Perkara Metode Penulisan dan Penyajian Ilmiah
![]() |
| 4.5K Retweets, 8.6K Likes, dan gua yakin sebagian orang memviralkannya dengan hati ketar-ketir sendiri. |
(Eh, nggak juga sih. Kalau jurusan gua memungkinkan lulus 3,5 tahun mah gua juga mau, soalnya UKT mahal. Mending buruan lulus terus uangnya dipakai buat investasi.)
(Ya Allah banyak gaya banget padahal barusan kuis Manajemen Keuangan aja salah ngitung.)
Anyway, semakin mengingat "empat tahun" itu, semakin pula gua ingat waktu untuk merealisasikannya kian hari kian berkurang. Saat ini aja gua sudah berada di minggu kelima semester 6. Tanggal 21 Februari tahun depan, mungkin gua dan teman-teman sudah menyetor foto pribadi ke official account himpunan mahasiswa, buat di-post sewaktu research seminar yang umumnya dimulai sekitar bulan April.
Euforia tugas akhir pun sudah mulai terasa. Padahal gua tadinya nggak mau mikirin soal ini cepat-cepat, tapi ternyata nggak bisa. KRS gua kedatangan tamu yang tak lain tak bukan adalah mata kuliah MPPI—Metode Penulisan dan Penyajian Ilmiah. Matkul ini menjadi tahap awal latihan penyusunan skripsi bagi para manusia yang nulis daftar pustaka aja masih suka "Sumber: http://insert-link-di-sini.com" (iya, di antara lo pada masih aja ada oknum yang nyetor tugas kelompok dengan daftar pustaka kayak gitu kan! Kepada teman-teman seper-IKK 54-an diharap ngaku.)
Dalam mata kuliah MPPI, gua dan teman-teman Ilmu Keluarga dan Konsumen angkatan 54 sudah harus memilih topik yang akan diulas dalam tugas kami. Tugasnya sendiri ya semacam simulasi skripsi, bahkan bisa jadi skripsinya nanti adalah lanjutan dari tugas MPPI ini. Secara garis besar, ada tiga pilihan topik yang dapat diambil untuk tugas maupun skripsi kami: keluarga, konsumen, atau anak.
Dan ternyata, menentukan topik itu... susah juga, ya.
(YA IYALAH HAHAHAHA).
(YA IYALAH HAHAHAHA).
Walau MPPI bikin otak gua bekerja lebih keras dari biasanya, bagi gua pribadi MPPI adalah mata kuliah terseru di semester 6. Nggak tahu deh kalau nanti berhadapan dengan skripsi yang sesungguhnya bakal bisa bilang seru apa nggak, tapi MPPI memang seru kok. Semacam, lo diberikan wadah buat berpikir sekreatif mungkin dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Oh, please note that menulis ilmiah jauh, jauh, jauh berbeda dari menulis sastra yang selama ini sering gua lakukan. Nggak ada lagi privilege dalam bentuk kebebasan bertata bahasa. Semua kalimat harus ada S-P-O, harus mengikuti PUEBI, harus ini, harus itu.
Jujur, berat. But still, sudah saatnya mencoba. Pada akhirnya semua orang punya garis waktu masing-masing, tapi sedikit-banyak garis waktu itu juga dipengaruhi oleh diri kita sendiri. Yang pasti, karena waktu nggak pernah mau menunggu, maka kita lah yang harus berlari.
Yaudah, hati-hati kepeleset.
Cheers, Avia.


Comments
Post a Comment