dewasa. Memainkan gitar dan bernyanyi demi sesuap nasi.
“Nala,” panggilnya. Tubuhnya
menegang. “Mengapa masih ada orang miskin di negeri ini?”
Aku menelan ludah. “Terdapat korupsi
di mana-mana, Suhari. Si kaya makin kaya, si miskin makin miskin,” hanya itu
jawaban yang terlintas di otakku. Kamu
tidak tahu, Suhari. Kamu tidak tahu apa yang telah terjadi di negeri ini selama
tujuh puluh tahun. Ini bukan lagi negeri yang dulu kamu banggakan.
“Katamu, Indonesia sudah merdeka,”
bisiknya lirih. “Bukankah merdeka yang sebenarnya berarti rakyatnya sejahtera?”
Aku tidak menjawab, hanya berjalan
di sebelahnya. Kami menyusuri trotoar dalam diam. Sesekali Suhari berhenti,
memadangi langit dengan ekspresi tak terbaca. Langit yang sama dengan yang
dilihatnya, tujuh puluh tahun lalu. Keadaan yang canggung membuatku mengeluarkan
ponsel, setidaknya untuk melakukan sesuatu yang dapat mengalihkan perhatianku
dari pemuda yang tengah dilanda kekecewaan pada negerinya ini.
“Benda apa itu?” tanya Suhari.
“Radio yang bisa mengeluarkan cahaya?”
Aku tersenyum. “Ponsel,” jawabku.
Suhari memandangi ponselku lekat.
Menatap foto Chris Pine yang kuatur sebagai homescreen.
“Mengapa kamu memasang foto kompeni?”
“Ayolah. Chris Pine bahkan bukan
orang Belanda.” Aku mengerutkan dahi. “Memangnya tidak boleh?”
Suhari tidak mengatakan apa pun selama
beberapa saat. “Thomas Matulessy terlihat jauh lebih hebat dari pada orang
itu.”
“Thomas Matulessy?” Rasanya aku
pernah mendengar nama itu.
Suhari menatapku masam. “Kapitan
Pattimura. Orang Indonesia macam apa yang tidak mengetahuinya? Salah satu
panglima terbaik yang pernah Indonesia miliki.”
Aku ingin memberitahunya bahwa aku
tahu siapa itu Kapitan Pattimura, tapi rasanya tidak pantas. Aku tidak tahu
perang apa yang Pattimura pimpin, atau dari mana beliau berasal. Aku hanya tahu
dia itu pahlawan. Tidak seperti
selebritis dunia yang sangat kuketahui biografinya. Ya Tuhan, Suhari telah
menyadarkanku bahwa kami, generasi muda
Indonesia, sedikit demi sedikit, sadar tidak sadar, mulai mengganti nama
pahlawan-pahlawan kami dengan nama-nama seperti Adam Levine dan kawan-kawan.
“Ah, bagi kalian, merdeka itu
hanyalah sebuah kata, ya?” Pertanyaan Suhari tampaknya tidak memerlukan
jawaban, apalagi ketika ia menambahkan, “Padahal, untuk menebus kemerdekaan itu
diperlukan keringat, darah, bahkan nyawa.”
Hatiku mencelos. Apa benar kami buruk seburuk itu? Apa benar
kami telah mengecewakan para pahlawan? Lalu, seolah menjawab pertanyaanku,
aku langsung teringat pelaksanaan upacara bendera di sekolah. Aku sendiri selalu
ogah-ogahan melaksanakannya. Sengaja berlambat-lambat dalam membaca Pancasila.
Tertawa dan mengobrol saat mengheningkan cipta. Diam-diam tidak ikut hormat
saat bendera dinaikkan. Bahkan pura-pura sakit. Apa pun selain berpanas-panasan
di lapangan.
Sungguh, aku merasa malu.
Suhari terus berjalan, hingga kami
tiba di daerah Sempur—lapangan luas yang biasanya menjadi tempat paling ramai
di hari Minggu, ketika Car Free Day dilaksanakan.
