Nyanyian Sebilah Bambu

(Sebuah cerita fiksi, ditulis oleh Avia Maulidina. 2018.)


Suling bambu itu sudah licin oleh keringat dari telapak tangan Pulung. Tapi, anak laki-laki itu masih bergeming. Telinganya awas mendengarkan suara percakapan dari ruang tamu. Tamu ayahnya masih betah meski bulan sudah menggantung di luar sana. Sebagai seorang pu’un, ketua adat Badui Dalam, Parna memang kerap kedatangan tamu meski syarat untuk menemuinya sangatlah sulit. Biasanya, tamu adalah warga desa yang datang untuk meminta berkat atau minta izin menikahkan anak, namun sesekali orang-orang dari dunia luar bertandang juga. Baju mereka terasa salah tempat di sini.

Ketika suara-suara itu lenyap dan digantikan oleh langkah kaki Parna menuju kamar, barulah Pulung keluar dari bayang-bayang. Dia berjingkat melintasi rumah anyaman bambu mereka sehening mungkin, bahkan napasnya saja ditahan— takut menimbulkan suara.

Baru beberapa langkah dari ambang pintu, bahu Pulung sudah ditepuk. Semerbak honje langsung memenuhi indra penciumannya. “Mau ke mana, Pulung?”

Aduh. Sambil menelan ludah, Pulung berbalik menghadap ibunya. Wangi honje itu berasal dari rambut Naiwin. Pasti sore tadi ibunya itu habis keramas. “Iya, Ambu?”

Suara Pulung terlalu melengking, nampak jelas menyembunyikan sesuatu. Tentu ibunya tidak melewatkan hal tersebut. Matanya langsung memicing. “Mau ke mana, Pulung?” Pertanyaan itu lebih tajam kali ini.

Pulung tidak bisa berbohong. Percuma. Dia juga tidak berani mengatakan apa-apa. Jadi, anak kecil itu cuma tersenyum lemah. Suling bambunya hampir tergelincir dari tangannya sewaktu ia selipkan ke lipatan kain celana.

Tanpa dilontarkan pun, Naiwin sudah tahu jawaban Pulung. Dengan wajah mengeras, ditariknya tangan Pulung masuk kembali ke dalam rumah. Dipanggilnya sang suami. Sejurus kemudian, Pulung mendapati dirinya sudah bersimpuh di hadapan Parna, sang pu’un yang selalu diagung-agungkan seluruh Badui Dalam. Untuk menemuinya saja, orang-orang harus menembus berlapis-lapis aturan adat. Dan, walau Pulung bisa menemui ayahnya setiap hari, rasanya tetap ada ratusan lapisan di antara mereka.

“Kamu tahu kesalahanmu?” tanya pu’un. Caranya menggunakan bahasa Sunda membuat bahasa tersebut terdengar begitu kuno, begitu sakral.

Pulung mengiakan—tidak berani terlalu kencang, tidak berani terlalu lirih.

“Apa pun yang ada dalam pondok itu bukan lagi urusanmu,” kata pu’un. “Kamu adalah anakku dan Naiwin. Kebanggaan kami. Kamu tahu siapa yang telah melahirkanmu?”

“Ambu Naiwin, Ayah,” jawab Pulung. Dipandanginya tangan Naiwin yang belum lepas dari pergelangan cekingnya. Naiwin mencengkeram Pulung seolah takut anak itu akan nekat lari dari hadapan kedua orang tuanya sekarang juga. Sakit, batin Pulung.

“Apakah kamu tidak ingin berbakti kepada ambu?”

“Ingin, Ayah.”

“Apakah kamu ingin membawa cela bagi sosok pu’un dan istrinya?” Ujung-ujung bibir Pulung melorot sedikit, seperti patung lilin yang meleleh. Sepuluh tahun umurnya, selalu kesulitan dia tiap kali dicecar pertanyaan seperti itu

Pasalnya, dia tidak pernah benar-benar memikirkan tindakannya hingga sejauh itu. Dia cuma melakukan sesuatu karena itulah yang menurutnya harus dilakukan. Titik. “Tidak pernah berniat seperti itu, Ayah,” kata Pulung. Entah kenapa suaranya bergetar dan sudut matanya panas.

“Kalau begitu, pergilah ke bilikmu. Hari sudah gelap.” Pu’un melambaikan tangannya remeh, seperti sedang mengusir lalat. Pria itu sendiri tetap diam di ruang tamu, memberi pesan tersirat pada Pulung bahwa dia akan menjaga pintu agar tidak ada yang bisa keluar tanpa seizinnya.

