Digilas Bintang, Dilahap Ombak

(Cerita pendek ini menempati Juara I Tulis Cerpen pada IPB Art Contest 2020 yang bertemakan face your fearDitulis oleh Avia Maulidina.)

Melihat perahu membuat Talaut mual. 

Talaut kira, selepas umurnya menjadi dua digit, dia akan lebih berani—seperti orang-orang dewasa, yang semuanya memiliki umur dua digit bahkan tiga. Sekarang, dua belas tahun umur Talaut, masih saja tangannya basah oleh keringat sewaktu mengusap sisi perahu yang telah dipelitur halus.

Ombak kecil menyapu sesekali, membuat perahu bergoyang pelan. Ada sesuatu yang membebani perut Talaut, memelintir usus-ususnya dan memintanya untuk tetap tinggal. Talaut benci perasaan itu. Benci perasaan yang membuat kakinya kaku dan menahannya pergi ke laut lepas. Kali ini tidak boleh begitu. Sudah terlalu lama Talaut menjadi pengecut. Kali ini, Talaut harus pergi. Dia sudah memastikan ibunya telah terlelap sehingga yang bisa menahannya sekarang hanyalah dirinya sendiri.

Kau anak seorang pelaut, begitulah kalimat yang Talaut ucapkan dalam hati. Berkali-kali, hingga menjadi mantra. Dan dengan mantra tersebut, Talaut menumpukan berat badannya ke kedua tangan yang mencengkeram tepian perahu, kemudian menggunakan momentum dalam lompatannya untuk masuk ke dalam perahu tersebut. Sayangnya, keringat dingin membuat tangan Talaut tergelincir. Dia mengerang ketika punggungnya mendarat terlebih dahulu di lantai perahu.

“Langkah pertama selalu menjadi yang tersulit.” Suara ayahnya bergaung, entah berasal dari mana—benak Talaut? Atau dibawa ombak? Yang jelas, dia tahu ucapan ayah benar. Ucapan itu ayah katakan pada hari ulang tahunnya yang keempat, ketika Talaut diajak melaut untuk pertama kalinya. Talaut menjerit ketakutan sewaktu ayah mendudukkannya di perahu. Suara tangisnya mengiringi setiap dayungan ayah, jauh dan semakin jauh ke tengah laut. Talaut ingat betapa ayah kemudian selalu menggodanya dengan kejadian tersebut, bahkan ketika Talaut sudah lincah menjejakkan kakinya di setiap sudut perahu.

Perahu yang mereka gunakan kala itu sekarang sudah hancur, tapi memorinya tetap ada. Sudut bibir Talaut terangkat sedikit, senang karena kenangan itulah yang memilih untuk muncul ke permukaan. Dia bangkit dan menggenggam tangkai dayung, masing-masing satu di tangan kanan-kirinya. Sudah tiga tahun berselang sejak dia terakhir kali mengayuh dayung. Kenangannya yang terakhir tidak begitu bagus, tapi sisa kenangan dari hari-hari pertamanya melaut rasanya cukup untuk membuat Talaut terus mendayung kali ini. Diliriknya lagi rumah yang ia tinggalkan di sisi pantai. Bertahun-tahun melihat malam dengan mata telanjang membuat pandangan Talaut lebih tajam, seperti orang pesisir lainnya. Rumah panggung itu terlihat tenang, tidak ada tanda-tanda lampu yang dinyalakan.

Tetap saja, Talaut harus cepat-cepat sampai ke seberang. Tidak ada yang tahu kapan ibu akan bangun. Tidak ada yang tahu apa yang akan ibu lakukan begitu sadar Talaut pergi menuju tempat bencana tiga tahun lalu berasal—tsunami Selat Sunda, yang menghempas daratan dan melahap ayah Talaut hingga tak pernah terlihat lagi.

