London's Mosaic: The First Disaster (Part I)
London’s Mosaic
The First Disaster
Author : Avia Maulidina
Main Cast :
• Anatasha Putri or Tasha (Original
Character)
• One Direction’s members
Genre : Romance? (maybe xoxo :p)
Length : Series
Rating : PG-13/Teenager
Disclaimer!
This fanfiction and original character(s) belong to author. Do not be a
plagiarist pls :-3 xoxo. And “The Boys” belong to all Directioners in da’ world
:-)
Tasha memindai satu per satu
pakaian yang menumpuk di dalam koper besar berwarna hijau lembut. Di tangannya
terdapat secarik kertas—list barang
yang harus dia bawa ke London.
Ia mengerucutkan bibirnya.
Mengapa hari keberangkatan terasa begitu cepat? Awalnya, ia memang sangat
bersemangat saat mendapat scholarship(beasiswa) untuk kuliah jurusan
Art & Design di University College London selama dua tahun. Yap, dua tahun. Waktu yang cukup lama untuk membuatnya merindukan segala hal di tempat kelahirannya
ini. Termasuk goresan panjang jelek menyebalkan yang merusak tembok kamar
berwarna pink lembut di samping tempat tidurnya. Tapi sekarang ia merasa
ketakutan. Bagaimana kalau bahasa Inggrisnya macet saat diajak ngobrol oleh
bule-bule disana? Tapi tawaran beasiswa itu tidak dapat dia tolak lagi—mungkin
kesempatan meraih beasiswa seperti itu hanya akan muncul satu kali untuknya
seumur hidup.
Tasha menceklis tulisan “pakaian”
dalam list dan segera beralih mengecek
barang selanjutnya. Laptop. Peta London (sebenarnya ia bisa saja menggunakan
GoogleMaps di iPhone-nya, tapi dia berasumsi bahwa lebih aman tersesat dengan
peta di tangan daripada dengan iPhone). Body lotion yang akan mencegah kulitnya
kering, karena disana sedang Winter.
Lalu sejumlah barang lainnya. Semua itu sudah ia persiapkan sejak
sebulan lalu. Dan entah sudah berapa kali Tasha mengecek barang-barang
tersebut.
Setelah semua barang dalam list ditandai dengan ceklis, Tasha
menutup kopernya dan merebahkan diri di tempat tidur. “Besok,” gumamnya. Ia
menoleh ke arah jendela. Kegelapan tanpa batas menggantung di luar sana. Yah. Sudah malam.
Gadis itu menguap. Kelopak
matanya bergerak menutup.
***
“Sha, bangun lu Kak,” Kevin
menggoyang-goyangkan badan kakaknya. Hanya Kevin yang dapat membangunkan Tasha.
Bukan karena Tasha susah dibangunkan(walau sebenarnya memang susah, sih) tapi
karena Ibu mereka adalah seorang wanita karier yang sibuk sedangkan ayah mereka
yang juga sibuk selalu ada di luar negri, dan yang tersisa di rumah hanyalah
Kevin, adik Tasha yang baru menginjak bangku SMA Kelas 2, serta Bi Minah
pembantu mereka yang baru datang setiap jam 9 pagi.
Tasha menggeliat pelan dan
kembali tidur. Kevin menyeringai kesal. Ia menjawil pipi Tasha keras-keras.
“SHA, BANGUN!!!” Tasha membalikkan badan menghadap Kevin. Matanya membuka
sedikit. Gadis itu memandang Kevin melalui bulu matanya yang lentik dan
panjang.
“Adaw. Sakit,” ujar Tasha dengan
nyawa setengah-setengah. Dan kesadarannya kembali terenggut, tidak member
kesempatan bagi mulutnya yang masih membuka untuk menutup. Air liur keluar
pelan dari pinggir bibir Tasha, mengenai tangan Kevin yang masih memegangi pipi
putih kakaknya yang kini memerah.
“IH!” Kevin cepat-cepat
melepaskan tangan dari pipi Tasha dan mengelapkan air liur itu ke seprai tempat
tidur dengan raut jijik. “Kak, cepetan bangun! Udah jam tujuh lewat, jam
delapan kan lu udah harus ada di bandara!”
Tasha bergelung di tempat
tidurnya malas. Namun berangsur-angsur matanya membuka. Menutup lagi. Membuka
lagi. Sampai dia melotot dan segera bangkit terduduk di tempat tidur.
“Udah jam berapa tadi?!”
“Tujuh lewat. Cepetan mandi gih.
Abis lu siap-siap, kita ke bandara.” Kevin memasukkan kedua tangannya ke saku
celana.
“Lu gak sekolah, Dek?” tanya Tasha.
Gadis berkulit putih itu melompat dari tempat tidur dan
mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Nggak. Bolos sehari gak
apa-apalah. Lagian gue yang nganter lo ke bandara,” Kevin mengikuti kakaknya
berjalan keluar kamar.
“Oh iya kan sekarangg lo udah
punya SIM ya,” Tasha menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya—membuat
rambutnya makin gila-gilaan. “Gue
juga pengen punya SIM…”
Kevin hanya mengeluarkan suara
mengiyakan dengan tak sabar.
Tasha menuruni tangga kecil rumah
mereka dan menyambar handuk dari bahan lembut bermotif Winnie the Pooh di jemuran kecil khusus handuk yang berada di
sebelah kamar mandi. Seraya menguap entah untuk keberapa kalinya, ia melangkah masuk
kamar mandi. Kakinya bergidik pelan saat menyecap dinginnya lantai keramik yang
sudah terkena air bekas adiknya mandi beberapa saat yang lalu.
Kevin menyiapkan sarapan
sementara kakaknya mandi. Dia sendiri heran, sebenarnya siapa yang lebih tua di
rumah ini. Kakaknya yang berumur 18 itu sangat kekanakkan. Ia pernah marah
besar pada kakaknya karena mencuci piring menggunakan sabun mandi. Dan saat
ditanya, Tasha hanya menjawab dengan heran, “Memangnya tidak boleh?” lalu gadis
itu mulai mengoceh tentang betapa tidak adilnya dunia persabunan—dimana sabun
cuci piring bisa saja menggantikan sabun mandi untuk cuci tangan, tapi sabun
mandi tidak boleh digunakan untuk cuci piring. Kevin kadang berpikir, bagaimana
bisa seseorang yang selalu juara umum di sekolah sejak kanak-kanak bisa menjadi
sesinting dan sepolos itu. Kakaknya benar-benar ajaib.
Kevin menghapuskan pikiran
tentang Tasha dan kembali mengoleskan selai nanas pada roti untuk sarapan
mereka.
Tasha keluar dari kamar mandi
dengan tubuh berbalut handuk. Kevin menatapnya tanpa minat. “Lo harus terbiasa
pakai baju di kamar mandi, Kak. Nanti kalo lo udah di London terus temen
sekamar lo ngeliat lo half-naked
begitu pas keluar dari kamar mandi kan malu-maluin.”
“Males pake baju di kamar mandi. Suka
kepeleset pas pake celana,” Tasha menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba
menghilangkan tetes-tetes air yang tersisa pada rambutnya. Ia lupa menguncir
rambut tadi, jadilah bagian bawah rambutnya ikut ter-shower. “Lagian kalo di luar bukannya kaya begitu udah biasa ya?
Terus kan gue gak ada temen sekamar. Kan apartemen sendiri.”
“Iya aja dah. Cepetan ganti baju.
Makan. Terus berangkat.”
***
Waktu berlalu dengan sangat
cepat. Baru beberapa saat yang lalu Tasha masih di rumah dengan Kevin, sekarang
ia sudah lalu lalang sendirian di London Heathrow Airport. Mantel tebal menghalangi
geraknya, dan ia sangat ingin membuka benda itu. Lagipula
aku tahan dingin dan tahun lalu pernah tertidur dalam kulkas selama satu jam.
Jadi, apalagi yang harus dikhawatirkan? Batin Tasha. Yah, walaupun sebenarnya
insiden “tidak sengaja tidur dalam kulkas” itu membuat dia dirawat di rumah
sakit selama tiga hari dan dokter yang menanganinya tak habis pikir mengapa
kejadian konyol seperti itu bisa terjadi.
Tasha berjalan mengelilingi
airport ditemani satu cup kopi Starbucks yang baru saja ia beli. Panas dari
kopi itu menghangatkan kedua tangannya, dan uapnya yang mengepul mencairkan
wajahnya yang kebas karena kedinginan. Entah tadi ia melihat dimana, tapi
katanya suhu di London sekarang ini -1°C. Tasha langsung menghapuskan niatnya
untuk melepas mantel yang ia pakai.
Dan tiba-tiba gadis itu menyadari
bahwa dia sudah “menjelajah” terlalu jauh. Dia bahkan tidak tahu sedang berada
di bagian mana—pasalnya banyak sekali gadis-gadis remaja yang menghimpitnya dan
menghalangi jalan serta penglihatan. Tasha memang cukup tinggi bagi ukuran
orang Indonesia yang seumurannya. Tapi disini? Uh, semuanya sepantar dengannya,
dan banyak juga yang lebih tinggi.
“Maaf, boleh aku tahu ada apa
ini?” Tasha menelan bulat-bulat rasa malunya akan grammar yang acak-acakan
dan bertanya kepada salah satu gadis berwajah galak dengan rambut sewarna
gandum yang sama tinggi dengannya.
Gadis berambut gandum itu menoleh
padanya dan menatapnya lekat. Nyali Tasha ciut. Ia sudah siap akan cacian
berbahasa Inggris saat gadis berambut gandum itu tersenyum dan menunjukkan banner yang ia bawa.
“One Direction akan tiba sebentar lagi disini.”
Tasha memandangi banner tersebut.
Warnanya putih polos, di tengah-tengah terdapat tulisan One
Direction dan wajah-wajah yang mengisi kata tersebut. Ada lima wajah—seorang
lelaki dengan kumis dan janggut tipis, alis tebal, bulu mata lentik yang
berpadu dengan mata berwarna hazel; lelaki dengan rambut berwarna seperti milk
chocolate, hidung yang menurut Tasha sangat lucu, dan bibir tersenyum. Warna
matanya agak sedikit kabur karna fotonya tidak terlalu jelas; lelaki
selanjutnya memiliki mata biru langit yang indah, dengan senyum menawan
dan janggut yang mulai tumbuh; lalu
lelaki berwajah ramah dengan rambut keriting ikal berwarna coklat, hidung yang
juga sangat lucu dalam pandangan Tasha, dan mulut yang sedang terbuka
lebar—menampakkan deretan gigi putih seperti kelinci; dan lelaki terakhir
berambut pirang, pandangannya teduh. Tasha sulit melihat warna matanya, namun
ia yakin mata lelaki itu berwarna biru.
“Wow, mereka sangat keren,” sahut Tasha,
sekadar berkompromi dengan ketertarikan gadis berambut gandum itu terhadap
sesuatu bernama One Direction ini. “Terimakasih atas infonya.”
“Ya, sama-sama,” gadis berambut
gandum tersenyum lebar, menampakkan gigi-giginya.
One Direction, ya… di Indonesia
juga banyak, kan, yang jadi fans mereka. Tapi mereka itu apaan? Pikir Tasha, sedikit
menyesal karena tidak pernah mencari tahu tentang idola remaja saat ini. Ia
merasa benar-benar ketinggalan zaman.
Lautan gadis yang berumur
rata-rata enambelas hingga sembilanbelas tahun menggeser-geser posisi Tasha. Tahu-tahu
ia sudah berada di sisi lain gadis-gadis tersebut. Dan di sisi ini tidak
terlalu banyak yang memadati. Ia mendesah lega.
Tasha memandang cup kopinya yang sudah habis dan meremukkan
benda tersebut. Matanya menangkap bayangan tong sampah di dekat tembok sebelah
kirinya, dan kakinya mulai melangkah.
Dan sesuatu bergerak cepat di belakangnya. Diikuti
oleh ribuan gadis yang berteriak histeris. Tapi Tasha tidak memperhatikan. Sama
sekali tidak sadar bahwa jika dia tidak beralih ke sisi, tubuhnya akan habis
terinjak orang-orang yang sedang menuju ke arahnya.
Lalu sesuatu yang bergerak cepat itu (yang
sebenarnya adalah seorang lelaki yang sedang berlari dengan sekuat tenaga), melihat
Tasha berada di tengah-tengah jalan dan berkemungkinan terlindas oleh lautan gadis yang sedang mengejarnya. Sedetik kemudian, sesosok tangan
menggenggam pergelangan Tasha erat dan membawanya lari.
Tasha menjerit kaget. Dia menoleh
ke pemuda di sebelahnya dan berusaha melepaskan tangan.
"Kau siapa?" tanya Tasha panik.
"Itu tidak penting. Lihatlah ke belakang!" teriak si lelaki, berusaha mengalahkan suara histeris dari orang-orang di belakangnya.
