Tutorial ke Konser Sendirian! (bohong ini click bait) (Be the Sun in Jakarta: Additional Show)

Asik, judulnya udah cocok buat muncul di bagian atas pencarian Google belum? Hahahaha. Dipikir-pikir, sudah terlalu lama aku nulis segala sesuatu buat dilihat orang-orang. Nulis demi konten. Aku kangen nulis cuma untuk sekadar nulis, cuma untuk cerita-cerita apa yang aku alami. Tanpa kepikiran, "Banyak nggak, ya, yang baca? Banyak nggak, ya, engagement-nya?" atau, kalau lagi nulis cerita, "Bagus nggak, ya, tulisannya? Bikin orang pengen baca lebih banyak tulisanku, nggak, ya? Feels-nya dapet nggak, ya?"
Kali ini aku akan kembali mengisi blog ini seperti kala SMP. Nulis karena aku mau nulis, karena aku pikir akan menyenangkan kalau pengalamanku jadi kekal dalam tulisan. Juga, karena apa yang mau kutulis berkaitan dengan sesuatu yang diawali ketika SMP.


(Oke, sebelumnya aku mau bilang: akan banyak TMI (too much information) dan remeh temeh yang ada di post ini. Aku bagi jadi beberapa bagian biar kalau skip mudah, soalnya yang penting ada di Bagian III dan IV.)

Bagian I. Latar Belakang Perkpopan Duniawi

I was such a Koreaboo back then. Kelas 7, awalnya ikut-ikutan tertarik sama Kpop cuma buat nyari topik sama temanku yang suka Korea-koreaan (hai, Syarifa!). Taunya aku berakhir suka beneran (emang anaknya gampang dihasut). Terus, main roleplayer pula. Wah, udahlah. Setengah kehidupan SMP aku habiskan dengan menjadi idol Kpop di balik layar. Kelas 8, masuk ke kelas yang isinya anak-anak Kpop—pakai HP BlackBerry, saling bluetooth lagu yang baru keluar. Tiap hari nontonin music video, mantengin grup-grup yang akan debut. Salah satunya Seventeen. Waktu itu masih ada Seventeen TV dan teman-temanku ngomongin itu mulu. Sebetulnya aku nggak terlalu mantengin, sih. Tapi karena anaknya emang suka ikut-ikutan, kalau orang ngobrolin SVT ya aku ikut nimbrung juga. Padahal mah aku nggak nonton Seventeen TV hehe (maaf Anita, jadi 90% obrolan kita di masa lalu sebetulnya aku nggak mudeng).



Ya Allah username-ku sempet @byunsooji HAHA


Kelas 9, tebak siapa yang masuk kelas langsung nyorat-nyoret papan tulis dengan tulisan, "OT12 T____T" karena member EXO ada yang keluar grup? Tentu saja aku. Walau aku melabeli diriku sebagai Koreaboo, aku nggak pernah mengeluarkan uang sepeser pun buat Kpop hahaha, soalnya aku versi bocah ingusan kala itu sadar diri nggak punya banyak uang yang bisa dihabiskan untuk Kpop. 

Cuma, pas masuk SMA nih, aku mau jadi orang yang lebih normal ceritanya. Maksudnya, dulu kan ada stigma tak terucapkan kalau suka Kpop = no life = cupu. Aku nggak mau jadi cupu! Aku harus jadi anak SMA keren! Begitu kira-kira isi otakku, tanpa mengetahui di luar sana Nadin Amizah juga suka Kpop dulunya.
Apa waktu SMA itu aku jadi keren? Nggak. Tetep cupu, tapi tidak terlihat Koreaboo. Atau, nggak terlihat-terlihat amatlah, soalnya pada saat itu walau aku nggak fangirling grup mana pun, aku tetap pasang mata sana-sini memperhatikan pergerakan Kpop. Dan, setiap tahun, bisa dipastikan ada saat-saat tertentu di mana aku naksir Seventeen. Ngomong-ngomong, kelas sebelahku hampir semua isinya suka Seventeen—mungkin kalau di takdir yang lain aku masuknya ke kelas sebelah, maka aku sudah jadi tetua Carat.

