London's Mosaic: The First Disaster (Part II)
London’s Mosaic
Author
: Avia Maulidina
Main
Cast :
• Anatasha Putri or Tasha (Original
Character)
• One Direction’s members
Genre
: romance? (maybe xoxo :p)
Length
: Chaptered
Rating :
PG-13/Teenager
Disclaimer! This fanfiction and
original character(s) belong to author. Do not be a plagiarist pls :-3 xoxo.
And “The Boys” belong to all Directioners in da’ world :-)
Part II
“Tunggu.
Directioner?” seru Tasha tiba-tiba. Semuanya menoleh. Ia sendiri kaget karena
refleks berbicara dalam bahasa Inggris. “KALIAN ONE DIRECTION YANG DIBI—“
“Sssssh,”
lelaki pintu yang bersuara berat segera membekap mulutnya.
“Jangan
keras-keras, nanti orang-orang diluar dengar,” sahut salah seorang yang duduk
di sofa. “Lagipula, memangnya kau dari tadi tidak sadar?”
Tasha
menatap mereka lekat-lekat. Ya, mereka memang orang yang sama dengan yang ia
lihat di banner gadis berambut gandum.
Pikirannya berputar cepat. Ia menoleh ke barang yang ditumpuk di bagian
belakang ruangan—apakah itu mike serta alat-alat panggung? Kalau iya, berarti
One Direction adalah kelompok pemusik? Atau
bagaimana sih?
Tasha
melepaskan tangan lelaki pintu bersuara berat dari mulutnya dan segera
bertanya, “Kalian itu apa?”
Cowok-cowok
itu saling memandang dengan tatapan terkejut.
“Kau
benar-benar tidak tahu?”
“Tidak,”
Tasha menelengkan kepalanya dan melipat kedua tangan. Meminta jawaban.
Lelaki
berambut ikal lebat tertawa. “Pantas saja kau tidak histeris seperti
orang-orang. Kami sebuah boyband.
Yah, bisa dibilang begitu.” Ia bangkit dari sofa dan mengendikkan bahu.
Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jeans. “Aku Harry. Ini Louis. Liam. Niall,
yang membawamu kesini tadi. Dan itu hebat—dia menolong seorang gadis di saat
dia sendiri ketakutan”
“Ketakutan?”
tanya Tasha dengan alis terangkat.
Harry
menyeringai dan menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya, membuat jarinya menyangkut
di ikalan rambutnya. “Yeah. Dia takut
jika dikerubungi oleh fans. Dia juga takut diteriaki oleh Directioner yang
mengelu-elukan namanya.”
“Oh
ya, yang di belakangmu itu, Zayn.”
“Um…
senang berkenalan dengan kalian, guys—KOPERKU! KOPERKU… ADA DIMANA?!” Tasha
tiba-tiba berseru panik.
“Wow,
wow… tenang dulu, Lady,” Louis
nyengir. “Siapa namamu?”
“Tasha.
Anatasha Putri.”
“Anastasia?”
“Anatasha.”
“E-na-tha-sha
Fud-ri?” tebak Louis.
Segumpal
udara memenuhi pipi Tasha dan meledak menjadi tawa. “Anatasha Putri. A-na-ta—“ tunggu, batin Tasha. Memangnya namaku dilafalkan dengan Sha atau
Sya? “Panggil saja aku Nath.” Tukasnya.
“Nath?”
Louis mengulangi kata tersebut, nyengir aneh. Ia melafalkannya sama seperti nut—kacang.
Tasha
menyeringai. Namanya jelek sekali kalau disamakan dengan “kacang”. Perbedaan
aksen memang sangat menyusahkan. “Oke, tidak jadi. Panggil aku Tasha,” ia menyebut namanya lamat-lamat.
“Tessa?”
usul Niall bingung.
“…Terserah
kalian mau panggil aku apa,” Tasha menarik napas dan menggembungkan pipinya
frustasi. “Carikan koperku, please.
Kalian kan, ehm, selebriti, kalian bisa melakukan apapun kan?”
Suara
seperti logam menggilas besi terdengar. Tasha terlompat lagi. Zayn sedang
tertawa di belakangnya. Kenapa tingkah
laku lelaki itu menakutkan sih? Wajahnya juga.
“Yeah,
kami bisa melakukan apapun. Seperti
Superman.” Ucap Zayn sarkatis.
“Wow.
Kita harus berganti nama dengan One Superman kalau begitu!” sahut Louis.
“Bukan
One Superman. Tetapi Five Supermans! Woohooo,” Niall mengacungkan tangan
kanannya ke depan, meniru pose Superman dalam film.
