Negeri 9 Nyawa
Di duniamu, kamu hanya punya satu nyawa?
Ha, kasihan sekali.
Di dunia yang kutinggali, nyawa adalah permainan.
Kamu punya sembilan nyawa--maksimal. Dan nyawa-nyawa itu bisa diberikan kepada orang lain.
Kalau mau mati? Transfer saja semua nyawamu ke orang-orang yang masih memiliki slot kosong. Mudah.
Tapi, sekarang yang sedang menjadi tren adalah memberikan nyawa sebagai hadiah untuk sang kekasih.
Entah, ya, aku juga tidak mengerti bagaimana pacar-pacar mereka bisa mempunyai slot kosong untuk diberikan nyawa. Apa mereka sengaja membuang satu nyawa terlebih dahulu agar bisa mengikuti tren yang aneh itu?
Yang jelas, meski menurut orang-orang pemberian nyawa adalah "hadiah terbesar yang dapat diberikan untuk pasangan", menurutku sih itu bodoh sekali.
Terutama karena nyawaku tinggal satu.
---
Aku ingat pertama kalinya nyawa mengalir keluar dari tubuhku.
Rasanya seperti kematian. Final. Meski kamu tahu bahwa masih banyak nyawa yang kamu miliki, kamu tidak akan mengingatnya ketika nyawamu diambil.
Seluruh pikiranmu akan terfokus pada rasa sakit. Kesakitan yang meniadakan, menceraiburaikan segala sesuatu. Dunia meledak dalam pandanganmu.
Dan saat kamu yakin akan melihat surga atau neraka--saat itulah kamu terbangun dan menyadari bahwa satu nyawamu telah tiada.
Pertama kalinya aku memberikan nyawaku, itu adalah untuk seorang gadis.
Begitu pun dengan nyawaku yang kedua,
ketiga,
keempat,
hingga kedelapan. Semua untuk gadis yang sama.
Ya, akulah yang memulai tren gila itu.
Tapi setidaknya, aku memiliki alasan yang rasional.
---
Atau setidaknya, kukira rasional. Ternyata aku hanya naif.
Gadis itu sekarat. Dia selalu sekarat.
Tapi aku mencintainya. Aku selalu mencintainya.
Maka aku tidak pernah bertanya tiap kali dia menggenggam tanganku dan berkata,
"Aku akan mati."
Atau ketika dia tiba-tiba terbatuk dan memuntahkan darah.
Aku memberikannya nyawaku, semudah itu. Tanpa mengetahui bahwa sehari setelah nyawa kedelapanku kuberikan, dia akan menghilang--
--dan muncul kembali di layar-layar besar yang dipasang di seantero ibu kota.
Wajahnya menghiasi berita utama dengan tangan diborgol oleh aparat.
"TERBONGKAR: PENJUALAN NYAWA DI PASAR GELAP", tajuk yang mau tak mau terbaca olehku.
Nyatanya, nyawaku yang berada di tubuhnya hanyalah nyawa lain yang akan ia berikan pada siapa saja yang memasang harga di pasar gelap--penjahat, pembunuh bayaran, orang-orang yang seharusnya sudah lenyap dari dunia ini, sebut saja.
Melalui bibirnya yang menyunggingkan senyum culas--senyum yang tak pernah kuketahui dapat ia tampilkan--dia bercerita pada seluruh negeri tentang bagaimana dia mendapatkan nyawa-nyawa tersebut.
Puluhan juta mata segera mengarah padaku.[]
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Note.
Ha, kasihan sekali.
Di dunia yang kutinggali, nyawa adalah permainan.
Kamu punya sembilan nyawa--maksimal. Dan nyawa-nyawa itu bisa diberikan kepada orang lain.
Kalau mau mati? Transfer saja semua nyawamu ke orang-orang yang masih memiliki slot kosong. Mudah.
Tapi, sekarang yang sedang menjadi tren adalah memberikan nyawa sebagai hadiah untuk sang kekasih.
Entah, ya, aku juga tidak mengerti bagaimana pacar-pacar mereka bisa mempunyai slot kosong untuk diberikan nyawa. Apa mereka sengaja membuang satu nyawa terlebih dahulu agar bisa mengikuti tren yang aneh itu?
