Day 70 of Self-quarantine: Kalau Dipikir, Kuliah Online Pusing Juga
Post gua yang kemarin seketika nggak relevan begitu kuliah online dimulai. Tidur cukup? Bisa nulis novel? Masak memasak? HAHAHAHAHAHAHA tertawa dalam tulisan bold. Paling yang bisa gua sempatkan cuma gambar menggambar aja berhubung gua sedang mengerjakan suatu project yang nanti akan gua bahas. Iya, setelah efektif kuliah lagi, walau jarak jauh pun curi-curi waktu sulit banget buat dilakukan.
![]() |
| Gua nggak ngambil mata kuliah itu sih, tapi semua matkul pun begini rasanya |
Selain bergulat dengan tugas-tugas yang jadi lebih banyak karena nggak cuma bersumber dari praktikum tapi dari kuliah juga, kuliah online ini turut membuat kita bergulat dengan self-control masing-masing. Segampang itu untuk benar-benar ketinggalan perkuliahan selama enam minggu. Gua jadi ngerti kenapa dalam jurnal asal Turki yang gua baca waktu ngerjain tugas praktikum Pendidikan Holistik, disebutkan bahwa orang-orang yang memang mengambil metode perkuliahan online punya performa yang lebih baik dibanding orang-orang dengan mata kuliah yang sama tapi metodenya offline (Gülbahar dan Alper, 2011) (HAHA PAKE SITASI NGGAK TUH). Orang-orang tersebut punya kontrol diri tinggi untuk mampu mengikuti perkuliahan online, makanya mereka secara sukarela memilih metode online.
Kalau di jurusan gua, Ilmu Keluarga dan Konsumen, kuliah online dilakukan dengan sarana beragam. Mengingat video conference menghabiskan banyak kuota dan nggak semua mahasiswa tinggal di daerah yang sinyalnya bagus, kebanyakan perkuliahan kita menggunakan powerpoint bersuara. Diskusi dilakukan lewat learning management system-nya IPB ataupun grup WhatsApp. Trus kalau ada yang performa perkuliahannya bagus, entah aktif diskusi atau nilai tugasnya tinggi, suka dikasih pulsa sama dosen-dosen gua huhuhu baik banget! Sesekali diadakan juga sih pertemuan tatap muka lewat Zoom atau GoogleMeet. Di sanalah kita bisa melihat keberagaman yang sesungguhnya. Ada yang udah cakep dan ngalis. Ada yang cuma mukenaan. Ada juga yang harus ngungsi dulu ke jendela biar sinyalnya bagus HAHAHAHAHA sampe dosen gua terheran-heran melihat muka temen gua berada di antara terali jendela, "Kamu ngapain itu di balik jeruji seperti di penjara saja?"
Walau banyak tantangan dalam kuliah online, sejujurnya ini sebuah pengalaman menarik juga sih. Dan rasanya kayak sebuah percepatan perkembangan teknologi gitu. Mendadak kita semua harus melek akan banyak hal yang selama ini sudah tersedia di gadget masing-masing tapi nggak dimanfaatkan. Sampai akhirnya, setelah kita bisa menggunakannya dengan baik, kita bahkan bisa berinovasi. Lihat aja tuh IPB Mobile, sekarang udah keren banget bisa presensi di aplikasi, ada pengingat kuis dan tugas, bahkan pakai night mode segala. Terus, yang menarik juga adalah wisuda di beberapa kampus tetap jalan via online. Kayak, wow! Di masa depan nanti lo bisa cerita tuh sama cucu-cucu lo gimana rasanya ketika muka lo terpampang di layar dan diliatin sama bapak rektor beserta jajarannya.
Di sela-sela kuliah dan rapat online (jelasssss proker Himaiko harus tetap jalan), gua menyempatkan diri untuk membuat project yang di atas udah gua sebutkan. Sebenarnya bingung harus nyebutnya apa, yaudah gua sebut project aja. Project yang gua maksud adalah @kalaudipikir, sebuah public account di Instagram yang nge-post pemikiran-pemikiran gua dan orang-orang dalam bentuk artwork.
![]() |
| Artwork-nya gua bikin lewat HP. Se-simple ini gambarnyaaaa soalnya jujur gua bisanya begini doang wkwkwkwk nanti mau belajar lagi ah. |
Sampai sekarang followers-nya baru 184 hahahaha yaudah deh perjalanan masih panjang. Tentu pada akhirnya sangat mungkin project ini cuma jalan di tempat, tapi setidaknya gua bisa belajar mengelola sesuatu melalui kalaudipikir. Tidak lupa gua mau berterima kasih banyak buat teman-teman yang sangat perhatian dengan perjalanan kalaudipikir sampai saat ini (padahal baru juga sebulanan HAHAHAHA). Serius gua terharu setiap ada temen yang repot-repot nge-chat gua buat ngasih saran tentang pengembangan kalaudipikir ke depannya. Nggak cuma itu doang sih, di-follow, like, atau reshare pun gua terharu! Bisa-bisanya kalian sebaik ini?!
Gua harap sih, project kalaudipikir nggak hanya menjadi sebuah selingan di sela pusingnya kuliah online. Bahkan ketika kehidupan kembali normal—kalaupun memang akan normal lagi—semoga gua masih rajin bikin post di sana. Di sini juga, deh, hahahaha. Senang ya bisa banyak nulis di blog lagi! Blogger juga mengalami perkembangan selama pandemi ini ternyata. User interface-nya baru dan rasanya agak aneh aja setelah sekian lama terbiasa dengan tampilan yang lama.
Udah ah, udah jam 00.40 nanti gua telat sahur. OIYA LUPA NGABARIN SEKARANG LAGI RAMADHAAAAAN. Sebentar lagi lebaran, malah. Lebaran pertama (dan semoga aja terakhir) yang solat idnya harus dilaksanakan di rumah. Sedih tapi ayo kita hadapi aja deh hari-hari yang penuh kejutan ini. Mohon maaf lahir dan batin, ya!
Avia.




Comments
Post a Comment