Di waktu SMA ini juga, aku menang lomba fanfiction yang waktu itu diadakan Castko x Cooking Oppa (Coppa, yang sampai sekarang masih eksis). Hadiahnya adalah aku bisa milih album apa pun. Aku sempat mau milih Seventeen yang Love Letter itu loh, tapi pada akhirnya aku milih yang lain. Kenapa? Soalnya harga yang lain itu lebih mahal. Kalau dijual lagi, aku bakal dapat untung lebih banyak—HAHAHA, maafin pemikiranku waktu itu, nggak tahu juga tuh kenapa jiwa-jiwa pebisnisnya mendadak bangkit entah dari mana. Pada akhirnya nggak aku jual juga, sih, album hadiahnya. Buat kenang-kenangan.
 
Kuliah, aku makin jauh lagi dari Kpop (kenapa bahasanya seolah kayak renungan religi gini ya?) Aku waktu di asrama bahkan pura-pura nggak ngerti Kpop! Nggak tahu kenapa! Mungkin masih ada sisa-sisa pikiran aku nggak mau jadi cupu! Aku harus jadi anak SMA kuliah keren! Tapi, tentu saja, aku masih mengikuti Kpop. Terutama girl groups, pokoknya aku suka semua grup perempuan Kpop. Nggak jadi penggemar grup tertentu, tapi. Rata aja, walau Oh My Girl dengan fairy concept-nya tetep nomer satu, titik.
Lalu, di waktu kuliah, mendadak seluruh dunia berubah. Tentu saja karena pandemi.
Kalau ada riset tentang Kpop, aku mau bikin hipotesis kalau perilaku stay at home ketika pandemi berkorelasi positif dengan perilaku fangirling Kpop. Coba hitung aja teman-teman kalian, berapa banyak yang jadi Kpop fan jalur pandemi? Berapa banyak yang tadinya nggak kalian sangka bakal suka Kpop, tahu-tahu bikin story isinya cowok Kpop dengan caption halu? Semua lapisan masyarakat dijajah Kpop, jauh sebelum dijajah Mixue. Nggak ada lagi, tuh, stigma Kpop = cupu. Di balik ava Korea di Twitter, kita akan menemukan mahasiswa berprestasi, model yang suka muncul di iklan, dokter, segala macam orang keren pokoknya.
Apakah dengan penjelasan di atas, aku masuk gelombang yang ikut aktif menggemari sebuah grup lagi karena pandemi? Bukan, sih. Penjelasan itu cuma sekadar menggambarkan aja kalau emang Kpop di Indonesia udah bukan hal aneh lagi. Tapi, aku ngikutin Seventeen bukan karena itu, melainkan karena...

Nganggur.


Bagian II. Kembali ke Jalan yang Dibilang Lurus Juga Nggak

Habis lulus, bingung mau ngapain kan. Aku nggak pernah kehabisan hal buat dilakukan, sih—nulis, ngegambar, ikut project sana-sini karena akulahhh si paling banyak hobi—tapi pada akhirnya aku butuh hiburan yang bener-bener 1000% hiburan tanpa bikin capek. Jadi, aku dengan kesadaran penuh mencoba untuk nge-stan satu grup secara spesifik lagi. Semua diawali dengan... nonton Going Seventeen.
Oh, tentu saja, menjerumuskan diri ke setumpuk manusia-manusia Kpop sangatlah mudah.
Aku maraton nonton Going Seventeen DI TV RUANG KELUARGA. Ama sama Ibu sampai terheran-heran ngeliatin Seungcheol dkk nanem padi di episode Vernon Padi apalah lupa judulnya. Suatu hari aku iseng minta didoain jodoh dengan Kim Mingyu dan perbincangan kita berakhir seperti ini:


