Yang tidak muat untuk dikisahkan dalam prakata.
Sebelum memulai post ini, gua mau berjanji (atau lebih tepatnya memberikan peringatan) ke diri sendiri dulu: AVIA MAULIDINAAAAAAA HABIS NULIS INI, REVISIANNYA LANGSUNG KERJAIN BIAR TERHITUNGNYA LULUS 4 TAHUN!!!!!!!!!!!
Dah.
Dah.
Jadi, wahai teman-teman pembaca blog ini, gua mau mengabari bahwa gua baru saja lulus sidang kemarin, 19 Agustus 2021! Yay! Gua lulus dari Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB!
Tahun lalu pada post tentang matkul MPPI (klik di sini buat baca) gua pernah bertanya-tanya seperti ini: "Nggak tahu deh kalau nanti berhadapan dengan skripsi yang sesungguhnya bakal bisa bilang seru apa nggak". Sekarang gua menemukan jawabannya: seru!
Seru dan susah banget pengen jedotin kepala ke tembok rasanya.
Permasalahan utama gua dalam penyusunan skripsi adalah gua terlalu pengen ngambil topik yang unik. Yang masih jarang dibahas dan murni bikin gua penasaran. Nah, ketika memulai perjalanan skripsi tahun lalu, awalnya gua ingin menggunakan draft MPPI gua kan, bahasannya tentang apakah jumlah uang yang dikeluarkan pas resepsi bisa jadi penentu lama pernikahan gitu. Makanya di awal bimbingan gua mengatakan judul gua akan seperti ini: Pengaruh Karakteristik Prosesi/Resepsi Pernikahan terhadap Kepuasan Pernikahan Pasangan Baru Menikah berdasarkan Gender. Setelah dilihat-lihat kembali, dari sudut pandang gua yang sekarang, idenya masih kasar banget hahaha.
Kemudian, judul gua pun mulai berganti-ganti. Dari satu bimbingan, gua memegang rekor paling sering ubah judul. Ya iya, tiap bimbingan judulnya baru. Awalnya, gua disarankan dosen pembimbing untuk meneliti soal family planning, prenuptial agreement, sama marital commitment di keluarga baru menikah dibanding memakai judul kemarin. Kemudian, karena tiba-tiba gua punya mimpi S2 di jurusan Children's Literature, gua nekat membanting setir jadi ada tentang literasi-literasi sastranya gitu. Padahal itu cocoknya di divisi anak, bukan keluarga. Hahaha. Singkat cerita, runtuhlah semua judul itu. Nggak jadi gua pakai.
Lalu, tahun lalu tuh gua lagi senang-senangnya bikin 30 Days Challenge. Apa itu 30 Days Challenge? Itu tuh selama tiga puluh hari gua harus menaati rutinitas tertentu agar hidup menjadi lebih teratur di masa pandemi. Mulai dari sesimpel melipat selimut di pagi hari dan olah raga rutin. Juga nggak tidur lagi setelah bangun pagi—alias penyakit banget nggak sih masa pandemi tuh selaluuu aja pengen tidur lagi habis bangun?! Daaaaan setelah menyelesaikan entah ketiga puluh hari yang keberapa kalinya, gua merasa lebih ada motivasi aja gitu dalam hidup, jadi jarang ada rasa bete nggak jelas yang menyerang. Walau sekarang rutinitas gua kembali kacau (HAHAHA), pada waktu itu hal tersebut membuat gua punya ide untuk judul skripsi gua. Gua ingin mengangkat sesuatu yang berfokus pada "keteraturan"!
Setelah berbagai konsultasi dengan Ibu Dr. Ir. Herien Puspitawati, M.Sc., M.Sc. selaku dosen pembimbing, terciptalah sebuah judul: Analisis Gender terhadap Tradisi Keluarga, Ikatan Orang Tua-Anak, dan Kebahagiaan pada Generasi Z di Masa Pandemi Covid-19 (walau habis revisian nanti kayaknya gua bakal mengganti kata "terhadap" menjadi "dalam", atas saran dosen penguji).
Nah, hal yang menarik dari bimbingan Bu Herien adalah anak bimbingannya diwajibkan untuk kompak. Dari angkatan-angkatan sebelumnya pun begitu, selalu bareng-bareng gitu loh sebimbingan. Untuk angkatan 54, dalam kelompok bimbingan Bu Herien ini ada gua, Mira, Indah, Dhai, dan Michelle.