Pulung diam saja sewaktu Naiwin mengantarkannya ke kamar di bagian belakang rumah. Sebagai balasan, satu-satunya kata yang ibunya keluarkan sebelum pergi meninggalkannya hanya, “Tidurlah,” ditambah hadiah lepasnya cengkeraman dari pergelangan Pulung.

Tidak bisa. Mana bisa Pulung tidur sementara suling bambunya terasa membakar di pahanya? Dia harus pergi. Harus memainkan sulingnya demi menyambung hidup seseorang. Orang yang sangat mencintai suling bambu, yang telah mengajarkannya cara meniup benda tersebut. Lagi pula, bukan anak laki-laki namanya kalau tidak bisa kabur lewat jendela, meski Pulung sebetulnya benci harus keluar melalui jendela kamarnya—jaraknya jauh dari tanah, belum lagi di bawahnya tumbuh subur tanaman jelatang yang mujarab membuat orang yang punya ilmu kebal sekalipun gatal-gatal.

Dia menunggu cukup lama agar ayah dan ibunya berpikir dirinya sudah tidur. Melalui jendela, dipandangnya potongan bulan di luar sana dan bergidik, mengingat-ingat bagaimana rasanya berjalan menembus malam dengan kaki gatal-gatal. Disentuhnya lagi suling bambu, mencoba mencari ketenangan dan menguatkan tekad. Meja di kamarnya sudah digeser ke bawah jendela sejak berbulan-bulan yang lalu, untuk memudahkan kalau-kalau keputusan ini harus diambil. Dinaikinya meja dan meloncat-loncatlah ia di sana, sampai momentumnya cukup untuk membuatnya meraih ujung jendela dan melontarkannya ke luar.

Pulung kurang hati-hati hingga posisi jatuhnya jadi seperti seperti kura-kura yang terbalik. Punggungnya sakit bukan main, seluruh tubuhnya sudah pasti terkena tanaman jelatang, tapi dia langsung bangkit dan berlari seperti seorang maling ayam yang dikejar warga. Tidak butuh waktu lama bagi kulitnya untuk mulai gatal-gatal, belum lagi tentang semak belukar yang menggores tungkainya, dan Pulung tetap berlari. Berlari, hingga riak sungai terdengar dan pondok itu muncul di seberang sungai.

Sekilas, orang pasti mengira pondok tersebut adalah leuit—lumbung padi. Bentuknya sama, rumah panggung kecil yang ditopang oleh empat tiang kayu dengan tinggi sekitar satu meter dari tanah. Dinding dan lantainya dari anyaman bambu, bentuk atapnya segi tiga dan terbuat dari ijuk. Yang membedakannya dari leuit biasa adalah letaknya yang terpencil, di sisi lain sungai di mana hanya ada hutan belantara.

Selain itu, tidak ada leuit yang senantiasa mengeluarkan suara jeritan. Pulung mengeritkan gigi begitu jeritan lain membelah malam, mengalahkan berisiknya arus sungai. Jeritan itu membuat Pulung begitu sedih, dia ingin segera tiba di seberang. “Tunggu sebentar!” Pulung berteriak, entah terdengar atau tidak. Dipelototinya sungai, semata-mata untuk membangun keberaniannya sendiri. Arus sungai cukup deras, kalau tidak hati-hati bisa-bisa tubuh kurusnya terbawa.

Pukul sebelas malam hari dan Pulung menerjang air sungai Badui Dalam yang membekukan. Kakinya berusaha semantap mungkin menjejak dasar sungai yang berupa bebatuan licin. Setidaknya, air membuat tubuhnya kebas sehingga rasa gatal dari jelatang tadi mereda. Suling bambunya kini sudah beralih ke dalam genggaman, khawatir hilang ketika menyeberangi sungai.

Basah kuyup dan sudah tidak gatal-gatal, begitulah kira-kira kondisi Pulung ketika tanah kembali dipijaknya. Giginya bergemelutuk. Dari dekat, suara jeritan itu makin jelas. Jeritan dan tangisan tanpa henti—hanya Pulung yang bisa menghentikannya. “Jangan menangis, tolong jangan menangis,” lirih Pulung.