(Berbulan-bulan kemudian, percakapan serupa juga terjadi antara aku dan Ama, dengan nada serius yang sama dari ayahku itu).
Lewat Going Seventeen, aku merasa kalau Seventeen ini seru banget—belum lagi dengan kepribadian anggota-anggotanya yang beneran bermacam-macam. Aku suka menyaksikan dinamika pertemanan mereka. Dan, entah bagaimana, rasanya kayak ngelihat teman-teman sendiri lagi main. Rasanya kayak punya teman-teman baru. Rasanya dekat.
Aku suka mereka semua sebagai satu kesatuan, tapi kalau urusan bias, lama-lama aku terkesima sama Dino. Si bungsu. Kenapa, ya? Mungkin karena kalau dia tertawa, giginya kelihatan semua. Lucu. Pun tawanya terdengar menyenangkan. Mungkin juga karena usaha kerasnya untuk tetap bikin konten-konten Going Seventeen menarik, walau usahanya itu agak sering diganggu gugat para kakak-kakaknya ya HAHAHA. Mungkin karena, meskipun jadi yang paling muda, dia juga tetap terlihat seperti orang yang bisa menempatkan diri secara dewasa. Dia ini ternyata aslinya anak sulung—itu menjelaskan kenapa di mataku dia masih ada pembawaan anak sulungnya gitu. Dan, yang terakhir ini sudah pasti, dia kalau di stage betul-betul memukau. Aku kagum, selalu kagum, sama orang-orang yang menguarkan cahaya ketika melakukan hal yang mereka suka.

Aku pernah bikin music video pakai Joshua sebagai inspirasi


Jadi, ya, aku suka grup Kpop secara spesifik lagi. Itu bulan Juni kalau nggak salah. Hanya saja, beda dengan waktu SMP di mana aku punya banyak banget energi buat bikin akun khusus fangirling, kenalan sama temen-temen internet yang juga suka Kpop, kali ini aku lebih... suka Kpop untuk diriku sendiri? Semacam itu. Walau begitu, aku jadi bingung juga mau ngobrol sama siapa ketika butuh lawan bicara untuk cerita soal Seventeen. Untungnya, kemudian muncul Gita yang terjerumus Going Seventeen juga. Bersama-sama kita bersedih hati karena duo pengangguran itu nggak punya income buat beli tiket konser Seventeen.



Lalu.

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1M0xYbQ_ZZXwaNy41F4s3zdDLkNawh9_b
(Tahu-tahu.)



Bagian III. Menuju Additional Show


WOWWWWWWWWWWWWWWW.
Inilah takdir. Hahahaha. Kayak, timing-nya sangat tepat. Ketika itu, aku sudah kerja juga, kan. Udah punya uang sendiri. Tentu saja aku nggak mau melewatkan itu.

Walau akhirnya kelewat juga.
HAHAHAHA. Jadi gini. Ticketing terjadi sebelum aku gajian! Aku belum bisa nabung karena di bulan itu masih jadi anak probation yang dengan bodohnya bisa ngabisin hampir 70K buat ongkos per hari! Setelah menjadi PKWT yang lumayan pintar, aku jadi tahu kalau ongkosku PP Jakarta-Bogor sesungguhnya cuma 25K per hari.
Yaudah, aku kira aku nggak akan nonton kan. Tapi, ternyata aku masih kepikiran terus. Jadilah, setelah aku jadi PKWT dan gajian, aku cari tiket. Jujur, bingung mau yang mana posisi duduknya.