Bu Herien juga menekankan bahwa anak-anak bimbingannya harus mandiri. Revisian dari beliau umumnya berisi pengingat agar kita mengecek lagi apakah pernyataan tentang ini-itu sudah ada atau belum. Jadi kayak mengarahkan kita untuk memeriksa hasil pekerjaan kita sendiri gitu—walaupun berat, pada akhirnya gua dan teman-teman merasa lebih paham terkait apa yang kami tulis.
Kekompakan bimbingan 54 ini kayaknya sangat extra deh. Soalnya kita tiap ngumpulin draft bener-bener selalu berlima! Hahaha. Namun, karena Indah fast track, di akhir-akhir dia lebih cepat sendiri. Sisanya yang berempat? Terus aja barengan kayak gerbong kereta. Pas seminar hasil pun begitu. Jadwal semhas kan sebenarnya dikasih sama departemen dan Dhai kebagian Mei akhir, tapi akhirnya dia majukan biar nggak jauh dari yang lainnya.
Semhas di IKK seru banget! (Udah berapa kali, ya, gua pakai kata "seru"?) Semhasnya terbuka untuk umum dan memakai bahasa Inggris. Gua semhas pada 6 Mei lalu, dengan Ibu Dr. Defina, S.S., M.Si. sebagai moderatornya. Alhamdulillah lancar, satu hal yang gua banggakan adalah powerpoint gua bagus bangetttt hehehe muji diri sendiri tapi gak apa-apa deuh. Terima kasih Canva atas template-nya. Tips pakai Canva: walau ada template, ganti color palette sama foto-foto di dalamnya biar terlihat brand new!
![]() |
| Latihan bareng Baqy dan Ocha |
![]() |
| Sempat ada 70+ orang yang join, tapi pas sesi foto tentu saja kabur semua pemirsa |
Gua nggak ditanyain apa pun sama moderator pas semhas, lebih ke arah masukan sih. YA SEBENERNYA ADA SIH PERTANYAAN tapi karena gua hanya senyum dan mendengarkan dulu sebelum menjawab, pada akhirnya pertanyaan tersebut tenggelam oleh masukan-masukan dan nggak sempat dijawab. Paling pertanyaannya dari audience aja.
Hal lain yang membuat semhas seru adalah beres semhas dapat kiriman! Hahaha. Sumpah terima kasih banyak teman-teman, kirimannya sangat berarti ih terharu banget. Makanan-makanannya membuat gua tidak perlu khawatir akan kelaparan. Kalau begini gua mau sih semhas tiap hari.
Selesai semhas pada bulan Mei, satu bimbingan vakum. HAHAHA. Nggak sih, kita selalu rajin ngirimin revisian terus kok! Tapi, karena satu dan lain hal, gua, Mira, Dhai, dan Michelle baru bisa sidang di pertengahan-menuju-akhir Agustus ini. Mira pada 18 Agustus, gua dan Dhai pada 19 Agustus, dan Michelle pada 20 Agustus alias di hari gua menulis post ini (SEMANGAT CEL!!!!!!!!!!!!!! PASTI BISA!).
Dibandingkan sewaktu semhas, gua merasa persiapan gua justru lebih minim pas sidang. Setidaknya pas semhas dari jauh-jauh hari gua benar-benar menyusun sendiri berbagai pertanyaan yang sekiranya bakal keluar, trus gua hapalkan jawabannya. Dari beberapa hari sebelumnya pun gua sudah latihan. Berbeda dengan menuju sidang. Persiapan gua cuma ngikutin tabel sidang milik teman-teman gua yang sudah kelar duluan. Sidang di IKK juga ada ujian komprehensif secara lisan—ditanya suatu materi tentang keluarga, anak, atau konsumen yang dulu pernah kami pelajari. Nah, biasanya gua tuh kalau ada tes-tes begini selalu gua tulis ulang catatan gua, biar lebih hapal. Kali ini nggak, makanya gua ketar-ketir sendiri. Gua justru lebih fokus ke menyelesaikan ilustrasi project Lagu Sejarah Indonesia hahaha. Iklan dikit, single "Saatnya Merdeka (Peristiwa Kemerdekaan RI)" bisa kalian lihat videonya di sini:
Fase menuju sidang kurang lebih begini setiap harinya: santai-santai, tapi begitu sadar kalau diri ini terlalu santai (terlebih tiap kali ngebandingin diri sendiri sama betapa semangat dan ngebutnya DHAIFINA ANNAS TAZKIYA mempersiapkan sidang. Kalau lu baca ini berarti lu emang keren banget Dhai), gua langsung panik. Tapi tetap aja pada akhirnya nggak ngapa-ngapain. Tapi yaudahlah, toh Dhai juga H-3 sidang tau-tau pengen jadi atlet.
