Marun

sebuah cerpen oleh Avia Maulidina
(Juara I Lomba Cerpen 'Remaja dan HIV/AIDS' 2015
Komisi Penanggulangan AIDS Kota Bogor dan Komkes Remaja 'Imago')


            Ribuan mata menatapku. Menunggu.

            Di belakangku, melintangi dinding aula, terpampang spanduk besar bertuliskan ‘Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2015’. Namaku tertera di sana, sebagai pembicara. Ah, padahal, aku sama sekali tidak tahu harus bicara apa.

            “Selamat siang, para hadirin sekalian,” aku memulai, sedikit terkejut mendengar nada suaraku yang tenang. Gumaman ‘siang’ terdengar dari hadirin di hadapanku. Rasa kagum dan ingin tahu dalam wajah mereka membuatku menciut. Mereka mengenaliku sebagai aktivis HIV/AIDS terkenal.

            Ya, HIV/AIDS...

            Mendadak, segalanya menghitam. Yang kutahu, saat pandanganku kembali normal, aku kembali menjadi diriku dalam versi SMA, tujuh tahun silam.

***

            Ketika adik laki-lakiku—yang juga merupakan adikku satu-satunya—lahir, Ayah dan Ibu memberinya nama Marun. Mereka menganggap nama itu nama yang indah. Tapi aku menganggap nama itu sebagai sebuah ejekan. Karena kelak segala sesuatu dalam hidupnya berhubungan dengan warna itu. Ya, merah marun. Apa lagi kalau bukan warna yang dimiliki darah.

            Kalau bisa, aku ingin menukar namaku, Jingga, dengan namanya. Kalau bisa, bukan hanya namaku, tapi hidupku.

            Marun masih kelas 3 SD kala itu, sementara aku kelas 2 SMA. Umurnya masih delapan, di Minggu sore saat aku pulang dari rumah teman dan mendapatinya duduk di teras. Lengannya terluka karena tergores kayu entah di mana.

“Abang, darahnya nggak mau berhenti,” katanya, bingung. Ia menekan-nekan kulit di sekitar tempat darah itu keluar. “Padahal sudah dari tadi berdarahnya.”

            Kuhampiri ia cepat-cepat dan memeriksa lukanya. Aneh. Lukanya tidak parah, tapi darahnya terus mengalir ke luar.

            “Sakit?” tanyaku.

            Marun meringis. “Enggak. Kan, Marun jagoan.”

            “Hebat,” kataku, walau aku tahu ia bohong. Kurangkul pundak adikku itu, mengajaknya masuk ke dalam rumah. “Ayo, Jagoan. Abang obati lukamu itu pakai obat merah.”

            Nantinya, setelah Ayah dan Ibu memeriksakan Marun ke dokter, aku baru tahu kalau hal tersebut dikarenakan hemofilia yang diam-diam dideritanya.

***

            Hadirin di hadapanku diam dan menyimak.

            Aku sama sekali tidak sadar kalau dari tadi aku bercerita. Aku tidak sadar, karena aku sedang sibuk menyelami ingatan lama yang datang kembali. Ingatan tentang Marun dan kehidupan yang tidak layak dijalaninya.

***

            Sejak vonis hemofilia itu, Ayah dan Ibu mempekerjakan seorang pengasuh untuk mengawasi Marun karena keduanya lebih sering berada di luar kota. Biasanya Marun sudah tidur ketika aku pulang ke rumah. Tapi, selalu ada malam di mana ia masih terjaga sedangkan Bi Iyem, pengasuhnya, sudah pergi ke dunia mimpi.

            Dan di malam-malam itu, Marun akan turun dari tempat tidur lalu menungguku di ambang pintu rumah. Memeluk kakiku begitu aku masuk. Kalau sudah begitu, aku suka mengajaknya keluar rumah untuk memandangi bintang-bintang, atau main kejar-kejaran dan hal seru lainnya. Kami akan masuk kembali ke dalam rumah sambil tertawa-tawa. Tawa Marun jernih dan menghangatkan hati siapa pun yang mendengar, membuatku rela melakukan apa pun demi membuatnya tertawa.

            Malam di mana  kejadian buruk itu terjadi adalah salah satu malam di mana Marun menungguku pulang.

            Aku tahu bocah itu ada di sana. Bayangannya samar-samar terlihat dari balik jendela di samping pintu. Aku tahu ia sedang cekikikan. Pasti hendak mengagetkanku.

            Benar saja. “Dor!” seru Marun, lalu menangkap kakiku sambil tertawa-tawa. Seperti apa yang orang dewasa lakukan ketika hal ini terjadi, aku pura-pura kaget. Sampai terjengkang dan membentur daun pintu.

            Untuk sesaat, kami berdua hanya tertawa.

            “Mau keluar? Atau langsung tidur?” Ah, basa-basi. Marun tidak pernah mau langsung tidur kalau aku sudah pulang.

            Begitulah. Malam itu kami keluyuran di halaman. “Lihat, rambutannya sudah masak.” Aku menyorot senter ke arah pohon rambutan tinggi yang Ayah tanam bahkan sebelum aku lahir. “Mau Abang ambilkan?”

            Mata Marun berbinar. “Mau!”

            “Tapi Marun tunggu di bawah, ya,” kataku. “Ini, pegang senternya. Senteri Abang.” Aku pun melepas sepatu dan mulai memanjat pohon rambutan tersebut.

            Marun menyorotiku dengan cahaya senter dari bawah sana. Kukira dia akan tetap di bawah. Aku tidak menyangka Marun akan ikut memanjat, dengan senter di salah satu tangannya.

            Bodoh, aku baru tahu Marun ikut memanjat saat terdengar suara sesuatu jatuh—dua benda, yang satu pecah, sementara yang satu lagi berdebum dan berkeretak dalam kegelapan.

            “Marun?” panggilku. Jantungku berpacu. Tidak ada yang menjawab. “Marun!”

            Demi mengetahui keadaan adikku, aku turun dari pohon rambutan tanpa berhati-hati. Bisa dibilang aku hanya meluncur, lalu melompat ke kegelapan. Begitu sampai di tanah, kakiku menjejak pecahan beling di atas sesuatu yang licin dan hangat.

            Aku tidak peduli dengan rasa sakit yang menjalar. Aku hanya peduli bahwa cairan itu adalah darah. Bukan darahku. Darah Marun. Dalam gelap, aku tidak dapat melihat warnanya. Tapi aku tahu, darah itu berwarna merah. Merah marun.

            Seketika itu juga, kuangkat tubuh adikku dan berlari menuju mobil Ayah yang biasa kupakai. Marun bahkan tidak menangis. Ia terjaga, tapi sediam orang mati. Ia memperhatikanku dengan matanya yang sayu ketika aku menancap gas, menuju ke rumah sakit terdekat.

***

            Aku tercekat di tempatku berdiri, di aula tempat peringatan Hari AIDS Sedunia, tujuh tahun setelah kejadian itu terjadi. Lidahku kelu untuk beberapa saat. Aku ingat darah Marun yang melumuri baju dan tanganku. Aku ingat betapa paniknya aku. Betapa aku ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.

            Seluruh manusia di aula menahan napas ketika aku melanjutkan ceritaku.

***

Penderita hemofilia tidak memiliki faktor pembekuan darah. Darahnya sukar membeku, dan jika terluka parah, darahnya akan terus keluar dalam jangka waktu lama hingga si penderita kehabisan darah dan berakibat kematian.

            Tapi bukan hemofilia yang mengakibatkan kematian Marun. Hemofilia hanya mengawali penderitaannya.

            Malam itu, Marun dapat terselamatkan meski pada awalnya ia kekurangan darah. Transfusi darah pun segera dilakukan. Marun sehat kembali, kurang lebih. Justru beberapa bulan setelahnya, Marun mulai demam, mengeluh sakit tenggorokan dan nyeri badan, serta muncul ruam di tubuhnya.

            Kukira itu hanya flu, atau penyakit lainnya. Tapi kalimat dokter menamparku dengan keras.

            Marun menderita Acquired immune deficiency syndrome. Ya, AIDS. Penyakit yang disebabkan oleh HIV—Human immunodeficiency virus—itu. AIDS yang selalu mendapat stigma buruk dari masyarakat.