Yang jelas, meski menurut orang-orang pemberian nyawa adalah "hadiah terbesar yang dapat diberikan untuk pasangan", menurutku sih itu bodoh sekali.
Terutama karena nyawaku tinggal satu.
---
Aku ingat pertama kalinya nyawa mengalir keluar dari tubuhku.
Rasanya seperti kematian. Final. Meski kamu tahu bahwa masih banyak nyawa yang kamu miliki, kamu tidak akan mengingatnya ketika nyawamu diambil.
Seluruh pikiranmu akan terfokus pada rasa sakit. Kesakitan yang meniadakan, menceraiburaikan segala sesuatu. Dunia meledak dalam pandanganmu.
Dan saat kamu yakin akan melihat surga atau neraka--saat itulah kamu terbangun dan menyadari bahwa satu nyawamu telah tiada.
Pertama kalinya aku memberikan nyawaku, itu adalah untuk seorang gadis.
Begitu pun dengan nyawaku yang kedua,
ketiga,
keempat,
hingga kedelapan. Semua untuk gadis yang sama.
Ya, akulah yang memulai tren gila itu.
Tapi setidaknya, aku memiliki alasan yang rasional.
---
Atau setidaknya, kukira rasional. Ternyata aku hanya naif.
Gadis itu sekarat. Dia selalu sekarat.
Tapi aku mencintainya. Aku selalu mencintainya.
Maka aku tidak pernah bertanya tiap kali dia menggenggam tanganku dan berkata,
"Aku akan mati."
Atau ketika dia tiba-tiba terbatuk dan memuntahkan darah.
Aku memberikannya nyawaku, semudah itu. Tanpa mengetahui bahwa sehari setelah nyawa kedelapanku kuberikan, dia akan menghilang--
--dan muncul kembali di layar-layar besar yang dipasang di seantero ibu kota.
Wajahnya menghiasi berita utama dengan tangan diborgol oleh aparat.
"TERBONGKAR: PENJUALAN NYAWA DI PASAR GELAP", tajuk yang mau tak mau terbaca olehku.
Nyatanya, nyawaku yang berada di tubuhnya hanyalah nyawa lain yang akan ia berikan pada siapa saja yang memasang harga di pasar gelap--penjahat, pembunuh bayaran, orang-orang yang seharusnya sudah lenyap dari dunia ini, sebut saja.
Melalui bibirnya yang menyunggingkan senyum culas--senyum yang tak pernah kuketahui dapat ia tampilkan--dia bercerita pada seluruh negeri tentang bagaimana dia mendapatkan nyawa-nyawa tersebut.
Puluhan juta mata segera mengarah padaku.[]
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Note.
Ini adalah cerita singkat yang dibuat dengan menyambungkan ideku dengan ide-ide gila teman-teman di Instagram. Awalnya aku cuma iseng membuat bagian pertama dan meminta mereka melanjutkannya. Tapi kemudian aku terkesima sendiri. Gila! Ternyata kepala manusia itu macam-macam isinya!
Awalnya kutanyakan: kenapa nyawanya tinggal satu?
Jawabannya beragam. Dari mulai mati karena tugas kuliah, ketabrak mobil, hingga jawaban yang kupilih, punyanya Jesse:
"Karena dulu dia yang memulai tren itu. Dia dulu sering ngasih nyawa ke kekasihnya."
Wah. Pembenci tren yang ternyata justru memulai tren itu sendiri? Menarik.
Terus, setelah mengolah idenya Jesse menjadi bagian kedua, kutanya lagi warga IG: alasan rasional (yang membuat dia mau memberikan nyawa ke kekasihnya) apa?
Kali ini jawaban Rifqi yang membuatku cengar-cengir:
"Kekasihnya jualan nyawa di pasar gelap terus bagi hasil."
Brilian! Kok bisa, ya, kepikiran sampai ke sana? Walaupun kuputuskan untuk nggak memasukkan tentang bagi hasil ke dalam cerita, tetap saja idenya keren banget!
Sepertinya habis ini aku bakal lebih sering main "cerita bersambung" di Instagram. Senang rasanya ada orang-orang yang dengan senang hati melanjutkan keabsurdan dalam kepalaku.
Sampai jumpa di post selanjutnya
(dan semoga kalian nggak heran dengan inkonsistensi gaya penulisan di blog ini),
Avia.
Avia.

Comments
Post a Comment