Pokoknya, setelah konsultasi sana-sini, aku memutuskan untuk lebih baik pilih tribun yang depan. Alasannya:
  • Ini konser pertamaku (selain pensi sekolah dulu), jadi lebih baik memulai dengan tenang.
  • Konsernya weekday, aku bakal datang habis kerja. Pasti mepet ke jam mulai. Kupikir lebih baik milih tempat yang udah pasti.
  • Aku sendirian dan takut diriku ini awkward aja gitu di tengah orang-orang yang nggak kukenal (tentu ini cuma pemikiranku, ya, karena sebetulnya oke-oke aja kok orang lain yang ngonser sendiri).
Sayangnya, tribun depan sold out semua waktu itu. Hahahaha, kok ya banyak banget cobaannya? Akhirnya, dengan bermodal doa agar aku cukup cermat untuk tidak kena tipu seperti stereotipe yang akhir-akhir menempel pada anak Kpop, aku nyari orang yang jual tiket di Twitter. Setelah minta berbagai macam bukti dan video call dengan seller-nya, aku betul-betul jadi beli! Terima kasih banyak Sonia! Kalau-kalau kalian mau beli dari WTS dari Twitter juga, ini bisa jadi bermanfaat:
  • Cek dulu akunnya. Memang akun khusus jual beli yang followers/ing-nya dikit ada kemungkinan scammer, tapi nggak semuanya begitu. Cek tweets, testimoni, juga interaksi akun tersebut dengan yang lain.
  • Tanya nama asli seller tersebut, terus kalian cari namanya di Google dengan tanda petik. Misal, namanya Avia Maulidina, kalian cari aja "Avia Maulidina". Tanda petik itu berarti Google akan mencari frasa yang sama persis dengan yang kalian tulis, sehingga memudahkan kalian untuk ngecek background orang tersebut.
  • Cek akun media sosial asli si seller.
  • Minta video bukti.
  • Minta video call untuk memperlihatkan bukti.
  • Cek nomer ponselnya di GetContact.
  • Cek secara online rekeningnya pernah dilaporkan sama orang lain atau nggak.
  • Catatan. Kemarin aku nggak sampai minta KTP dll, sih, karena sebenernya seller juga dalam keadaan rentan kalau sampai ngasih terlalu banyak informasi. Sebab, banyak juga "buyer" yang sebenarnya adalah para scammer yang sedang nyari bahan untuk nge-scam orang.
Sejujurnya, untuk meminimalisasi segala risiko, menurutku mending tunggu aja sampai mendekati konser, soalnya biasanya ada tiket yang dijual kembali oleh promotor. Selama masih bisa beli dari promotornya langsung, lebih baik itu aja, ya. Biar aman.
Inilah. Pengeluaran pertamaku untuk Kpop. Nggak lama kemudian aku beli album juga, sih...


Semakin mendekati 28 Desember, sebenarnya aku justru nggak terlalu mikirin konsernya. Nggak sempat fangirling juga karena lagi banyak ngurusin kerjaan serta lomba. Bener-bener santai banget aja gitu. Paling beli tas PVC, soalnya dari promotornya ngewajibin pakai tas itu. H-5 sebelum konser, barulah aku cari tahu banyak hal terkait konsernya. Twitter sangat membantu sih, terutama autobase-nya Carat (nama fans Seventeen). Aku juga nyari grup WhatsApp untuk section yang sama denganku.


H-3 konser, kakakku mendadak suka Seventeen juga. Suka Dino juga, pula.


H-1 konser, aku dapat tiket fisik! Jadi, sebelumnya tiketnya tuh berupa e-tiket. Febri, temennya Sonia, bersedia untuk bantuin menukarkan tiket—sekalian dengan punyanya dia. Dia ngantri dari jam 7 pagi sampai sekitar jam 1 siang, sementara aku ngantor. Tiketnya kemudian dikirim lewat Grab Express. Untungnya, aman-aman aja. 


Aku pun bikin rencana untuk hari H. Bagi teman-teman sesama anker (anak kereta) yang bakal PP ngonser dan nggak mau bolos kerja, rencana ini bisa ditiru:
  • Di hari H konser, aku akan berangkat kerja pakai tote bag. Biar bisa dilipat dan dimasukkan ke laci meja kantor, soalnya aku ke venue pakai PVC saja.
  • Laptopku akan kusimpan di loker temanku yang ada kuncinya.
  • Aku nggak akan bawa bekal, soalnya seluruh isi tasku juga akan disimpan di kantor.
  • Outfit-ku adalah outfit yang masih bisa diterima untuk ngantor, tapi bisa dipakai main juga, plus nyaman untuk naik kendaraan umum dan ngonser.
Kaos kebanggaanku soalnya aku bikin dari artwork-ku sendiri! Kebetulan warnanya pas sama warna BeTS. Untuk kemejanya, warnanya biru muda yang masih masuk sama warna fandom-nya Seventeen, lah, ya. Tempat kerjaku nggak begitu strict soal baju, sih, tapi kalau mau lebih formal tinggal dikancingin.
  • Aku akan bawa goodie bag yang dilipat kecil, jadi tas PVC-nya bisa dimasukkin ke dalam goodie bag pas pulang konser, untuk alasan keamanan aja sih.
  • Kemudian, aku akan melaju dengan kecepatan penuh begitu jam 5 datang, naik ojek online dari Matraman ke Stadion Madya Gelora Bung Karno gate 1. Kenapa ojek online? Soalnya kalau moda transportasi lain takut ada keterlambatan dan kendala lainnya, sementara waktuku mepet.