Tanpa membiarkan tubuhnya beristirahat, Pulung segera menaiki pohon rambutan yang berdiri kokoh tepat di sisi pondok. Sulit, telapak kakinya masih basah sementara kulit pohon itu ditumbuhi lumut. Berkali-kali dia merosot kembali ke tanah. Kenapa susah sekali? Mendadak Pulung merasa begitu sedih. Air matanya merebak, sebuah jalur hangat membelah pipinya yang kedinginan.

Disekanya air mata. Tidak ada waktu untuk menangis. Dia punya sebuah tugas penting sekarang. Sambil membangun tekadnya sekali lagi, Pulung memanjat pohon rambutan—membayangkan dirinya adalah titisan lutung yang bisa dengan mudah mencapai pucuk-pucuk pohon.

Berhasil. Dari atas dahan rambutan, dia dapat melihat sebuah celah yang meloloskan sinar rembulan ke dalam pondok tersebut. Remang memang, tapi melihat sekelebat bayangannya saja sudah cukup bagi Pulung. Bayangan dari seorang wanita yang senantiasa menjerit, menangis, dan meratap-ratap sendirian dalam pemasungan.

Dengan hati-hati, Pulung memosisikan ujung suling bambu di bibirnya. Jemarinya menutupi lubang-lubang yang ada di sana, kemudian menari-nari seiring dengan aturan lagu. Nada-nada tinggi yang menyayat hati pun mengudara. Dalam nyanyian sebilah bambu, sebuah kisah tersampaikan. Kisah yang hanya bisa disimak oleh mereka yang bersedia mendengarkan baik-baik.

Enam tahun yang lalu, perkampungan Badui Dalam digegerkan oleh hilangnya si anak ketua adat. Semuanya bilang dia diculik. Tidak, Pulung tidak diculik. Dia waktu itu merasa bosan dengan rumahnya yang sepi, lalu suara suling bambu itu terdengar. Merdu, membuat dirinya yang masih berumur empat tahun tertatih-tatih untuk mencapai sumber suara. Alunan nada itu seolah menjelma menjadi tangan-tangan yang membuainya dan mengarahkannya ke sana.

Kaki kecil Pulung mengantarkannya ke hadapan seorang wanita, beberapa tahun lebih tua dari ibu kandungnya, yang sedang memainkan suling bambu. Suku Badui Dalam mengenalnya sebagai Sarinah, perempuan yang menjadi kurang waras sejak ditinggal mati suaminya, seorang pemain suling bambu yang handal, ketika mereka belum memiliki anak. Pulung mengenalnya sebagai ambu.

Ya, bagi Pulung, Sarinah adalah ibunya. Bagi Pulung, Sarinah tidaklah gila. Ibunya itu memang pendiam dan sering kelihatan sedih, tapi tidak pernah berbuat hal yang menyakitinya. Sarinah menyambutnya begitu ia datang, mendudukkannya di pangkuan dan lanjut memainkan suling bambu. Sarinah mengajarkannya cara meniup alat ajaib tersebut, mengeluarkan nada-nada yang membuat Pulung terbengong-bengong sendiri sewaktu memainkannya. Dia mengajak Pulung bermain di sungai, jari telunjuknya digenggam kuat oleh Pulung yang sebelumnya tidak pernah berani masuk ke dalam sungai. Pulung tertawa sewaktu air menciprati wajahnya—tawa pertama yang keluar dari mulutnya sejak empat tahun dia berada di dunia.

Sarinah terasa seperti ibu, lebih dari ibunya sendiri. Jadi, suatu hari, Pulung memeluk kaki Sarinah ketika matahari mulai tenggelam dan ia harus pulang ke rumah setelah bermain seharian. “Tidak mau pulang, Pulung mau jadi anak ambu saja,” katanya, berharap kalimatnya cukup jelas.

Sarinah menatapnya, matanya memancarkan ketidakpercayaan dan kebahagiaan sekaligus. “Pulung memang anak ambu, Sayang.” Ia berjongkok dan mengusap-usap pipi Pulung. “Pulung ingin tinggal bersama ambu?”

Anggukan mantap menjawab pertanyaan Sarinah. Maka, mulai hari itu, keduanya pergi dari perkampungan Badui Dalam untuk tinggal di hutan belantara berdua. Itu adalah hari-hari terbaik bagi Pulung. Kesedihan yang membayangi mata Sarinah pun berkurang. Mereka berkawan dengan binatang liar, makan dari tumbuh-tumbuhan. Pulung menjadi tahu kalau Ambu Sarinah biasa memainkan suling bambu hingga jatuh tertidur, karena dengan seperti itu, rasanya seperti mendiang suaminya berada di sisinya. Karena Ambu Sarinah tidak bisa tertidur tanpa alunan suling bambu, setiap malam Pulung mengajukan diri untuk memainkan benda itu untuknya. Kalau Ambu Sarinah sudah terlelap, Pulung akan bergelung di sampingnya, dan Ambu Sarinah akan refleks menarik Pulung ke dalam pelukannya meski dalam keadaan tidak sadar.