Tasha menoleh. Hanya untuk mendapati bahwa di belakang mereka, gerombolan besar gadis remaja yang tadi berkumpul sedang mengejar dan saling menyikut satu sama lain. Semuanya meneriakkan, “Niall!!! Niall!!!”
"Kau siapa?" tanya Tasha panik.
"Itu tidak penting. Lihatlah ke belakang!" teriak si lelaki, berusaha mengalahkan suara histeris dari orang-orang di belakangnya.
Tasha menoleh. Hanya untuk mendapati bahwa di belakang mereka, gerombolan besar gadis remaja yang tadi berkumpul sedang mengejar dan saling menyikut satu sama lain. Semuanya meneriakkan, “Niall!!! Niall!!!”
Tak ada waktu untuk memikirkan
apa yang sedang terjadi. Tasha memilih dibawa lari oleh pria tak dikenal
dibanding tewas. Karena tulisan “Anatasha Putri. Berpulang ke alam sana karena terjepit
dan terinjak sekumpulan remaja buas” bukanlah hal yang ia inginkan pada
nisannya nanti.
Mantelnya memberatkan setiap
langkah yang Tasha ambil. Tasha memelototi mantel biru tersebut dengan tatapan jangan-buat-masalah-atau-kurobek-kau. Dia sudah mulai megap-megap kehabisan napas saat lelaki
tak dikenal yang masih mencengkram pergelangannya menariknya untuk berlari
lebih kencang dan berjalan melalui lorong airport—memangnya di airport ada lorong? Batin Tasha heran—yang berkelok-kelok.
Di lorong tersebut ada beberapa
pintu yang berjajar berjauhan. Lelaki di sebelahnya berhenti di salah satu
pintu dan menggedor-gedor. “Buka! Buka! Cepatlah!”
Hening sesaat. Lalu melewati kaca
buram yang ada di pintu, Tasha melihat sesosok lelaki mengintip. Pintu pun
terbuka disertai bunyi klik pelan.
Dan terlihatlah ruangan bercat senada
dengan lorong tadi. Sepertinya cukup nyaman dan hangat, dengan bagian belakang dipenuhi
oleh tumpukan barang-barang serta koper yang membuat bagian lain ruangan terasa
lebih sempit dari seharusnya. Di hadapan Tasha terdapat sebuah sofa empuk yang
mengelilingi meja—hanya itu perabotan yang berada dalam ruangan tersebut. Dan
di sofa, duduklah tiga orang lelaki dengan pandangan heran. Sedangkan lelaki
yang membukakan pintu masih sibuk mengunci kembali benda tersebut.
“…Hai guys,” lelaki yang berlari
bersama Tasha menyapa canggung. Ia cepat-cepat melepas tangannya dan duduk di
sofa, meninggalkan Tasha yang masih berdiri dengan wajah bingung.
“Siapa ini?” terdengar suara
berat dari belakangnya. Tasha terlompat mundur dan mengenai dada bidang lelaki
yang tadi berurusan dengan pintu. Gadis itu segera menyeimbangkan badannya dan
berdiri setegak tiang bendera. Ternyata
dia yang berbicara.
Cowok yang tadi berlari bersama Tasha
menghela napas panjang. “Jadi begini. Tadi aku terpisah dari kalian serta para bodyguard, kan? Dan Directioner melihatku.
Mereka segera mengejarku, dan gadis ini,”—menoleh singkat ke arah Tasha—“berada
di tengah-tengah jalan”—Oh iya, dimana
sampah cup yang tadi mau aku buang ya? Ujar Tasha dalam hati—“dan jika ia
tidak ditarik olehku, ia akan tergilas oleh Directioner.”
“Tunggu. Directioner?” seru Tasha
tiba-tiba. Semuanya menoleh. Ia sendiri kaget karena refleks berbicara dalam
bahasa Inggris. “KALIAN ONE DIRECTION YANG DIBI—“
Kalimatnya terpotong oleh bekapan
tangan seseorang ke mulutnya.
to be continue.



Keren ko bagus '-')/ tapi itu harus nyha zayn atau liam -_-
ReplyDeleteOke putri is here '-')/
ReplyDeleteiya bagus :3 tapi harus nya itu Liam atau ngga Zayn -_- bukan Niall -..-
ReplyDeletebiarin niall aja aku suka nial ;-3
ReplyDeleteih jangan Niall -..-
ReplyDeletegabisa di share onyon -..-
ReplyDeleteAv iih lanjooot ;;_;; T.T :(
ReplyDelete