Day 17 of Self-quarantine: Yang Kembali

The pandemic has gotten worse.
Sejak gua menulis post tanggal 16 Maret lalu, penyebaran Coronavirus sudah jauh meningkat. Sekarang ada 1.414 orang di Indonesia yang positif COVID-19. Sedangkan di seluruh dunia, angka yang terinfeksi mencapai lebih dari 700.000 orang. Beberapa kota dan negara memutuskan untuk lockdown. Menutup akses keluar-masuk. Beberapa berhasil mengurangi dampak negatif Corona dengan metode tersebut, ada juga yang nggak. India dengan lockdown-nya yang tanpa persiapan justru memakan korban jiwa dari rakyat kecil yang nekat pulang kampung. Ada yang meninggal tertabrak truk, kelelahan karena jalan kaki, atau bentrok dengan polisi. Jadi malah ada dua kategori kematian: death by Corona dan death because of CoronaChaos.

Sementara semua itu terjadi, Bumi memilih untuk memulihkan diri.


Polusi yang biasa memberati atmosfer perlahan berkurang. Sekali lagi semua yang bernyawa bisa menikmati udara segar. Warna-warna pun kembali menjadi lebih tajam. Langit, biru tanpa cela. Daun, hijau tanpa dilapisi debu. Dalam jeda yang entah kapan akan berhenti, ketenangan yang sempat lari datang kembali.

Dan bukan cuma tentang Bumi, somehow gua juga merasa memulihkan diri di rumah. Hari ini adalah hari ke-17 gua nggak ke mana-mana. Selama itu, gua melakukan hal-hal yang sudah lama sekali nggak gua lakukan. Hal-hal yang bahkan gua lupa bahwa rasanya semenenangkan dan menyenangkan itu ketika mengerjakannya.

Yang pertama, tentu saja tidur. HAHAHAH maaf tapi jujur gua bahagia banget bisa tidur dengan cukup di rumah ya Allah. Nggak ada lagi tuh ketiduran di kelas gara-gara malamnya cuma bisa tidur dua-tiga jam.

Bye Yasmin, nggak ada lagi ya story Tukang Pijet lagi bobo.

Selanjutnya, nulis novel. Kalau kalian ngikutin blog ini dari jaman gua SMP (atau SD, di blog gua yang lain?) pasti ngerti betapa inginnya gua menyelesaikan novel! Bukan menerbitkan, simply menyelesaikan karena selama ini belum pernah tuh gua nulis novel sampai akhir. Padahal dulu ada beberapa yang sudah mau beres, tapi tau-tau kena writer's block tak berkesudahan. Terus, yang lebih parahnya lagi, file-nya hilang karena harddisk dan laptop lama gua rusak. Great. Akhirnya sekarang gua sedang menggarap novel baru yang idenya benar-benar ditemukan sewaktu tingkat tiga ini, lupa kapannya tapi yang jelas jauh sebelum pandemi ini terjadi. Sebelumnya, selama kuliah, gua sama sekali nggak punya ide baru yang benar-benar bisa dijadikan novel. Ketika menemukan ide ini, gua tetap pesimis untuk mengerjakannya karena kayaknya nggak bisa gua selesaikan di antara padatnya kuliah dan organisasi. Makanya, ketika diumumkan bahwa IPB akan melakukan kuliah jarak jauh, gua langsung berpikir, this is the time. Kalau nggak sekarang, yaudah gak bakal beres itu novel.

Udah di halaman 28!!! Terima kasih banyak buat Fira, Umar, dan Gamal para editorku.

Tidak lupa banyaknya waktu kosong ini gua manfaatkan dengan masak-masak. Selama kuliah, kalau bukan buat bikin mie, gua nggak pernah megang kompor ya Allah. Padahal pas SD gua seneng banget tuh bereksperimen di dapur. Sewaktu beberapa hari yang lalu gua mendeklarasikan akan bikin dessert box (HAHA IYA DARI TWITTER RESEPNYA), adik gua langsung ribut, "Bu, awas Via mau masak! Ini adalah sebuah epic moment!!!111!!!!!1!" Sehina itu gua kayaknya. Oh iya, fyi, keluarga gua isinya jago masak semua. Ibu, ayah, kakak perempuan, sampai adik laki-laki gua, semuanya jago. Gua doang yang nggak. Mana abis itu dessert box-nya gagal pula HAHAHAHHAHA gara-gara gua nggak mau ngukur bahan-bahannya. Yaudah, dessert box itu gua potong-potong jadi kayak pudding untuk menyembunyikan kegagalannya.

Sumpah rasanya enak tapi. Sampai ibu gua bergumam, "Kamu bisa diperhitungkanlah dalam arena permasakan keluarga."

Gua juga sempat-sempatnya membongkar barang-barang lama dan menemukan art paper hadiah ulang tahun dari Liliyen pada tahun 2017, beberapa bulan sebelum lulus SMA. SMA adalah jaman-jaman gua senang banget gambar, probably karena adanya Anin, Aji, dan juga Liliyen yang jago gambar jadi jiwa kompetitif gua merasa tertantang. Inget banget waktu SMA pernah ngadain drawing challenge, tiap hari harus ngegambar dengan tema tertentu dan di-post di Instagram. Pulang sekolah gua suka ke Gramedia yang ada di dekat Smanti buat beli alat gambar. Walaupun skill-nya gitu-gitu aja, those days were golden. Karena cat air yang gua beli waktu SMA ternyata masih ada, jadilah gua mencoba kembali menggambar dan bermain dengan cat air menggunakan art paper dari Liliyen.

Ini ceritanya Mingyu di M/V Seventeen yang Fallin' Flowers hehehehe jiwa fangirl gua ikutan bangkit rupanya.

Bikin paper case kayak yang pernah gua bikin dan jual pas SMA! Kalau ini medianya kartu nama bekas. Gambarnya based on my favorite scene in Little Women (2019) movie, tapi karena kurang jago jadi aja kayak gitu.

Senang banget bisa melakukan aktivitas-aktivitas itu lagi. Rasanya kayak menyapa kembali kepingan-kepingan diri gua yang sudah lama terkubur. Dan gua pun senang melihat updates dari teman-teman yang rata-rata juga melakukan perjalanan lintas waktu menemui hobi lama mereka. Well, di titik ini gua jadi sadar betapa banyaknya orang yang hobi masak. Dosen, teman, keluarga, isi story-nya masaaaaaaaaaaaaak semua. Yaudah, sekalian mengakhiri post ini, saatnya gua mempromosikan channel masak Puguh Kristanto soalnya doi lucu banget, soft banget kalau lagi membawakan video masaknya huhuhu mo nangis.

Ayo subscribe sekarang.

Awas, jangan keluar rumah kalau nggak perlu-perlu amat! #dirumahaja


Love,
Avia.

Comments

  1. Nice post! Iya, mungkin emang ini hikmahnya ya huhu :")

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts