Peri Kecil dan Prajurit Tampan



(art credit to nataliadrepina)
“Kau terlihat seperti peri,” katanya. “Bukan peri yang anggun dan menawan. Peri kecil yang bandel. Seperti peri gigi yang harusnya mencabut satu atau dua gigi, tapi malah membuat si anak tak bersalah itu ompong karena keisengannya.”
             Aku hendak mengerutkan dahi, pura-pura tak setuju, tapi otot wajahku malah melakukan hal lain: tersenyum geli. “Aku tidak separah peri gigi itu. Peri kecil yang bandel saja cukup,” komentarku. “Kalau kau, kau seperti... err...” Aku memandanginya, dan mendadak otakku kosong melompong. Ia seperti apa? “Kadal, mungkin. Atau dinosaurus. Bukan dinosaurus asli, hanya dinosaurus plastik yang sok menyeramkan.”
             Ia menyeringai. “Ah, masa?” Alisnya terangkat, namun dalam sekejap ekspresinya berubah menjadi tercenung. “Menurutku, aku lebih mirip prajurit.”
             “Prajurit?”
             “Ya. Dari setiap putri yang sedang menunggu pangerannya, pasti ada prajurit tampan yang diam-diam mencintai si putri yang selalu ada di sekitarnya. Tapi, yang namanya prajurit, meski ia dan sang putri tidak saling mengenal, sekadar melihat putri dari dekat dan melindunginya saja sudah lebih dari cukup.” Dan ia pun tertawa, dengan wajah yang cerah kembali, seolah poin utama dalam perkataannya adalah menyebut dirinya prajurit “tampan”.
             Sementara aku hanya terdiam. Terdiam karena aku tahu, yang ia maksud putri bukanlah aku.
             Rupanya prajurit itu lupa, gumamku dalam hati, akan selalu ada peri kecil yang mendampinginya. Peri kecil yang rela mengerahkan seluruh sihir dalam dirinya demi membuat ramuan yang dapat mengobati luka hati si prajurit begitu si putri pindah ke kerajaan lain bersama pangeran pilihannya. Peri kecil yang selalu ada, namun tak kasat mata. Menyampaikan rasa kasih dalam kepakan sayapnya yang kian melemah.[]

Comments

Popular Posts