Dari Sudut Ruangan

sebuah cerpen oleh Avia Maulidina
(dimuat di Majalah Kawanku edisi 14/2016)


               Aku suka duduk di bangku yang berada di sudut ruangan kelas ketika ujian.

            Bukan, bukan untuk contek-menyontek. Justru sebaliknya, untuk memerhatikan tingkah anak-anak yang sedang melakukan hal tersebut. Lucu, melihat betapa mereka bersusah payah untuk tidak bersusah payah—kau tentu mengerti maksudku.

            Dari sudut ruangan kelas, aku dapat melihat Zein lagi-lagi mendapat suplai jawaban dari Adit melalui secarik kertas yang dimasukkan ke dalam rautan. Dahiku mengernyit. Kedua anak lelaki itu selalu berturut-turut menduduki peringkat paralel teratas, tapi Zein selalu menjadi yang terbaik. Anak dari kepala dinas pendidikan kotaku, kaya dan memiliki segalanya. Mungkin hanya aku yang tahu kalau beberapa hal dalam kata “segalanya” merupakan kepalsuan. Kepintarannya. Kejujurannya. Kebaikannya.

            Menyebalkan melihat betapa santai Zein menjiplak isi kertas tersebut pada lembar jawabannya. Lembar jawaban di hadapanku sendiri masih kosong setengahnya, tapi aku tidak berniat untuk menanyakan jawaban pada mereka ataupun membuka contekan rumus. Kalau aku tidak bisa mengerjakannya, ya sudah, kulingkari saja pilihan mana pun yang kusukai. Biasanya aku memilih dengan pola hingga lingkaran-lingkaran hitam itu membentuk sebuah gambar tertentu. Begitu pula dengan kertas soalnya, kugambari dengan berbagai tema. Kali ini temanya adalah monster penghancur, sebuah representasi dari soal Matematika yang memang keterlaluan sulitnya.

            Kuperhatikan Adit, Zein, dan guru pengawas baik-baik. Bu guru tersebut terlihat seperti sedang mengawasi kami, tapi bagaimana bisa beliau tidak menangkap kejanggalan apa pun? Setidaknya pasti terlihat satu-dua murid yang melakukan bisnis mereka.

            “Bu, Zein mendapat contekan dari Adit!” seruku.

            Tiga puluh dua pasang mata seketika terfokus padaku. Iya, padaku, bukan pada Zein maupun Adit. Apa yang salah pada mereka semua?

            Tentu saja, mereka menganggap justru ada yang salah padaku. Aku, satu-satunya gadis yang berkoar melihat temannya contek-menyontek.

            Ibu guru tersebut ragu-ragu sesaat. “Benarkah, Zein, Adit?”

            Zein dan Adit sama-sama melayangkan tatapan penuh ancaman padaku sebelum beralih pada ibu guru. “Tidak, Bu,” jawab Zein dengan percaya diri. Sempurna tidak merasa bersalah.

            Dan Adit membenarkan hal tersebut.

            “Lihat isi rautannya, Bu,” kataku tidak mau kalah.

            Aku menunggu. Benar-benar menunggu guru tersebut bangkit dari kursinya dan memeriksa rautan yang masih berada di meja Zein. Alih-alih melakukannya, ibu guru bergeming dan berkata, “Saya percaya pada Zein dan Adit. Mereka murid yang cerdas. Justru kamu, Kania, yang harusnya dicurigai. Kamu selalu berada di peringkat bawah.”

            Rahangku terjatuh. “Ibu mencurigai saya karena saya bodoh?” tanyaku tidak percaya. “Kalau saya menyontek, tentu saya tidak akan berada di peringkat bawah.”

            “Itu hanya karena kau kurang beruntung, Kania,” balas Zein menyeringai. “Atau mungkin, kau terlalu sibuk menggambar di kertas ujianmu seperti seniman gila.”

            Tidak ada yang lebih buruk daripada mendengar seisi kelas menertawakanku karena ejekan Zein. Tapi melalui sudut mataku, aku dapat melihat bahwa Adit satu-satunya murid yang tidak tertawa.

***



            Sementara aku selalu duduk di sudut ruangan ketika ujian, Adit selalu duduk sendirian di kantin ditemani semangkuk soto mie dengan uap mengepul. Biasanya Zein duduk bersamanya pada beberapa menit pertama, sebelum anak itu pergi dengan temannya yang lain.

            “Yang membelikan soto mie itu Zein juga?” tanyaku tanpa basa-basi, meski sudah tahu jawabannya. Aku mengambil posisi berhadapan dengan Adit, meletakkan piring berisi nasi uduk di meja tanpa berhati-hati. Kemarahan akibat kejadian di kelas masih menggelayutiku.

            Adit menatapku tajam. “Ada apa?”

            “Tidak ada apa-apa,” jawabku, berusaha menjaga suaraku tetap datar. “Hanya ingin duduk di sini saja. Memangnya tidak boleh?”

            “Boleh.”

            Kami sama-sama makan dalam diam. Kuperhatikan Adit. Dari penampilannya, sangat memungkinkan bagi Adit untuk bergabung dengan kawanan anak bandel di sekolah. Tidak ada yang menyangka bahwa Adit adalah murid kedua terpintar—atau terpintar, dalam versiku. Karena itulah aku tidak mengerti mengapa Adit sudi membantu Zein mengerjakan ujian. Adit dapat dengan mudah mengalahkan Zein, fisik maupun akademis.

            “Berhentilah membantu Zein,” kataku tiba-tiba.

            Adit mendongak dari soto mienya. Ekspresinya siaga.

            “Apa kau membantu Zein hanya demi soto mie ini?” Aku tidak bercanda. Aku selalu melihat Zein membayarkan soto mie untuk Adit.

            “Kau tidak tahu apa-apa,” geram Adit. “Jangan ikut campur, apalagi jika kau hanya... murid terbodoh di kelas.”

            Ucapannya membuatku berjengit, terlebih karena Adit tampak ragu untuk mengatakan hinaan tadi. “Aku sekolah untuk belajar hal-hal yang bermanfaat bagiku di kehidupanku nanti,” balasku kesal. “Aku ingin jadi pelukis, jadi aku mendalami pelajaran kesenian. Kau pernah lihat nilai kesenianku di bawah delapan puluh lima? Tidak, kan? Untuk apa aku belajar integral kalau nanti yang kupegang adalah kuas dan kanvas?”

            Adit terlihat terkejut oleh jawabanku. “Kau tidak bisa seperti itu.” Alisnya terangkat.

            “Ya, aku bisa, dan itu yang sedang kulakukan,” kataku dengan keras kepala. “Di sekolah kita dipaksa memahami semuanya padahal sudah jelas bahwa kita tidak akan menjadi semuanya—kita hanya akan berakhir pada profesi tertentu.”

            Hening sesaat. Hingga Adit berkata, “Kau benar.”

            “Aku serius. Berhenti membantu Zein,” kataku lagi, penuh penekanan. “Setidaknya kalau dia memaksamu, kau bisa melaporkannya pada guru.”

            “Jangan naif.” Adit melahap soto mienya dengan sikap acuh tak acuh yang kentara sekali dipaksakan. “Memang apa yang dapat dilakukan guru terhadapnya? Guru-guru di sini takut pada si anak kepala dinas.”

            “Percayalah, aku sangat tahu itu.” Aku memutar mata, mengingat guru tadi. “Tapi pasti ada guru yang tidak begitu.”

            Adit menatapku lelah. “Sudahlah, Kania. Aku melakukannya dengan sukarela.”

            “Tidak ada yang melakukan hal seperti itu dengan sukarela!”

            Anak lelaki di hadapanku terdiam. “Dia tidak hanya membelikanku soto mie.”

            “Oh? Lalu? Dia membelikanmu apa lagi? Sepatu futsal?” sindirku nyinyir.

            “Dia yang membiayai sekolahku—dia dan keluarganya.” Suara Adit begitu pelan, hampir-hampir tidak terdengar. “Dia membayar SPP bulananku sebagai ganti contekan-contekan itu.”

            Aku kehilangan suaraku.

            “Keluargaku... tidak mampu membiayaiku.” Adit menunduk. “Tapi aku masih ingin belajar. Aku masih ingin mempelajari banyak hal di SMA, meski menurutmu tidak semuanya akan berguna dalam kehidupan nanti. Kalau punya pilihan, aku tidak ingin membantu Zein. Tapi aku tidak punya pilihan.”

            “Jadi tolong, urusi urusanmu sendiri, Kania,” pinta Adit. “Kau tidak dapat menolongku sekarang. Kau hanya perlu menutup mata, seperti yang lainnya.”

            Dengan kalimat itu, Adit meninggalkanku. Meninggalkanku bersama soto mienya yang belum habis. Di bawah mangkuk soto mie tersebut, kulihat serpihan kertas. Kupindahkan mangkuk tersebut sebelum mengumpulkan serpihan kertas itu, merangkainya kembali menjadi satu kesatuan.

            Itu adalah—atau dulunya adalah—kertas contekan yang dimasukkan ke dalam rautan. Meski kertas tersebut telah hancur, aku tetap dapat merasakan kemarahan yang Adit tumpahkan baik saat menuliskan jawaban di sana maupun saat merobek-robeknya. Kemarahan pada Zein. Kemarahan pada para guru. Kemarahan pada biaya sekolah yang mencekik orang-orang sepertinya.

            Dan dia benar. Aku tidak dapat melakukan apa-apa untuk menolongnya. Aku terlalu kecil, terlalu bodoh, terlalu tidak berguna, bahkan untuk bermimpi bisa memperbaiki keadaan ini. Yang bisa kulakukan hanyalah menjadi saksi dengan mulut terjahit, memerhatikan dari sudut ruangan seperti biasa.

***

Comments

Popular Posts