Gigi Talaut bergemelutuk akibat angin malam yang membelai tubuhnya. Dia mendayung dan terus mendayung. Kuku-kukunya menancap pada tangkai dayung yang mulai melapuk. Dulu semua orang berkata bahwa dia memiliki bakat istimewa dalam melaut, turunan dari ayahnya. Dayung tidak pernah terasa berat di tangannya, dia pun selalu tahu tempat di mana ikan-ikan berkumpul. Tapi, ada satu hal yang hanya dia dan ayahnya tahu: daripada laut, Talaut justru lebih cinta lagi pada bintang. Dia bisa menghabiskan berjam-jam diam di tengah lautan bersama ayahnya hanya untuk mencari rasi bintang. Di tengah hamparan air laut, malam seolah menyingkapkan tirai yang selama ini menyembunyikan kecantikannya. Langit terlihat hitam legam, anggun ditemani purnama yang diredam awan tipis keemasan. Tetap saja, bagi Talaut yang tercantik adalah bintang. Bertaburan, tak ada habisnya.

Sekarang pun masih sama. Ketika ombak besar mengombang-ambingkan perahunya, yang Talaut lakukan justru berhenti sebentar untuk menengadah. Dilantunkannya pelan syair rasi bintang yang dulu kerap ia senandungkan bersama ayah. Biduk Besar—utara, tujuh bintang. Layang-layang—selatan, ikan pari. Waluku-lah sang pemburu.

“Apa rasi bintang yang paling kau sukai?” tanya ayah waktu itu, sambil mengikat beberapa bagian jaring yang terburai agar tidak ada ruang bagi ikan untuk lolos.

Talaut yang berumur tujuh tahun, sedang senang-senangnya berdiri di ujung perahu dengan kedua tangan terentang lebar, memiringkan kepala. “Waluku,” jawabnya setelah berpikir beberapa saat.

Ayah terkekeh. Dia menepuk lantai kayu di sebelahnya, menyuruh Talaut duduk di sampingnya. Talaut menurut. “Kenapa Waluku?” tanya ayah.

“Waluku-lah sang pemburu,” Talaut mengutip syair yang mereka lantunkan. “Seorang pemburu tak kenal takut. Dibanding rasi bintang lainnya, Waluku yang paling hebat.”

Tak terbayang betapa senangnya Talaut saat ayah mengacak rambutnya setelah dia menjawab seperti itu. Ayah pasti bangga dengan alasannya, kan? Malam itu, tiap kali Talaut menatap langit, dia menghubungkan titik-titik bintang Waluku. Talaut belum tahu kalau nanti ketika umurnya dua belas, saat dia terombang-ambing sendirian di tengah laut, barulah ia merasa seperti Waluku yang sesungguhnya.

Didayungnya kembali perahu agar tetap menuju utara. Perlahan tapi pasti, kampung di pesisir sana mulai terlihat. Seiring dengan mewujudnya daratan, jantung Talaut berdetak lebih kencang. Tangannya kembali berkeringat seperti ketika dia akan berangkat. Lagi, bongkahan dingin terbentuk di dasar perutnya. Rasanya dia ingin berbalik dan pergi atau mungkin melompat masuk ke dalam lautan, berubah menjadi buih. Namun, Talaut mengeritkan gigi dan menggeleng. Sudah sejauh ini. Ditepisnya rasa takut seraya menepi—pasir pantai sudah menyentuh lambung perahunya.

“Ayah, Waluku mau ikut!”

Punggung Talaut meremang. Suara anak kecil, nyaring terdengar. Talaut mengurungkan niatnya untuk turun dari perahu. Dia berdiri di perahunya, menatap ke pantai. Lima meter dari tempatnya menepikan perahu, ada bocah lelaki yang tengah memeluk kaki seorang nelayan, tidak mau ditinggalkan melaut.

“Waluku mau ikut,” rengek bocah tersebut. “Kata ayah, rasi bintang Waluku terlihat lebih bagus kalau kita sedang berada di tengah laut!”

Sang ayah tertawa, tapi bocah itu tidak memberikannya kesempatan untuk bicara. Dengan lantang, si bocah melafalkan, “Biduk Besar—utara, tujuh bintang! Layang-layang—selatan, ikan pari! Waluku—Waluku—” Mendadak dia lupa kelanjutannya.

