Kepada Avia di Masa Kanak-Kanak hingga Remaja

Vi,

Ketahuilah bahwa nulis blog itu bukan sesuatu yang mudah lagi. HAHAHAH. Ya ampun, terakhir post di tahun 2022–sewaktu gua habis nonton konser Seventeen! Tapi tenang aja, blog ini akan selalu menjadi check point dalam hidup gua, kok. Di mana lagi gua bisa menulis tanpa mempedulikan tatanan kata dan sebagainya? Lagipula, dengan memelihara blog ini, rasanya gua jadi tetap terkoneksi dengan diri gua di masa lampau. Gua masih nulis diary juga, sih, tapi kan tidak sekomprehensif blog yang merangkum belasan tahun kehidupan dalam satu situs saja. Fosil gua menjadi penggemar anime yang me-review Another serta Akatsuki no Yona bahkan masih ada di sini. Tiap buka blog ini, gua senang pokoknya. Pengingat kalau gua sudah menjalani masa kanak-kanak dan remaja dengan baik—alias bersenang-senang 24/7.

(Dipikir-pikir, bisa jadi kalau selama ini nggak ada post di blog ini, gua justru udah sukses karena mengisi hidup dengan HAL-HAL BERMANFAAT.)

(Yaudah gapapa, mau gimana lagi.)

(Apa yang gua lakukan juga bermanfaat, kok.)

(Bagi gua sendiri.)


Berbeda dengan Raditya Dika yang memulai karirnya sebagai blogger lalu menjadi kaya raya di usia dewasa muda, walau gua rajin bikin blog juga ternyata emang gua masih jadi biasa-biasa aja di usia menjelang dua puluh lima ini. Ternyata gua bukan orang terpilih, guys. Terkait usia dua-puluh-empat-dua-hari-lagi-dua-puluh-lima, kalau ini diumumkan pada diri gua di tahun 2014, gua pasti akan memekik, “Ih, tua banget!” soalnya dulu gua tuh kalau baca novel maksimal umur tokoh utamanya 19. Lebih dari itu, gua malas bacanya. Yah, jangan khawatir, remaja sombong itu sudah ditampar oleh kehidupan sekarang.

Dulu, banyak banget hal yang belum gua tahu. Belum gua mengerti. Sekarang juga masih banyak, sih, bahkan ada hal-hal yang gua mengalami kemunduran—gua sekarang nggak ngerti gimana caranya naik sepeda! Gua sekarang sudah tidak se-fearless itu lagi! Gua mulai mengadaptasi paranoia ibu gua terhadap segala sesuatu, contohnya kalau ke bioskop suka kepikiran kalau tiba-tiba gempa gimana! Tapi, gua yakin seyakin-yakinnya, kalau Avia semasa blog ini dibuat bertemu dengan Avia yang sekarang, banyak hal yang bikin dia tercengang. Mari kita sebutkan satu per satu.


1. Seiring kamu tumbuh, keluarga kamu juga—generasi atas menua, adikmu beranjak dewasa, kakak-kakakmu mengurusi rumah tangga mereka.

Bukan hal yang mengejutkan, ya, harusnya? Tapi di otakmu kala kanak-kanak dan remaja, sosok Ama dan Ibu rasanya akan permanen seperti itu, kan? Aku yang sekarang sudah menyaksikan keduanya menua, sudah mulai banyak penyakit yang datang. Gigi yang ompong. Flek hitam yang tak mau hilang. Mata mereka sudah berbayang. Kadang kalau ada noda di suatu tempat, Ibu bahkan tidak sadar—karena mata beliau tidak cukup awas untuk melihatnya. Namun, keduanya masih terus mengasihi kamu sepanjang waktu. Ama masih mengantarkanmu ke sana ke sini, akhir-akhir ini bahkan kami berdua bertualang memasuki jalan-jalan kecil yang bermula dari Selakopi dan berakhir di gang mana saja menuju kantormu. Ibu masih jago memasak, tapi ada satu hal yang beda—Ibu sekarang rajin banget ikut pelajaran mengaji, bahasa Arab, dan lainnya. Sampai punya PR segala. Kalau suatu hari kamu merasa kalau kamu adalah long life learner, itu karena ibumu. Oh! Kamu juga telah berhasil kembali ke Bali!






(Sumpah kaget banget kok tiba-tiba jadi aku-kamu, ya, padahal tadi gua-guaan. Gapapalah ya, keburu sedih kan suasananya. Nanti kalau happy dikit berubah jadi gua-elu lagi.)


2. Kamu masih berteman sama sobat-sobat SMP-mu yang aneh-aneh itu! Bahkan pertemanannya tambah besar (dan kacau dan banyak cinlok yang berakhir kacau balau juga)

Ini salah satu hal yang paling kamu syukuri akhir-akhir ini, sih. Tahu nggak, Avia Kecil, sekarang tuh semua orang sudah berjalan sesuai timeline hidup masing-masing. Kamu dari dulu memang selalu tertinggal dalam tugas perkembangan manusia (ini term yang kamu pelajari semasa kuliah), tapi SIAPA SANGKA ternyata sampai sekarang JUGA MASIH. Untung kamu pintar cari teman yang baik—atau teman yang setara—atau teman yang sama-sama SLOW LIVING kecuali Ahmad. Disty, Dina, Sinus, Ahmad, Cumi, Dita, Bunga, Bugi, Bacas, Gaza, Cimol. Fellas yang dulu tiap pulang sekolah sukanya cap, cip, cup mau main ke rumah siapa. Fellas yang semasa SMA melahirkan Petik, grup random berisi teman-teman SMA yang sifatnya kurang lebih bakal sama kayak kita. Di blog ini masih ada tuh, sisa-sisa kejahilan (dan kejahiliyahan) Petik yang ngisengin banyak orang. Bikin prank skripsi Universitas Pakuan segala. Nah, Petik yang baru saja reborn ini justru menjadi suaka bagi para dewasa muda yang masih punya banyak waktu luang untuk main bareng teman.


3. Kamu terkoneksi kembali dengan sosok-sosok yang lalu lalang ketika SD!

Ini semacam, apa, ya, kelegaan terbesar gua yang akhir-akhir ini terjadi. (Loh, kembali ke gua-elu.) Ada banyak hal di masa SD yang tidak gua sikapi dengan baik, makanya gua bersyukur di penghujung usia ke-24 ini tahu-tahu gua diberikan kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang dari masa SD satu per satu—berasa nangkep Pokémon—dan menjadikan kenangan SD sebagai kenangan yang menyenangkan lagi. BAHKAN BERKUNJUNG KE AL IHYA LAGI, wow. Napak tilas yang sangat berkesan.




4. Kamu cukup percaya diri untuk bikin video-video seputar outfit!

Pada April 2024, kamu mulai menekuni konten yang berbeda dari biasa—kali ini kamu MENAMPILKAN mukamu di konten-konten itu! Wow, satu lagi momen SIAPA-SANGKA.


5. Kamu otw mewujudkan salah satu impian terbesarmu!

Untuk yang ini, nanti aja dibuatkan post khusus kalau memang terjadi.


Itulah hal-hal yang terjadi di hidup kamu, Vi. Menyenangkan, sungguh. Gua masih kayak dulu, sih, (loh, tiba-tiba jadi gua lagi) alias masih suka mendadak sedih padahal nggak terjadi apa-apa. Tapi, setidaknya, sekarang gua lebih rasional—gua tetap bisa mengingat hal-hal yang patut disyukuri kala bersedih itu. Semoga saja kita semua panjang umur untuk melihat lebih banyak lagi hal-hal menyenangkan di kehidupan ini! Aamiin.


Love,

Avia

Comments

Popular Posts