Bagian IV. Konser Penuh Hujan

Ada kabar sedih untuk konser kali ini. Harusnya, kita melihat Seventeen bertiga belas, sayangnya Minghao sakit dan nggak bisa ikut konser.
Sepanjang ngantor di hari H, jujur nggak tenang HAHAHA. Pertama, ada kabar bahwa tanggal 28 Desember Jabodetabek bakal badai. Kedua, hari itu ada karyawan yang kesurupan, pula. Aku menenangkan diri dengan masuk-masukkin barang-barang buat konser ke dalam tas PVC yang memang sudah beberapa hari aku simpan di laci kantor.

Tampak depan (rotinya kemudian aku keluarin, terlalu makan tempat)

Tampak belakang

Tampaknya tidak tenang

Isi tasku hal-hal esensial aja, sih. Aku nggak bawa card holder dan light stick da emang nggak punya :( hahahah. Ini isi tas PVC-ku yang nggak seberapa besar itu:
  • Tiket fisik (yang kemudian akhirnya aku keluarkan dan pakai di pergelangan)
  • Powerbank dan kabelnya
  • Hand sanitizer
  • Masker cadangan
  • Dompet
  • Snack berupa cokelat (dibolehin promotornya bawa)
  • Jas hujan sepuluh ribuan karena lebih compact
Kalau lagi solat, jangan lupa bawa mukena, ya.

Malah dia yang nggak sabar.

Dari jam empat mejaku udah kosong, kerjaannya udah pada aku kelarin juga. Terus, aku nungguin jam di mesin absensi berubah jadi 17.00 hahaha. Langsung pergi, deh, naik Gojek. Lima menit sebelum sampai di tempat tujuan, eh... hujan. Awalnya gerimis, tapi berubah dengan cepat jadi HUJAN BESAR. Sengaja di-capslock biar keliatan beneran besar hujannya. Lutut sampai kakiku kuyup semua.
Di gerbang menuju area konser, dicek dulu tiket dan barang bawaannya. Masuk, deh. Bingung, sih, karena 10000% sendiri dan pertama kalinya pula.







Pokoknya tips dariku:
  • TENANG AJA biar nggak terlihat kayak anak ilang (which I was).
  • Kalau kalian mau, boleh ngajak ngobrol orang. Kenalan sana-sini. Nggak juga gapapa (aku nggak, soalnya niatnya semacam... me time? Hahahaha).
  • Cari tahu alurnya. Dengarkan kilasan-kilasan informasi yang lewat dari percakapan orang. Kalau ada antrean, cari tahu itu antrean buat apa.
  • Kalau nggak tahu atau nggak ngerti, TANYAAAA.
  • Baris dan jalan sesuai aturan, sesuai section.
Oleh karena keadaan yang hujan dan area yang outdoor
di lapangan, sepatuku jadi jeblok. Mana pakai sepatu warna terang, pula. Nyesel nggak beli cover sepatu huhu.


Ini kondisiku menuju tribun B1:


Begitu masuk ke dalam, WOW LUAS BANGET. Banyak banget orang, betul-betul banyak. Cocok buat reality check bagi kamu yang sukanya mengkhayal jadi jodoh idol Kpop (alias aku). Orang-orang di section yang standing semua warna-warni karena pakai jas hujan. Lucunya, aku malah ngelihatin orang-orang dulu, baru habis itu nyadar kalau yang harusnya aku lihat pertama itu, kan, stage-nya. Hahahaha. Stage-nya besar dan layarnya bisa nutupin rumahku.