“Waluku-lah sang pemburu.” Bibir Talaut bergerak sendiri, menyelesaikan syair tersebut. Kedua kakinya mendadak lemas. Dia jatuh terduduk, lantai perahu terasa lembab dan dingin di kulitnya. Talaut dapat merasakan pasangan ayah dan anak tersebut kini menatapnya. Suara Talaut terlalu kencang, tak mungkin dilewatkan.

Selama sepersekian detik, semesta hening. Hanya ada debur ombak, memecahkan pantulan bintang-bintang yang senantiasa mengerling.

“Talaut?”

Demi mendengar suara itu memanggilnya—suara yang sangat dikenalnya—Talaut mencengkeram dayungnya dan mulai mengayuh kembali, kali ini dengan arah sebaliknya. Biduk Besar—utara, tujuh bintang. Layang-layang—selatan, ikan pari. Waluku-lah sang pemburu. Harusnya tidak ada lagi yang mengetahui syair itu kecuali dia dan ayahnya. Ayahnya, yang hilang tiga tahun lalu sejak tsunami terjadi. Ayahnya—yang kini berada di pantai pesisir utara, tungkainya dipeluk oleh bocah kecil. Adik yang tak pernah Talaut kenal.

Selesai. Semuanya selesai sudah. Ketakutannya nyata.

Selama tiga tahun ini, Talaut tidak pernah berlayar bukan semata-mata karena takut akan laut dan tsunami yang pernah menimpa mereka. Inilah yang Talaut takutkan: kebenaran atas apa yang nelayan-nelayan itu katakan. Sebelum tsunami terjadi, beberapa kali Talaut mendengar kalimat bahwa ayah bukan hanya ayahnya. Tentu percakapan tersebut berupa sekelebat candaan antarnelayan yang dilontarkan ketika melaut—Talaut tak pernah mendengarnya begitu mereka menepikan perahu di pesisir selatan tempat rumahnya berada.

Hari ketika tsunami menghantam, hari ketika dia dan ayah melaut untuk terakhir kalinya, ayah berpindah perahu. Ketika air laut surut dan ikan-ikan bergelimpangan, bahu ayah menegang dan ia segera meminta nelayan di perahu lain bertukar tempat dengannya. Talaut ditinggalkan bersama orang itu, sementara ayah berada di perahu satunya. Ayah adalah pelaut yang paling pintar dan mengerti suasana hati laut, begitu kata orang-orang. Ayah segera tahu ada yang salah dengan surutnya air dan munculnya ikan ke permukaan. Maka, ayah pergi sambil berteriak agar Talaut tetap berada di tengah laut, tidak ke darat. “Ombak akan melindungimu selama kau masih berada dalam pelukannya,” kata ayah.

Kemudian perahu membawa ayah pergi, tapi bukan ke selatan tempat mereka tinggal. Ayah ke utara, mengikuti petunjuk sang Biduk Besar. Entah ke mana.

Talaut, umurnya sembilan kala itu, panik karena dia juga dapat mencium sesuatu yang salah. Yang diingatnya pertama kali adalah ibu, sendirian di rumah, menunggu mereka pulang. Talaut kemudian memberontak pada nelayan yang diperintahkan untuk menjaganya tetap berada di tengah laut. Dia memaksa untuk mendayung perahu menuju pantai. Dia harus memperingatkan ibu tentang apa pun itu yang akan terjadi.

Gelombang kolosal tersebut tiba tepat setelah Talaut sampai di rumah. Laut, yang selama ini menjadi temannya, meraung menerjang setiap jengkal tanah yang dia kenal. Talaut ingat, dia sempat memeluk ibunya ketika tubuh mereka dihantam oleh air yang mahadahsyat. Keduanya terombang-ambing untuk waktu yang terasa sangat lama. Ibu pingsan berkali-kali, tapi Talaut tidak pernah melepaskan diri darinya.

