Teraduk Dalam Pandemi Corona

Infografis Corona dibandingkan dengan SARS dan MERS, sumber CNN Indonesia.

Tahun 2020 ini agaknya nggak ngasih kita waktu buat bernapas sebentar. Setelah isu World War III, sekarang ada isu baru: Corona. Virus COVID-19 yang awalnya berasal dari Wuhan, China itu sekarang sudah tersebar ke seluruh dunia dan membuat World Health Organization menetapkan status corona sebagai pandemi alias wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas.

Padahal, waktu pertama kali mendengar soal Corona ini Februari lalu, gua sama teman-teman masih dengan santai membicarakannya sebagai wabah yang terasa jauh dari kita. Palingan ketar-ketir karena EXCAP, salah satu proker hima gua yang konsepnya study visit ke tempat-tempat di luar negeri yang relatable dengan jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen, kesulitan mencari destinasi. Negara-negara yang jadi pilihan kami rata-rata terjangkit corona, meski waktu itu belum banyak.

Sekarang, selagi gua menulis ini, terhitung ada 117 orang yang positif COVID-19 di Indonesia. Kita semua pada akhirnya teraduk dalam pandemi ini.

Dan bisa jadi sebenarnya di Indonesia ada lebih banyak orang yang terjangkit, cuma belum terdeteksi. Meski tingkat kematiannya tidak setinggi SARS atau MERS, virus Corona tingkat penyebarannya tinggi. Dia menyebar lewat droplets. Walau lo sehat-sehat saja, bisa jadi lo adalah carrier dan tanpa  sadar menularkannya ke orang-orang sekitar. Makanya sekarang Presiden Joko Widodo menghimbau rakyat Indonesia untuk meminimalisir kontak fisik. Sekolah di berbagai daerah banyak yang diliburkan. Tempat-tempat kerja menerapkan sistem work from home. Beberapa kampus mengubah sistem perkuliahan menjadi online.

Di IPB sendiri, pihak kampus segera mengeluarkan surat edaran yang intinya adalah seluruh kegiatan akademik dilaksanakan secara jarak jauh hingga akhir semester genap. Ini gua posisinya lagi di tengah UTS, by the way, sehingga sisa UTS pun diundur seminggu guna mempersiapkan ujian yang mendadak diubah sistemnya. IPB juga bikin situs tanggap Corona serta fitur laporan aktivitas keluar-masuk kampus yang tersedia di aplikasi IPB Mobile. Lalu bagaimana nasib budak proker seperti kita semua? Proker-proker organisasi mahasiswa harus diundur sampai waktu yang belum bisa ditentukan, atau dibatalkan jika memang tidak memungkinkan. Semuanya berlangsung dengan sangat cepat—Jum'at lalu gua masih susah payah mengerjakan UTS mata kuliah Konseling Keluarga di kampus dan sekarang gua harus berpisah dengan kampus selama berbulan-bulan. Pasti bakal kangen banget sama bakso colok di Sapta.

No one:
Brianna di grup angkatan:

Kalau dipikir-pikir, rasanya keadaan sekarang mirip dengan film serta novel dystopian sci-fi yang sering gua nikmati. Bahkan gua bikin post yang menggambarkan keadaan pandemi ini kalau dijadikan novel. Tapi, yang menurut gua justru lebih menyeramkan dari film serta novel adalah, kita terlihat baik-baik saja. Setidaknya di Indonesia ya, karena kalau di China dan beberapa negara lainnya gua sempat melihat beberapa foto dan video yang bikin gua serasa ada di layar kaca.

Di sini, meski semua orang panik-panik ajaib di media sosial dan layanan pesan instan, dari luar everything seems fine. Ini nggak seperti zombie apocalypse di mana orang-orang berlari gak karuan. Kalau sekarang lo keluar rumah dan melihat sekitar, rasanya seolah tidak ada suatu peristiwa besar yang tengah terjadi. Kepingan dunia yang lo tinggali masih sama seperti biasanya. Hanya saja, ketika lo lihat lebih detail lagi, ada yang pelan-pelan berubah: stok-stok makanan di supermarket mulai menipis. Masker dan handsanitizer jadi barang langka. KRL mulai sepi. Rasanya seperti melawan sesuatu yang nggak terlihat, tapi perlahan menggerogoti kita semua.

Semoga semuanya cepat usai. Semoga Corona berhenti world tour dan memutuskan untuk pensiun dini. Untuk kalian yang sedang membaca post ini, selalu jaga kesehatan ya. Jangan sering-sering main ke luar. Udah, diam aja di rumah sambil baca blog gua. Eh iya, kayaknya dengan keadaan seperti sekarang gua bakal lebih sering nge-post blog, deh? Tungguin aja, ya.

Stay safe.



Avia.

Comments

  1. Stay safe sygku! Bisa banget vi bikin tulisan2 kaya gini lagi or sekedar bercerita ttg keseharianmu ><

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts