Puisi yang Hilang; dan Ditemukan
Baru ingat kalau gua pernah membuat file Ms. Word berisi puisi-puisi. Ketika menelusuri kembali folder lama, ternyata masih ada! Ya sudah, dari pada membusuk dalam laptop, mungkin lebih baik dibagikan saja dengan pembaca blog ini.
Salam untuk masa laluku
Dari diri yang termangu dirundung pilu
Akar yang pahit tertanam di tanah seribu tahun lalu
Dan kini dari pohonnya tumbuh buah selaknat darah
Maka larilah aku menuju pintu, bertanya
Bisakah aku memperbaikimu?
Desember 2014-12-17
Kupu-kupu itu dijebak jaring
Dimasukkan dalam sebuah toples bening
Sayapnya yang indah dipatahkan
Hingga hilang warna yang biasa dilukiskan
Kupu-kupu itu dijebak jaring
Dalam toples yang penuh ngengat pusing
Kaki-kaki rapuhnya berteriak
Dasar bodoh
Dasar bodoh
Dasar bodoh
Desember 2014-12-17
Aku benci merasa iri
Dan iri itu bagai terbakar dari dalam
Seperti api yang menyulut daun kering
Diriku benar-benar hina
Diriku membara
Desember 2014-12-19
Angin ini membunuh dalam diam
Senyum yang dibuat saat ia menuju Selatan
Atau badainya yang berkecamuk ke Utara
Tidakkah kau mendengarnya? Tangisan yang terdera di Barat?
Di Timur, sesuatu menghangat
Lingkaran setan yang secepat jam pasir enam puluh detik
Jangan kau dibuat terombang-ambing olehnya, Nak
Jangan biarkan angin itu merusakmu
Desember 2014-12-19
Begal begal begal begal begal begal
Hipnotis hipnotis hipnotis hipnotis
Culik culik culik
Dimana
Hari nurani?
Februari 2015-02-28
Setelah menemukan file itu kembali, rasanya tepat untuk menulis puisi lagi di sana. Satu lagi puisi tak berjudul yang lebih mirip catatan di buku harian.
Ah,
lagi-lagi sulur membelit kakiku
Memaksaku
jatuh tengadah ke langit
Purnama di
atas sana
Terlalu
terang, terlalu jauh
Andai aku
tidak pernah mengulurkan tangan padanya
Pasti lebih
baik
Kini aku hanya ingin terpejam
Ketika
purnama itu menyiramkan cahayanya
Tumpah
ruah, membutakanku
Mei
2016-05-14
Avia Maulidina.

Comments
Post a Comment