“Dan
Directioner akan menjadi Supermaner?
Tidak, itu jelek sekali!” Harry tertawa. Tasha menyukai lelaki yang satu ini, tawanya
sangat renyah dan lepas.
“Kuharap
kita tidak memakai celana dalam di luar dan rambut seperti bagian atas es krim cone
saat manggung,” Louis menggaruk-garuk kepalanya. “Karena—bayangkan jika Harry berpenampilan seperti itu!”
Ketiga
lelaki melirik ke arah Harry dan tertawa berdengus. “Hey, apa salahnya? Aku
akan terlihat keren!” bela Harry.
“Okeee,
cukup. Sekarang koperku bagaimana?” Tasha menyela.
“Kopermu
masih ada di tempat pengambilan atau sudah kau ambil tetapi kau lupa dimana
meletakkannya? Maksudku, walaupun kita Superman, aku tidak bisa menjamin akan
menemukan kopermu jika kau lupa dimana meletakkannya. Airport ini luas,” ujar
Zayn, tidak bermaksud untuk sinis tetapi kedengarannya memang seperti itu.
“Untungnya
masih ada di tempat pengambilan. Aku lupa mengambilnya,” jawab Tasha, sedikit
merasa menang.
Liam
mengangkat bahu. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan handphone dan menelpon
seseorang.
“Ya,
ini Liam Payne 1D. Begini, teman kami lupa mengambil koper. Aku harap kalian
bisa mengambil dan mengantarkan koper itu pada kami. Koper itu—“
Liam
bangkit dari sofa dan menyerahkan handphonenya pada Tasha. “Sebutkan hal-hal
spesifik dari koper itu,” bisiknya.
Tasha
meraih handphone Liam dan menempelkannya ke telinga. “Kopernya besar, euh, aku
tidak tahu ukurannya berapa, tapi yang jelas besar. Dari Indonesia, daerah
Jakarta. Garuda Indonesia.”
Lalu
setelah itu Tasha menyerahkan kembali handphone tersebut pada Liam. Liam
berbicara sebentar kepada orang di seberang telpon dan menutup sambungan.
“Itu
tadi manajer kalian?” tanya Tasha.
Liam
tertawa. “Itu petugas bandara, Tasha.”
“Omong-omong,
kau dari Indonesia?” tanya Harry.
“Yap.”
“Sedang
liburan atau apa?”
“Kuliah.
Aku dapat beasiswa di University College London,” Tasha mengangkat bahu.
“Wow.
Berapa umurmu?” Louis bertanya.
“Delapan
belas. Aku lahir tahun 1994.”
“Delapan
belas? Aku kira kau lima belas atau enam belas. Kau seumuran dengan Harry kalau
begitu,” ucap Liam sedikit bergumam.
“Dan,
silahkan duduk,” Niall tiba-tiba menyahut, menunjuk sofa kosong di sebrang meja
yang berhadapan dengan mereka.
Tasha
tersenyum. Kakinya memang kesemutan karena berdiri terlalu lama. Ia melangkah
mendekati sofa dan menghempaskan tubuh. “Terimakasih.” Lalu mendongak sedikit
saat melihat Zayn ikutan duduk di lengan sofa. Tasha merutuk sebal dalam hati.
Dari kelima lelaki ini, Zayn yang paling tidak disukainya. Entah mengapa.
Mungkin tanggapan tersebut akan berubah seiring waktu berjalan—ia harap.
“Jadi
aku datang ke London, tidak sengaja di”culik” oleh salah satu member One
Direction dan kini berhadapan dengan kelima-limanya?” ucap Tasha, berusaha
mencerna kejadian singkat yang baru dialaminya.
“Yeah. Dan harusnya kau menjerit
histeris, memeluk kami, dan meminta foto bersama. Maksudku—semua itu yang
biasanya seorang gadis lakukan saat bertemu kami,” ulas Niall. Nyengir.
“Jadi
harusnya seperti ini? AAAA! AKU BERTEMU ONE DI—“
Dan
Zayn cepat-cepat menggulingkan tubuh di sofa untuk menutup mulut Tasha sekali
lagi. “Mengapa kau tidak bisa diberitahu sekali saja, sih? Kalau Directioner
dengar, mereka bisa langsung menyerbu ke ruangan ini.”
Tasha
kembali melepas tangan Zayn dari mulutnya. “Oke sori. Anyway, kau menyebalkan.”
Serunya bete, ia menuding Zayn dengan
jari telunjuknya dan memandang lelaki itu lewat matanya yang menyipit.
Harry
tertawa. “Menyebalkan? Wajahnya memang sedikit jahat, tapi dia pemalu.”
“Pemalu
apanya?” bantah Tasha sewot. “Aku tidak pernah lihat orang pemalu yang tidak
segan untuk membekap orang yang baru dia kenal!”
“Aku
juga tidak pernah lihat gadis yang sama sekali tidak tahu 1D,” sahut Zayn,
sudah kembali ke posisi duduk seperti semula.
“Guys,
jangan berkelahi,” Liam memandang mereka dengan geli. “Kita harus merundingkan
sesuatu. Awak media pasti sedang bertanya-tanya siapa gadis yang dibawa Niall.”
“Jawab
saja sesuai kenyataan,” jawab Tasha ringan.
“Mereka
tidak akan percaya,” ujar Louis.
“Mungkin
mereka percaya,” Niall berkata.
“Bagaimana
jika Tasha berpura-pura jadi saudara Niall?” usul Harry.
Tasha
melongo. “Tidak akan ada yang percaya. Aku orang Indonesia, sedang Niall kan
orang Amerika.”
“Inggris,
bukan Amerika,” sahut Zayn datar.
“Salah
omong,” Tasha membela diri.
“Tapi
kau tidak terlalu kelihatan seperti orang Indonesia,” Harry mengerutkan dahi
dan menatap Tasha lekat-lekat. Mata Tasha benar-benar hitam legam namun
terlihat sangat indah, dengan bulu mata yang panjang dan lentik. Kulitnya
putih, memang bukan putih seperti orang Inggris atau Amerika, tapi putih yang
seperti susu. Ia mempunyai bintik-bintik yang sangat samar di antara pipi dan
tulang mata—bintik tersebut, sekali lagi, tidak seperti pada orang Inggris serta
Amerika, bintik ini membuatnya kelihatan manis dan lebih muda dari usia Tasha
yang sebenarnya. Bibirnya tipis dan agak pucat. Bentuk mukanya tirus. Rambutnya
senada dengan matanya, hitam, dilengkapi ikal alami di bagian bawah. Singkat cerita, ia cantik juga, dan tidak
terlihat seperti orang manapun. Ia cantik seperti dirinya. Batin Harry.
“Yah,
banyak yang bilang begitu. Nenekku memang punya garis keturunan campuran.”
“Bagaimana
jika dia pura-pura jadi pacarku?” usul Niall, nyengir tanpa dosa.
“HAH?
Tidak!” tolak Harry cepat-cepat. “Maksudku, itu akan jadi lebih sulit. Pasti
banyak orang yang akan mencari tahu tentang dirinya. Dan ia tidak akan bisa
kuliah dengan tenang disini,” jelasnya saat semua tatapan mulai beralih heran.
“Yeah, Harry benar. Kita tidak mau jadi
penyebab masa depannya suram, kan?” tambah Zayn.
“Hey,
masa depanku cerah! Sangat cerah! Aku bisa melihat mataharinya dari sini! Masa
depanku tidak suram!” seru Tasha.
“Masa
depanmu bisa jadi suram jika kau terus menerus dibuntuti paparazzi,” ucap Zayn
malas. “Seperti kata Harry, itu tidak akan membuatmu dapat belajar dengan
tenang.”
Tasha
merenung sebentar. “Tapi aku kan bisa belajar di apartemen dan menutup pintu
rapat-rapat.”
Louis
terkekeh. “Mengapa kau begitu polos? Paparazzi dapat memfotomu dari luar
jendela, mengekspos lokasi apartemenmu, dan mencari tahu segala hal tentangmu.
Kau akan punya fans, tentu saja. Dan akan ada haters juga. Itu yang kami
khawatirkan. Kadang, seorang haters atau anti-fans bisa bersikap sangat jahat.”
“Contohnya?”
Zayn
mendengus tidak sabar dan berkata dengan kasar, “Kau akan dilempari tomat,
batu, atau benda apapun yang mereka temukan.”
Lois
memandang Zayn dengan tatapan memperingati.
“Well,
sebenarnya itu tidak ada ruginya. Adikku pernah melempariku tomat lalu aku
tangkap dan aku makan. Tetapi kalau kau
yang mengatakannya, itu terdengar jauh lebih buruk,” Tasha menyeringai.
“Yah,
memang jauh lebih buruk, apalagi jika kau tahu bahwa tomat yang mereka lempar
adalah tomat busuk.”
“Tapi
tadi kau tidak bilang itu tomat busuk!”
“Tadi
aku bilang.”
“Tadi
kapan?!”
“Sedetik
yang lalu. Saat aku bilang ‘Memang jauh lebih buruk, apalagi jika kau tahu
bahwa tomat yang mereka lempar adalah tomat
busuk’.”
“Tapi…
Tapi… Lupakan. Kau beruang besar yang tidak menyenangkan.” Sembur Tasha asal.
“Beruang?”
“Sst.
Diam. Kau berisik, nanti para Conditioner dengar.”
“Conditioner?”
Harry menyahut, tawanya meledak. “Directioner.”
“Itu
maksudku,” jawab Tasha singkat. Ia jelas-jelas terlihat kesal.
“Lagi
pula, memang kau setuju dengan ide berpura-pura jadi pacar Niall?” Zayn kembali
mengungkit soal yang tadi. “Oh, aku lupa. Semua wanita tentu mau jadi pacar
member One Direction, meskipun hanya pura-pura.” Lanjutnya yang membuat
semburat merah muncul di pipi Tasha.
“Sudahlah,
kita obrolkan itu lain kali. Omong-omong, tadi kau bilang kau punya adik?” sela
Liam cepat-cepat, mencoba mencairkan suasana. Ia melempar satu tatapan tajam
lagi kepada Zayn—karena walaupun ia bukan yang tertua, sudah menjadi julukannya
sebagai “Daddy Direction”. Ia sendiri heran, bagaimana bisa Zayn yang biasanya pemalu berubah jadi menjengkelkan
seperti ini?
“Ya,”
jawab Tasha sedikit acuh.
“Umm,
siapa namanya?”
“Kevin.”
“Umurnya?”
“Aku
lupa.”
Liam
tertawa. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Ia segera bangkit dari sofa dan
berpindah ke sudut ruangan.
“Berani
taruhan itu pacarnya yang menelpon,” ujar Niall, mengangkat bahu saat melihat
wajah penasaran Tasha. Ia bergeser sedikit, menempati wilayah yang Liam duduki
sebelumnya. “Tadi sampai mana? Ah ya, umur adikmu. Bagaimana kau bisa lupa?”
Niall mencoba menggantikan Liam untuk mencairkan suasana.
Tadinya
Tasha ingin bertanya siapa gadis beruntung memiliki pacar sebaik Liam, tapi ia
tidak mau terlibat dengan urusan pribadi member One Direction. Jadi, ia memilih
untuk menjawab semua yang mereka ingin ketahui dan cepat-cepat pergi dari sini
setelah kopernya kembali. “Yang jelas dia kelas 2 SMA sekarang.”
Niall
mengangguk-angguk. Untuk sesaat tidak ada sama sekali yang berbicara—kecuali
Liam yang masih menelpon, tentu saja—hingga seseorang mengetuk pintu ruangan.
“Koperku,”
terka Tasha. Ia segera bangkit untuk pergi membuka pintu namun duduk kembali
saat melihat Zayn sudah mendahuluinya. Menghela napas.
Zayn
membuka pintu—lebih tepatnya membuat celah kecil diantara daun dan kusen pintu.
Ia berbicara dengan seseorang yang ada di luar. Tasha hanya menangkap Zayn
berkata terimakasih, menutup pintu dan berbalik dengan sebuah troli berisi
koper hijau muda di sampingnya.
Tasha
bangkit dan segera menghampiri troli tersebut.
“Sudah
mau pergi?” tanya Zayn.
Tasha
mengangguk singkat.
“Kau
hafal denah bandara ini?” Zayn bertanya lagi, disertai suara tawa malas.
Tasha
menghela napas. Ia kembali merebahkan diri di sofa—kali ini dengan posisi
seenaknya. Mantel melapisi tubuhnya dengan posisi tidak nyaman.
“Lalu
bagaimana cara aku pergi dari sini?” tanyanya lelah.
“Pertama,
kita selesaikan dahulu semua masalah.” Ujar Louis serius.
“Masalah
apa lagi?”
“Masalah
yang pertama tadi.”
“Sebut
saja aku seorang Conditioner pemenang kuis dengan hadiah makan malam dengan 1D,
lalu kalian… apalah itu terserah,” Tasha mengangkat bahu, kehabisan ide dan
terlalu malas untuk melanjutkan bicara.
Sekumpulan
renungan memasuki pikirannya. Harusnya hari pertamanya ke London tidak seperti ini. Harusnya ia tiba di bandara,
pergi naik taxi ke apartemen, lalu berkeliling London selama dua minggu sebelum
kuliah dimulai. Bertemu dengan idola gadis remaja di seluruh dunia bukanlah salah
satu agenda tambahan yang ia harapkan.