![]() |
| <3 |
Gua tadinya mendaftar sidang untuk jam 08.00, tapi dipindahjadwalkan jadi jam 14.30. Tentu saja lewat Zoom meeting karena masih dalam kondisi pandemi. Jam 14.08 gua masuk ke room yang sudah Mas Fikri (staff IKK) siapkan. Di sini gua sudah dalam keadaan panik-panik ajaib karena mau baca materi juga udah nggak masuk ke otak. Sampai-sampai manggil Mas Fikri aja jadi "Bu, eh, Pak, eh Mas."
Pada akhirnya, sidang gua diputuskan untuk mulai jam 15.00 karena dosen penguji 2 masih menghadiri sidang yang lain. Dosen pengujinya sendiri adalah Ibu Alfiasari, S.P., M.Si. (dosen penguji 1) dan Ibu Dr. Irni Rahmayani Johan, S.P., M.M. (dosen penguji 2 sekaligus moderator). Bu Herien hadir sebagai dosen pembimbing, tapi juga ikut menguji. Diundurnya jadwal jadi jam 15.00 bikin ketegangan cukup memudar, sebab ada Bu Fia dan Bu Herien yang sudah hadir di Zoom meeting dan bercakap-cakap santai. Gua pun jadi merasa semua akan baik-baik saja hahaha. Dipikir-pikir gimana ya, sudut pandang dosen ketika melihat mahasiswa yang sedang ujian skripsi? Kayaknya lucu dan kasihan gitu sama mahasiswa-mahasiswanya yang udah mengerut ketakutan.
Setelah Bu Irni datang, sidang pun dimulai dengan presentasi yang diberi waktu lima belas menit. Gua kurang lebih menghabiskan tiga belas menit, kemudian mulailah skripsi gua dibedah oleh dosen-dosen penguji. Yang paling disoroti dalam skripsi gua adalah analisis gendernya, sebab di beberapa bagian hal tersebut kurang menonjol. Belum lagi, analisis gender ini memang tricky sekali. Gua harus berhati-hati agar penyampaian yang gua gunakan masih sesuai dengan ranah keluarga yang menganut teori struktural-fungsional. Sebab, pada dasarnya banyak pandangan terkait gender ini. Beda keilmuan, beda pandangan. Bahkan dalam satu keilmuan pun bisa terdapat beberapa pandangan. Kemudian, ini juga merupakan pesan dari gua sekiranya ada adik tingkat IKK yang baca post ini: harus banget paham sama teori yang kita gunakan dan bagaimana kaitan dengan variabelnya. Alhamdulillah bagian ini memang sudah memusingkan gua sejak awal perskripsian (WKWK), jadi bener-bener selalu gua pelajari berulang-ulang karena terkadang gua suka lupa sama pola pikir gua sendiri. Hanya saja, meski gua mampu menjelaskan ketika ditanya perihal teori, dalam si draft skripsi justru tidak gua jabarkan sedetail yang gua jawab. Benang merahnya belum nampak. Gua pun diminta memperbaiki hal tersebut, bersama dengan beberapa hal lainnya.