Aku langsung cari kursiku. Nanya ke sana kemari. Akhirnya ketemu. T49. Posisinya di atas bangeeeeet. Di kiriku kemudian datang dua orang gadis Thailand. Di kananku beberapa menit sebelum konser datang seorang laki-laki sendirian. Selama menunggu konser mulai, diputar berbagai music video Seventeen. Orang-orang pada ikut nyanyi. Terus, di bagian standing, satpamnya juga mendirikan sekte Horangi seperti Hoshi, hahaha. Gemas. Sayangnya nggak sempat aku videoin.


Pukul 7.10 malam, konser Be the Sun in Jakarta: Additional Show dimulai. Stadion gelap, cahaya cuma berasal dari stage serta Caratbong—nama lightstick Seventeen. Seventeen pun muncul! Terima kasih kepada layar-layar segede rumah itu, dari tribun atas pun aku bisa melihat muka para member yang disorot satu per satu. Setiap berganti member, gegap gempita muncul dari para penonton. Apalagi ketika di akhir opening, Hoshi maju dan menembakkan asap ke udara. Keren banget!



Satu per satu lagu ditampilkan. Gila. Suaranya. Energinya. Dari tribun atas susah untuk melihat keadaan cuaca, tapi pas lihat ke layar... LAH KOK UDAH MIRIP HUJAN BADAI. Keren banget, mereka betul-betul tetap perform dengan sempurna. Dari awal mereka sudah bilang berkali-kali, sih, kalau mereka sudah lama nggak perform di tengah hujan dan pokoknya mereka mau kita semua senang-senang ketika hujan begini. Aku attach beberapa penampilan favoritku dalam bentuk video, ya.











Jadi, gimana kesanku terhadap satu per satu orang di Seventeen?
  • S.coups. Sekarang aku mengerti kenapa semua orang mendengungkan INILAH ALPHA MALE SESUNGGUHNYA, DEFINISI DARI LAKIK, ORANG YANG BISA MEMBUAT TAKLUK PARA GIRLBOSSES SEKALIPUN. Soalnya, hawanya memang begitu. Dia punya karisma. Caranya ngomong, tenang dan serius, betul-betul kelihatan memikirkan segala sesuatu dalam ucapannya.


  • Jeonghan. Ini mah beneran tokoh Webtoon menjalani kehidupan isekai ke dunia nyata. Hahahaha. Jeonghan itu... apa, ya, kata yang pas untuk menjelaskan dia? Delicate. Kalau di Going Seventeen kita banyak melihat sisi playful dari Jeonghan, kemarin yang banyak tertangkap di mataku adalah dia yang lagi menunjukkan sosok "abang"-nya. Lembut dan somehow sendu. Meski begitu, tetep aja jailnya banyak, kok hahahaha.
  • Joshua. BeTS Additional Show ini digelar dekat hari ulang tahun Joshua di tanggal 30 Desember, jadi Carats pada nyanyi happy birthday. Terima kasih kepada layar besar, aku jadi bisa melihat jelas mata Bambi milik Shua yang bener-bener kayak mozaik kaca berkilauan. Joshua perhatian, baik banget. Dari awal selalu ngingetin ini itu agar kita nyaman dan aman pas konser. Dia ngomongnya dalam bahasa Inggris, jadi nggak perlu translator lagi. Shua juga semangat banget sampe kepeleset—dari atas ITU KELIHATAN BANGET KEPELESETNYA JAUH DAN KENCENG. Panik mah ada.
  • Jun. Wah, Jun ternyata karismatik banget. Ini menarik juga menurutku, soalnya selama ini kulihat dia banyak haha-hehe kalau sedang bersama Seventeen, kan (yang menurutku gemesss banget), tapi kemarin ketika ngomong tuh keren banget gitu, hawanya beda ketika di atas panggung berhadapan dengan Carats. Terus, karena rambut Jun pirang, dia yang paling gampang dikenali dari tribun atas hahahah. Jun salah satu yang paling bikin aku oleng pokoknya.

