Periode Hilang
Awal Januari, aku menghilang selama empat hari. Bukan jenis menghilang yang menguap begitu saja dari muka bumi. Ini jenis menghilang yang tidak menyalakan ponsel sama sekali. Bukan pula jenis hilang yang kabur dari tanggung jawab seperti Avatar. Aku justru hilang ketika dunia tidak membutuhkan.
Sebetulnya, salah satu rencana besarku gagal waktu itu. Yah, masih bisa diwujudkan di lain kesempatan, sih, tapi tetap saja waktu itu rasanya seperti tamparan yang menyengat. Sebelum mematikan ponsel, aku hanya sempat cerita pada Cep dan Umar yang memang sedang mengobrol denganku lewat chat. Aku tidak cerita sama sekali pada ketiga orang ini.
Tahu-tahu dalam empat hari itu, mereka sibuk mencariku ke mana-mana. Rupanya Disty punya tingkat ke-suudzon-an yang tinggi begitu orang fast response seperti aku mendadak hanya centang satu. Bertanyalah dia pada Umar, yang langsung memberi tahu duduk perkara. Kemudian, Dina dan Disty memutar otak untuk mengetahui keadaanku (Sinus terima jadi). Berakhirlah mereka pada conversation WhatsApp dengan kakakku. Awalnya menanyakan keadaanku. Lalu, meminta izin pergi ke rumahku. Karena kutolak, mereka jadinya hanya mengirim makanan.
“Teh Agi, Avia gimana kondisinya?”
Aku dipantau terus menerus (mereka nggak tahu aku sibuk main game Story of Seasons: Friends of Mineral Town di rumah). Sebenarnya pemantauan ini dilakukan secara diam-diam, tapi aku mendengarnya dari percakapan ibu dan kakakku lewat telpon. Diam-diam juga aku buka e-mail dan melihat notifikasi DM Twitter dari Disty yang hampir frustrasi.
Maka, ketika rasanya sudah waktunya untuk kembali terhubung dengan dunia luar, mereka adalah yang pertama kali aku cari. Masih tidak mau membuka ponsel, aku muncul di DM Twitter menggunakan laptop. Mengajak ke Kebun Raya. Apa istilah orang-orang? Healing? Ah, apa pun itu. Dan seperti segala sesuatu yang direncanakan mendadak, kami pergi keesokan harinya.
Dina bawa banyak makanan. Belasan kimbap. Satu tempat bekal penuh berisi jagung susu keju. Disty juga. Mie goreng dengan sosis. Kentang goreng. Tak lupa sambal, sebotol-botolnya. Sinus, nasi uduk. Sepuluh ribu dapat porsi kuli. Cuma aku yang nggak bawa apa-apa. Untungnya makanan yang ada pun sudah lebih dari cukup.
Duduk bersama mereka di atas tikar bekas karung semen yang dibeli seharga lima-belas-ribu-tawar-sepuluh-ribu, aku mengaktifkan koneksi ponsel untuk pertama kalinya sejak empat hari. Banyak sekali hal yang masuk. Aku baca beberapa saja, soalnya rasanya memusingkan (tanpa mengurangi rasa terima kasihku pada setiap orang yang sudah menanyakan kabar). Setelahnya, aku kembali menikmati percakapan dalam bentuk suara yang betul-betul terjadi di hadapanku.
Bertahun-tahun yang lalu, aku dan ketiga sahabatku juga pernah berada di Kebun Raya untuk foto buku tahunan SMP. Jauh sekali jarak yang telah kami tempuh hingga di titik ini. Titik di mana kami bertemu sebagai sekumpulan orang yang tidak benar-benar punya suatu hal untuk dilakukan. Meski begitu, kalau tidak begitu, kami mungkin tidak akan bertemu lagi di tempat ini.
Tidak akan menghabiskan seharian mengunyah makanan. Tidak akan menghabiskan seharian bercerita. Tidak akan menghabiskan seharian diterpa hujan lalu reda lalu hujan lagi.
Ternyata, bagian terbaik dari menghilang adalah ditemukan.

Comments
Post a Comment