A Thing or Two

Biasanya, gua pergi ke sekolah diantar ayah pakai motor. Tapi, kadang diantar sama ua naik mobil, terus turun di dekat kantornya dan lanjut naik angkot.
Hari itu hujan deras. Jadi, ua gua memutuskan untuk mengantar gua sampai sekolah.
"Kemarin, mobil bapa ditabrak motor," kata ua gua. Bapa yang dimaksud di sini adalah ua gua sendiri. Iya, di keluarga gua panggilannya memang gitu. Ayah gua dipanggil 'Ama', ibu tetap dipanggil ibu sih, ua gua yang ini dipanggil Bapa (tanpa 'k'), dan istrinya dipanggil Bunda. Keduanya baik banget, dari mulai gua lahir sampai sekarang, bahkan dari sebelum gua lahir.
"Oh iya?" tanggap gua.
Ua gua pun menceritakan kronologisnya (gua nggak terlalu ingat, soalnya percakapan itu sekitar dua minggu yang lalu). "Nggak parah sih, tapi orangnya langsung ngegantiin."
Lalu, gua menanyakan hal pertama yang terpikirkan, "Terus, orangnya minta maaf nggak?"
Ua gua terdiam. Sepertinya pertanyaan gua mengejutkannya. "Nggak."
Tidak lama, beliau tertawa. "Benar juga," katanya. "Benar juga kata De Avi, orangnya nggak minta maaf. Harusnya minta maaf ya? Benar juga, bapa nggak kepikiran."
(Bukan, bukannya gila maaf, tapi tidakkah meminta maaf karena kesalahanmu itu adalah hal dasar yang wajar?)
Gua hanya cengar-cengir. Dalam hati, gua jadi berpikir percakapan ini mirip seperti yang disinggung dalam buku Le Petit Prince karangan Antoine de Saint-ExupĂ©ry.

“Orang-orang dewasa menyukai angka. Ketika kau mendeskripsikan seorang teman baru kepada mereka, mereka tak pernah menanyakan padamu hal-hal yang penting.  Mereka tak pernah bertanya, ‘Seperti apa suaranya? Apa permainan favoritnya? Apakah dia mengoleksi kupu-kupu?’ Bukannya bertanya begitu mereka malah menuntut ‘Berapa umurnya? Berapa banyak kakak dan adiknya?, Berapa beratnya?, berapa penghasilan ayahnya?

Tapi gua tahu, kenyataan bahwa 'orang-orang dewasa menyukai angka', bukanlah suatu kesalahan atau sifat yang buruk. Semakin dewasa seseorang, pikirannya akan berubah sedikit demi sedikit. Kalian dapat melihat itu dari tanggapannya, cara mereka memandang hidup. Mereka jadi lebih realistis karena mereka harus bertahan dan berdiri di atas kaki mereka sendiri. Pada akhirnya, mereka melupakan beberapa hal yang sederhana yang sebenarnya indah.
Dan gua juga akan begitu, mungkin.

“Jika kau berkata kepada orang-orang dewasa, “Aku melihat rumah indah terbuat dari bata merah jambu, dengan bunga geranium di jendela-jendelanya, dan merpati di atapnya, mereka tak bisa membayangkan rumah semacam itu. Kau harus berkata, ‘Aku melihat rumah yang harganya seratus ribu franc;’ Maka  mereka akan berseru, ‘Oh pasti indah sekali!”



1 April 2017,
Avia Maulidina.
(P.S: Kirim do'a buat gua ya, bentar lagi UN!)

Comments

Popular Posts