Jujur, nggak semenakutkan yang gua bayangkan. Selama kita udah paham dengan apa yang kita tulis, semua baik-baik saja. Kayak ngobrol campur diskusi campur bimbingan hahaha. Bisa ketawa-ketawa juga kok di dalam sidangnya. Oleh karena gua nggak dandan dengan baik dan benar, pas sidang kemarin gua pakai filter di Zoom dan lipstik sama alisnya copot tiap ketawa HAHAHAHAHA malu juga ih kalau dipikir-pikir! :(
Sebelum ini, Bu Herien pernah mengatakan bahwa skripsi anak bimbingannya selalu beliau arahkan agar setara S2. Benar saja—baik ketika gua maupun teman sebimbingan lainnya sidang, dosen penguji mengatakan hal senada pada kami. Koreksiannya nggak terlalu banyak. Di akhir, ketika gua kira sudah benar-benar berakhir, tau-tau gua dapat ujian kompre hahaha. Kadang memang bisa beruntung dan nggak ditanya kompre, tapi rupanya tidak bagi gua. Nah, gua ditanya tentang bidang konsumen, tepatnya proses pengambilan keputusan konsumen dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Setelah terjawab, dosen-dosen pun meminta Mas Fikri untuk memasukkan gua ke waiting room. Tapi, Mas Fikri nggak nyaut-nyaut. Pada akhirnya, pas Mas Fikri muncul, Mas Fikri nanya, "Maaf Bu, siapa namanya yang dimasukkin ke waiting room?"
"Ya Avia-lah! Masa Bu Herien?!" Ih pokoknya itu lucu banget kalau kalian dengar secara langsung. Kelucuannya berkurang kalau gua tulis, tapi percaya deh selucu itu.
Oh iya, gua sidang kurang dari dua jam. Sekitar jam setengah lima sore, gua sudah ada di waiting room. Tidak lama kemudian, gua masuk kembali ke room bersama Adya—ponakan lucu yang usianya delapan bulan. Hahahaha random banget tapi dosen-dosen pada senang melihat anak kecil menggemaskan itu.
![]() |
| Celingak, celinguk |
Kemudian, sebelum diumumkan lulus atau tidaknya, Bu Irni bertanya, "Menurut kamu, dari skala 1-10, berapa nilai ujian kamu?"
"Delapan Bu," gua langsung menjawab. Hehehehehehe. Kalau sembilan, tentu jawaban gua juga masih ada kurangnya. Dan gua nggak yakin ada orang yang berani jawab sepuluh. Hahaha.
"Gede juga, ya. Bagus—percaya diri."
Benar kata orang-orang, emang percaya diri adalah kunci.
Pada akhirnya, gua dinyatakan lulus!!!!!!!! Senang banget. Alhamdulillah ya Allah nggak perlu pusing-pusing lagi. EH sebenarnya perlu sih karena masih ada revisian. Aslinya gua diberikan waktu satu bulan sejak sidang untuk revisi, tapi kalau ingin dianggap lulus tepat waktu (4 tahun) di SKL, maka gua harus menyelesaikan revisian dalam seminggu.
![]() |
| Sidang yang menyenangkan! Terima kasih Ibu Herien, Ibu Fia, dan Ibu Irni!!! Plus Mas Fikri!!! |
Selanjutnya hujan hadiah. Dari keluarga—Ama, Ibu, Teh Agi, Bapa, Bunda, Caca, dan tentu saja Adya yang sangat lucu, semuanya sudah menunggu berkeliling di ruangan—maupun teman-teman. Sejujurnya dikasih ucapan pun gua anggap hadiah hahaha. Pokoknya di hari sidang itu, gua merasa senang banget dan berterima kasih bangettt dengan kehadiran semua orang di hidup gua. Dan tentunya sangat bersyukur atas bantuan Allah Swt. karena semua urusan di hari tersebut berjalan lancar.
![]() |
| Disensor karena rambutnya keluar-keluar hahaha |
![]() |
| Aduh lupa di-rotate gapapa ya |
![]() |
| Disidang oleh dosen penguji cilik, "LAH ini kok di prakata masih ketulis proposal?" |
Sejujurnya awal bikin blog post ini tuh pengen nulis semua nama yang nggak cukup ditulis di prakata skripsi, tapi setelah gua ingat-ingat lagi ada begitu banyak nama dan gua khawatir ada yang terlewat!!!!! The point is, I am beyond grateful for everyone in my life. Semua yang sudah mengingat tanggal semhas maupun sidang gua, yang nyemangatin, yang jawabin pertanyaan-pertanyaan gua seputar skripsi/semhas/sidang, yang ngucapin, yang ngirim hadiah, semuanya! Semoga kebaikan kalian kembali ke diri kalian sendiri, ya!


















Comments
Post a Comment