  • Hoshi. Bagiku pribadi, dia ini MVP-nya. Dia betul-betul energinya nggak habis-habis dari awal banget konser. Dia jadi yang pertama jalan ke extended stage ketika perkenalan. Hoshi ketika dilihat langsung (oke, dilihat langsung DARI LAYAR) jauh lebih ganteng dari yang kusangka. Kayak, aku tahu dia ganteng, tapi ternyata seganteng itu. Mana cengar-cengir mulu, menggemaskan. Dia jago banget bikin crowd jadi ramai.

  • Wonwoo. Duh, dia ini konser kemarin sempat pakai kaca mata gitu kan (kalau kata yang lain, dia tahu pasarnya, hahaha). Tiap muncul di layar, SATU STADION TERIAK. Beneran tiap muncul, teriak. Hahahaha. Wonwoo kalem, tersenyum simpul ke sana-sini seperti kepala negara sedang memperhatikan rakyatnya. Apa, ya, presence dia tuh memang soothing dan reassuring gitu.
  • Woozi. Aduh orang ini... Menurutku dia bisa dengan mudah bikin semua orang sayang sama dia tanpa mengungkapkan apa pun. Ketika sesi ment dia nggak banyak omong, hampir-hampir nggak ngomong sama sekali, tapi dari sorot matanya tuh kita kayak langsung tahu kalau sebetulnya banyak hal yang sedang dia pikirkan di otaknya. Memang cara mengungkapkannya aja yang bukan dari lisan, makanya dia bisa bikin banyak lagu yang benar-benar menyentuh. Woozi juga kalau nyanyi betul-betul dari hati. Aku suka waktu dia pakai trapper hat, gemas sekali.
  • Mingyu. Gede bangeeeet, dari atas pun kelihatan dia ini paling gede. Dia terverifikasi lucu dan menggemaskan, sangat gamblang menunjukkan perasaannya kalau dia senang berada di konser ini, PLUS tebar pesonanya pinter bangeeet ini orang. Dia ganteng dan dia sadar itu hahahaha. Rambutnya sudah panjang sewaktu konser, jadi bisa kibas-kibas keren sambil bikin hujan lokal.
  • DK. AH SUARANYA JUARA SIH DIA INI. Aku suka banget kalau dia tiba-tiba nyanyi nada tinggi gitu. Selama ini aku selalu penasaran, apa iya kalau dengar live tuh bakal sekeren yang ada di video-video? Lah, ini malah lebih keren! DK juga semangat banget, senyum gigi terus, aduh terpesona. Lincah banget juga ini orang, rame betullll. 

  • Seungkwan. LUCU BANGET DAN BAIK BANGEEEET. Apalagi waktu pakai topi beret, ah gemas. Seungkwan selalu ada aja ya tingkahnya, Bung—dia yang pertama kali memanfaatkan hujan buat sok-sokan berada di drama Korea. Dia ini kalau ibarat kepanitiaan adalah PJ encore. Dengan santainya turun mendekati para Carats dan nyari anak orang untuk nyanyi Aju Nice. Terus sempet nyanyiin bagiannya Joy di lagu Feel My Rhythm juga gara-gara confetti! Cutie.

  • Vernon. Aku selalu menganggap suara Vernon itu keren dan kemarin SENANG banget bisa dengar secara langsung. Vernon juga kalau udah di stage bener-bener terlihat menikmati dirinya sendiri, kayak gestur tubuhnya tuh adalah gestur milik penampil sejati hahaha. Oh, dia kan baru ngeluarin mix tape juga, ya, dan kemarin dia nyanyi cuplikan Black Eye secara live. Dua kali! Stream Black Eye, everyone!