Aku tertinggal cukup jauh di belakangnya, tapi Suhari tidak terlihat letih sama
sekali. Ia tersenyum menatap bangunan-bangunan bergaya lama di sekitarnya, dan
menunjuk salah satu rumah di dekat persimpangan.
“Itu rumahku,” katanya. “Sudah lama
berselang, ya?”
Aku tidak tahu seperti apa persisnya
rumah itu saat Suhari masih menghuninya, tapi rumah tersebut masih memiliki
sentuhan gaya lama hingga sekarang. Tembok bagian bawahnya dihiasi batu alam
hitam, jendelanya jenis jendela kayu tinggi tanpa kaca. Aku tidak tahu harus
berkata apa, jadi aku hanya berkata, “Rumahmu bagus.”
Suhari hanya tersenyum. Saat ia
kembali membuka suara, ia malah mengatakan, “Nala, tolong jawab beberapa
pertanyaan yang akan kuajukan.”
Aku menatapnya, kebingungan.
“Pertama,” mulai Suhari. “Apa warga
Indonesia sudah memiliki kekayaan alamnya sendiri?”
Di lain waktu, pertanyaan seperti ini
mungkin sudah seperti ulangan PPKn atau apalah bagiku. Sekarang, pertanyaan ini
terasa sangat serius dan aku hanya ingin menjawab bahwa, ya, Indonesia sudah
dapat mengelola kekayaan alamnya sendiri. Tidak ada Freeport dan semacamnya.
Sayang, kenyataannya tidak begitu. “Belum,” jawabku pelan. “Negara-negara
asinglah yang mengeruk kekayaan kita.”
Suhari mengangguk-angguk. “Apa semua
barang yang ada di sini adalah buatan orang-orang negeri ini?”
“Bukan.” Aku menelan ludah.
“Sebagian besar adalah produk luar negeri.” Dan
aku sendiri lebih bangga menggunakan produk luar negeri, akuku dalam hati.
“Apa pemerintah kita sudah berani
melawan negara-negara yang lebih kuat?”
Aku menggeleng. Negara boneka, itu
yang selalu orang-orang katakan.
“Apa menurutmu Indonesia telah
merdeka?”
Pada titik tersebut, aku tidak sanggup
mengatakan apa pun.
Kekecewaan jelas tergambar di wajah
Suhari. “Bukan merdeka seperti inilah yang kuharapkan,” katanya. “Lebih baik
aku tinggal di ruang bawah tanah selamanya dibandingkan melihat negeriku dalam
kondisi seperti ini.”
Lalu, Suhari pun berbalik pergi.
“Terimakasih, Nala. Tapi tolong kunjungi kami hanya jika Indonesia benar-benar
sudah merdeka.” Dan pemuda itu mulai
melangkah, meniti kembali jalan yang tadi diambilnya.
Aku berteriak memanggil Suhari.
Mengejarnya. Percuma. Ia telah menghilang di balik belokan jalan.
Sejak hari itu, tembok di dalam underpass tidak pernah terbuka lagi,
meski sudah kuketuk puluhan kali pada keramik yang benar. Bahkan keramik
tersebut pun kini padat dan berbunyi seragam. Rongga gelap di dalamnya, lorong
yang mengarah ke ruang bawah tanah itu, seolah tak pernah ada. Mungkin inilah
yang dialami Kakek. Mungkin Kakek pernah bertemu dengan Suhari, dan Suhari juga
kecewa seperti sekarang.
Meski
begitu, setiap kali aku melewati tempat tersebut, sayup-sayup aku mendengar
suara Suhari bertanya, “Apa Indonesia sudah merdeka?”. Dan aku hanya akan
berjalan, melesak di dalam pakaianku, terbalut rasa malu. Belum, jawabku dalam hati. Belum,
Suhari. Tapi suatu hari nanti, bangsa ini akan merdeka.
Merdeka dalam arti sesungguhnya.[]


Comments
Post a Comment