Kehidupan mereka yang tenteram bertahan hingga satu tahun yang lalu. Masih terekam jelas dalam ingatan Pulung bagaimana ketika ia bangun, sang pu’un, ibu kandungnya, dan beberapa pemuda Badui Dalam sudah berada di bagian hutan tempat ia dan Ambu Sarinah tinggal. Para pemuda Badui itu memegangi kedua tangan Sarinah sementara Naiwin menyumpah serapah dan menampar wanita itu dengan murka.

“Jangan!” Pulung berteriak dan bangkit berdiri. Jantungnya melompat- lompat dalam rongga dadanya.

Parna menatapnya, kedua matanya bagaikan milik elang yang sering Pulung lihat di sekitar sana. Ketika Pulung berlari untuk menerjang komplotan yang menahan Ambu Sarinah, ayahnya menangkapnya dan memiting tangan Pulung. Pulung berontak, menggerakkan seluruh anggota tubuhnya dengan membabi buta. Percuma. Kehabisan tenaga, dia menonton adegan di hadapannya sambil menangis frustrasi. “Dia anakku!” jerit Ambu Sarinah, meronta-ronta dengan mata hanya terfokus pada Pulung.

“Dia anakku, dasar wanita gila!” teriak Naiwin murka. Bohong. Engkau tidak pernah memperlakukanku seperti anakmu, Ambu, ingin Pulung berkata pada Naiwin. Namun, lidahnya kelu. Yang dia ingat, selama dia tinggal di rumahnya yang dulu, Naiwin hanya menemuinya seperlunya. Begitu pula Parna, sang pu’un. Sering Pulung iri ketika melihat anak seumurannya menghabiskan waktu bersama kedua orang tua, oleh si ayah tubuh anak itu diangkat dan diterbangkan ke udara, lalu ditangkap lagi, sementara ibu si anak—yang memperhatikan keduanya dengan was-was—kemudian mengambil alih anak mereka dan menggendongnya. Alih-alih seperti keluarga lainnya, rumah Pulung rasanya seperti cangkang kosong—Parna dan Naiwin tak ubahnya hiasan dinding.

Sisa hari itu berlangsung dengan cepat. Pulung dipaksa kembali ke rumah sementara Sarinah diasingkan ke pondok tanpa jendela dan dipasung karena dicap sebagai orang gila yang telah menculik anak ketua adat. Kondisi Sarinah memburuk—dalam pikiran Sarinah, anak kandungnyalah yang telah diambil secara paksa darinya. Setiap hari dia menjerit, menangis, memohon-mohon pada ketiadaan. Tali tambang melukai kulit kakinya tiap kali dia mencoba membebaskan diri.

Satu-satunya kenang-kenangan yang berhasil Pulung simpan di hari dia dan Ambu Sarinah dipisahkan adalah suling bambu tersebut. Seperti malam ini, pada malam-malam lainnya Pulung selalu berusaha pergi ke pondok Ambu Sarinah. Memainkan suling bambunya semerdu mungkin di atas dahan rambutan. Dia sempurna tidak tahu apa Ambu Sarinah menyadari keberadaannya, yang jelas suara suling bambu itu membuat histeria ambu berangsur-angsur berhenti. Dalam pencahayaan yang minim, Pulung membayangkan Ambu Sarinah tersenyum dan perlahan terlelap.

“Selamat tidur, Ambu,” bisik Pulung ketika hanya tinggal riak sungai saja yang terdengar. Dia masih terlalu kecil untuk bisa membebaskan ambu, terlalu tidak berdaya, tapi setidaknya dia bisa memainkan suling bambunya untuk mengantar wanita yang telah ia anggap sebagai ibunya sendiri tersebut ke alam mimpi. Biarlah alunan nada dari bilah bambu yang menyampaikan rasa sayangnya—bagi Pulung, itu pun cukup.

Dilemparkannya senyum terakhir ke arah pondok tersebut sebelum turun dari pohon rambutan dan meniti jalannya kembali ke rumah.

***


Comments

Popular Posts