  • Dino. Wah, aku bisa-bisa bikin satu post tersendiri soal Dino. Hahaha. Terpesonaaaa banget, titik. Dia bener-bener... passionate ketika di stage. Bener-bener energinya ketika perform bleberan ke mana-mana. Terus, kocak banget juga DAN SEMESTA KAYAK MENDUKUNG DIA UNTUK JADI KOCAK. Contohnya, pas ment tiba-tiba angin bertiup ke dia sampai rambutnya berayun-ayun gitu. Akhirnya aku bisa lihat langsung senyum gigi Dino ditambah dengar suara tawanya yang khas itu! Dia kalau ngomong bahasa Inggris lucu banget, rasanya kayak dia keluarin aja udah segala jenis kalimat yang terlintas di otaknya (atau yang ada di script) tanpa dipikirin dulu. Pusinglah udah, super gemes.



Selama konser rasanya memang agak ngawang, sih, seolah nggak nyata hahahah. Aku mikir, "So I really end up watching a concert, afterall." Dari SMP aku pengen nonton konser Kpop, tapi nggak pernah terwujud! Lalu, terwujudnya sekarang, dengan sosok-sosok yang sudah hadir sejak aku SMP pula. Di satu titik ketika konser, aku jadi sadar betapa semakin dewasa kita bisa sedikit demi sedikit mengabulkan permintaan-permintaan remeh temeh kita sewaktu kecil. Juga, aku merasakan langsung betapa bentuk rasa sayang manusia itu unik dan bisa jadi sangat powerful. Di sana, ada banyak cinta mengudara. Betapa satu orang manusia bisa menerima begitu banyak cinta dari ribuan orang sekaligus. Aku pun memikirkan seberapa besar usaha yang sudah dilakukan oleh orang tersebut untuk sampai pada titik ini. Nyatanya, jerih payah mereka nggak sia-sia.

Jadi, gimana rasanya menyaksikan konser dari atas tribun depan? Untuk kalian yang mau menyaksikan konser juga, aku berikan gambarannya.
Keuntungan section tribun ketika konser outdoor di GBK:
  • Nggak kebasahan. Aku lihat banyak Carats yang standing sampai ponselnya rusak.
  • Nggak pegel, besoknya masih bisa kerja dengan sehat wal afiat.
  • Bisa lihat keseluruhan area konser dengan jelas, termasuk nyala lightstick yang cakep banget.
  • Keluarnya gampang karena dekat pintu keluar.
Kekurangan section tribun ketika konser outdoor di GBK:
  • Nggak bisa lihat secara langsung muka cowok-cowok Kpopmu kalau kamu kebagiannya tribun atas. Kurang tahu kalau di bawah.
  • Kalau lagi perform di main stage, nggak kelihatan :( Cuma dari layar aja.
  • Nggak bisa sejingkrak-jingkrak itu.
Setelah Aju Nice yang nggak kelar-kelar akhirnya kelar, aku langsung pergi ke luar area konser. Satu penyesalanku adalah... JAS HUJANKU KETINGGALAN. Maaf banget, beneran lupa. Aku kemudian langsung nyari ojek di luar. Karena sinyal jelek banget padahal pakai provider berinisial T sembilan huruf, jadilah aku nyamperin bapak-bapak ojek yang nawarin langsung. Aku mau langsung ke Stasiun Manggarai karena takut ketinggalan kereta, lalu dipatok 50K. Mahal, sih, tapi yaudah gapapa. Toh, kalau pakai ojek online juga aku sempat cek sekitar 35K, itu bahkan ketika lengang. Kalau lagi high demand, entah sampai berapa.

Aku sampai di Stasiun Manggarai jam 11 deh, kira-kira. Tas PVC-ku aku masukkan ke goodie bag. Terus, aku naik kereta. Sampai Bogor jam 12. Perkonseran duniawi ini pun selesai. Banyak yang kena post-concert depression, tapi kurasa aku nggak. Nggak terlalu, sih—soalnya kadang tiba-tiba kangen Seventeen HAHAHA. Kebayang kalau standing dan di dekat barikade, kayaknya parah deh PCD-nya. Walaupun begitu, next time aku mau nonton lagi di section yang standing, pokoknya! Mau nyoba datang konser bareng teman juga, soalnya kemarin ternyata banyak teman-temanku yang datang ke BeTS.

Sampai jumpa di konser selanjutnya!


Love,
Avia

Comments

Popular Posts