Tasha
merogoh handphonenya dan memainkan game
Nyan Space dengan jenuh. Rasa kantuk merambatinya, namun ia tidak mau tertidur.
Ia dapat mendengar Liam mengucapkan kata-kata manis kepada pacarnya sebelum
menutup telepon, omongan berbisik Niall dengan Harry tentang tailor-tailor
siapa itu—tailor itu Bahasa Inggrisnya tukang
jahit kan?—dan juga suara keypad khas Blackberry yang berasal dari arah Zayn.
Tidak ada suara apapun yang berasal dari Louis.
Tak
lama kemudian, Liam kembali duduk di sofa. “Guys, kulihat koper Tasha sudah
ada. Jadi bagaimana?”
“Kita
juga sudah harus berangkat sebentar lagi. Bagaimana kalau sekalian antarkan
Tasha saja,” ucap Louis, melihat jam tangannya dengan kalem.
“Kau
pulang kemana?” tanya Liam.
“Apartemenku,”
Tasha kembali duduk dengan benar. Ia menjelaskan kepada Liam dimana letak
apartemennya. Apartemen itu cukup dekat dengan University College London, dan
berada di tengah kota.
“Oke,
kau bisa ikut dengan kami, untuk mengantisipasi masalah yang tak bisa kau
tangani sendiri. Karena sepertinya, kau sudah terekspos oleh kamera.”
Tasha
mendesah. “Betapa beruntungnya aku.”
“Hey,
kau memang sangat beruntung!” ujar Niall serius. “Semua Gadis Kami sangat ingin
berada di posisimu.”
“Gadis Kami? Siapa? Pacar-pacar kalian?” tanya
Tasha bingung.
“Directioner.
Kami memanggil mereka dengan sebutan itu,” jelas Niall.
“Tapi
aku kan bukan Conditioner, jadi aku tidak berharap ada di posisi ini, ” protes
Tasha, mendadak menatap iPhone di tangannya dengan ketertarikan yang luar
biasa.
“Itu
karena kau baru saja tahu tentang kami,” sambar Zayn.
“Iya,
iya,” Tasha berdecak malas.
“Oh
ya, tadi aku juga menceritakan hal ini kepada Danielle. Dan katanya, lebih baik
jika kita mengungkapkan pada media bahwa Tasha adalah saudara jauhnya.” Ujar
Liam.
Jadi, nama pacar Liam
itu Danielle. “Aku
setuju,” Tasha mengangguk bersemangat.
“Oke,
semuanya sudah selesai dibahas kalau begitu. Ayo berangkat,” Louis berdiri dan segera
berjalan menuju pintu, diikuti dengan yang lainnya.
Tasha
melompat bangkit, kehilangan keseimbangan karena berat mantelnya. Kakinya
menabrak meja dengan keras. Gadis itu mengerang. Ia merutuki meja sebelum
mengekor One Direction pergi keluar ruangan dengan kaki terseok-seok.
Mereka
berjalan menyusuri lorong. Suasananya lebih
mirip hotel dibanding airport, pikir Tasha—berjalan dengan kaki yang masih
berdenyut kesakitan. Dia kesulitan mengimbangi langkah lebar Louis, Liam, Zayn,
Niall, serta Harry. Zayn tadi ada di sebelahnya, namun lelaki itu segera
berjalan cepat-cepat, layaknya sengaja ingin meninggalkan Tasha.
Lalu
lorong tersebut berakhir dan bagian dalam airport yang familier muncul. Orang-orang
mendorong koper dengan pandangan tertuju pada gadget di tangan, sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekeliling.
Para Directioner sudah pergi—
Atau
setidaknya, setengahnya sudah pergi. Niall
melambatkan langkah dan mencengkram pergelangan Tasha erat agar gadis itu tidak
terpisah dari 1D saat gadis-gadis lain mulai berteriak histeris dan mengerumuni
mereka. Kali ini Tasha dapat merasakan dengan jelas rasa panik serta gelisah yang
Niall rasakan.
“Lari,”
bisik Niall, sangat pelan hingga Tasha hampir tidak dapat mendengarnya. “Satu…
dua…”
“Tiga!”
Tasha
hanya sempat melihat bahwa keempat member 1D lainnya sudah mendahului mereka
berdua saat ia dan Niall mulai berlari ditemani sorotan blitz yang bertubi-tubi.
to be continue.


LANJUTIN BOLOT IHH ;;A;;
ReplyDelete