Dilan



Aku menemukan sosok Dilan yang terperangkap dalam dirimu.
Kalau aku bukan Milea, tidak apa-apa. Aku tidak seberuntung dia. Itu sudah jelas.
Kalau aku bukan gadis kelas 2 SMA yang datang ke pemakaman ayah Dilan kala itu, juga tidak apa-apa.
Bagiku, menjadi salah seorang gadis yang muncul sebagai figuran tanpa nama dalam novel itu pun sudah cukup.
Senang rasanya, melihatmu menjalani hidup seolah kau tidak terkalahkan!
(Avia Maulidina. Bogor, 15 Desember 2015)




Baru saja selesai membaca Dilan #2. Walau dalam seri kedua ini aku hampir tidak tahan dengan suara Milea yang menurutku menjengkelkan (penggunaan "kamu harus tahu", atau "kamu pasti mengerti" terlalu banyak. Seolah aku selalu berpikiran negatif tentangnya dan dia secara tidak langsung memaksaku untuk memaklumi semua tindakannya), tapi pada akhirnya aku mengerti perasaannya. Aku juga sempat kesal dengan Dilan. Sikap keras kepalanya persis seperti anak-anak tipikal Dilan dkk. yang kujumpai sehari-hari.
Tetap saja, kisah Milea dan Dilan berakhir dengan keindahan tersendiri, meski dibalut pahitnya perpisahan.
Oh, satu lagi, mungkin beberapa dari kalian berpikir kalian tahu siapa yang kumaksud dalam puisi di atas. Tapi percayalah, kalian tidak tahu.




Avia

Comments

Popular Posts