Biduk Besar—utara, tujuh bintang. Layang-layang—selatan, ikan pari. Waluku-lah sang pemburu. Pada suatu malam ketika mereka menunggu bantuan datang, sambil berpegangan pada sebilah kayu yang tampak seperti sisa perahu, Talaut memandangi bintang di langit. Tidak seperti laut, bintang tak pernah mengkhianatinya. Bintang tetap berada di atas sana, membentuk konstelasi yang sulit dilihat oleh orang awam. Biduk Besar—utara, tujuh bintang. Layang-layang—selatan, ikan pari. Waluku-lah sang pemburu.

Biduk Besar—utara, tujuh bintang—

“Ayahmu di mana?” Pertanyaan ibu memutus syair tanpa suara yang dilantunkan Talaut. Ibunya siuman, entah untuk yang keberapa kalinya. Waktu itu, jawaban Talaut hanyalah gelengan kepala. Dia tidak tahu. Dia juga tidak tahu bahwa pertanyaaan itu akan menjadi satu-satunya kalimat yang keluar dari mulut ibunya setiap hari. Setelah hiruk pikuk pascabencana mereda dan ayah tak kunjung pulang, ibu tak lagi berbicara kecuali sebuah pertanyaan: Ayahmu di mana? Bahkan ketika ibu marah pada Talaut atau melarang Talaut melakukan sesuatu, tetap tidak ada sepatah kata yang keluar. Satu-satunya kesempatan Talaut untuk mendengar suara ibunya hanyalah ketika ibu bertanya keberadaan ayah.

Sayangnya, ditanya berkali-kali pun, Talaut tetap tidak tahu jawabannya. Ayah pergi ke utara, mengikuti Biduk Besar, itu yang dia tahu. Setelahnya, dia tidak tahu apa yang diharapkannya: ayah benar-benar hilang, atau ayah masih berada di utara tapi tak jua pulang. Dua kemungkinan itu sama-sama membuat Talaut takut. Pasalnya, meski absen melaut dalam tiga tahun terakhir, Talaut masih sering bercengkerama dengan para nelayan. Nelayan-nelayan itu berdesas-desus bahwa ayahnya masih hidup di seberang lautan, di kampung bagian utara daerah tersebut. Kian hari Talaut pun kian mengetahui bahwa ketika Talaut berumur delapan tahun, ayahnya pergi ke pesisir utara dan jatuh cinta pada seorang wanita. Kemudian, mereka bilang ayahnya diam-diam memiliki dua keluarga. Dan pada hari di mana tsunami menerjang, ayah memilih untuk menyelamatkan keluarga yang satunya. Bukan ibu, bukan Talaut.

Talaut selalu menganggap semua desas-desus itu omong kosong. Walau demikian, dia tidak dapat mengenyahkan rasa takutnya atas kebenaran hal tersebut. Itulah mengapa Talaut enggan melaut lagi—takut kalau-kalau dia bertemu dengan ayahnya di laut lepas. Namun, pertanyaan ibu senantiasa memberatkan pundaknya: Ayahmu di mana?

Kini, Talaut bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Ayah berada di sisi Waluku, serta entah siapa wanita yang menjadi ibunya. Waluku—nama adik tirinya itu diambil dari rasi bintang yang paling disukai oleh Talaut. Sudut mata Talaut memanas. Bahkan bintang-bintang ternyata mengkhianatinya juga.

Ibunya masih terlelap di kamar sewaktu Talaut tiba. Perjalanan pulang menjadi sesuatu yang kabur di mata Talaut, dia hanya ingat untuk mendayung tanpa henti ke pesisir selatan. Talaut bergelung di tempat tidur, memeluk sang ibu dan menguburkan wajahnya dalam rambut ibu yang berombak. Tak lama lagi, ibunya pasti akan terbangun dan kembali bertanya, “Ayahmu di mana?” dengan tatapan kosong yang sama. Kemudian, Talaut akan kembali menggeleng dan menjawab dengan kalimat, “Tidak tahu,” yang sama.

Entah kapan Talaut dapat memberanikan diri untuk menjawab bahwa ayah tidak akan kembali—setidaknya, tak lagi ke rumah mereka.

***

Comments

Post a Comment

Popular Posts