            Dan entah bagaimana, kabar mengenai AIDS yang diderita adikku menyebar dengan cepat (“Anak kecil berumur delapan tahun mengidap AIDS! Pergaulan sekarang memang benar-benar!” kata mereka).  Ya Tuhan. Marun. Adikku itu dicibir tetangga-tetangga kami. Bahkan di sekolah, Marun diludahi dan diejek teman-temannya. Marun, adikku yang bahkan tidak mengerti penyakit apa yang dideritanya! Sementara alam semesta seolah bersekongkol untuk menjadikan adikku simbol dari sebuah “dosa”.

            Padahal, Marun tidak salah. Semua itu karena darah yang ditransfusikan ke dalam pembuluh nadinya ternyata adalah darah milik seorang penderita AIDS.

***

            Tanpa kusadari, air mataku meleleh di hadapan para hadirin yang kebanyakan tidak kukenal.

            Aku ingat, Marun hanya bertahan hingga umur sepuluh akibat AIDS. Aku ingat hari terakhir Marun hidup. Hari terakhirnya yang dihabiskan di rumah sakit bersamaku, karena lagi-lagi kedua orang tua kami bertugas di luar kota.

***

            “Abang Jingga,” panggil Marun pelan.

            Aku yang hampir tertidur di sisi ranjang rumah sakit segera terjaga kembali. “Ya, Marun?”

            “Siapa itu, yang dari tadi diam di sisi kamar?” tanyanya. Matanya memandang sudut kamar rumah sakit, sedikit menerawang. “Bajunya hitam-hitam. Tapi dia kelihatan baik. Dia tersenyum terus sambil memandangi kita.”

            Bulu kudukku berdiri. Tidak ada siapa-siapa selain kami di sana. “Mungkin hanya khayalan Marun saja.”

            “Nggak, kok.” Marun tersenyum. “Sepertinya dia mau menjemput Marun.”

            “Tidak boleh!” teriakku. “Marun harus tetap di sini!” Tidak tidak tidak tidak! Aku mulai menangis di hadapan Marun. Kupeluk ia. Kuciumi puncak kepalanya. Kuacak rambutnya. Kubelai pipinya. Kupeluk lagi, erat-erat. Kutatap matanya. Haruskah aku bicara?

            Tapi aku terhenyak ketika melihat matanya. Dia sudah tahu. Dia sudah tahu dan dia memaafkanku.

            “Marun selalu sayang Abang Jingga, tak peduli apa pun yang telah dan akan terjadi,” bisik Marun pelan. Tangannya mengepal, dan ia menyentuhkan kepalannya ke tanganku. Tos ala anak lelaki. “Orang berbaju hitam itu mendekat ke sini, Bang,” tambahnya.

            Kira-kira lima belas menit kemudian, aku memanggil suster. Tuhan di atas sana sudah mencoret nama Marun dari daftar makhluknya yang hidup di bumi.

***

            Ada satu hal yang belum kuceritakan. Dosa terbesarku.

Pada malam ketika Marun jatuh dari pohon rambutan, rumah sakit kekurangan suplai darah untuk ditransfusikan padanya.

“Transfusikan darah saya, Dok! Sekarang juga!” seruku waktu itu, kalut.

Aku tidak lagi mengingat bagaimana rupa si dokter. Yang jelas ia menjelaskan banyak prosedur yang harus kulakukan kalau ingin mendonorkan darah. Kutarik jasnya dan kuangkat ia ke udara. “Saya sehat, Dok! Adik saya bisa mati! Segera transfusi darah saya untuk adik saya sekarang juga!”

            Dulu, aku lega karena dokter itu mengalah.

            Aku tidak tahu kalau aku mengidap AIDS. AIDS yang dikarenakan oleh gaya hidupku ketika SMA yang urakan. Itulah sebabnya aku selalu pulang malam. Dan aku tidak perlu memberitahu hal kotor apa saja yang sudah kulakukan sehingga mengidap AIDS.

Yang perlu semua orang tahu adalah, darahkulah yang meracuni darah Marun. Aku yang menyebabkan Marun meninggal, pada akhirnya. Tapi waktu itu aku terlalu pengecut untuk memberitahukan hal tersebut pada orang-orang, apa lagi pada orang-orang yang mengucilkan Marun.

Pada hari Marun meninggal, aku ingin memberitahunya. Tapi ternyata Marun sudah tahu. Ia sudah tahu sejak awal, kalau akulah si berandalan yang seharusnya dihujat penghuni alam semesta karena telah mengidap AIDS akibat perilakuku dan menularkannya pada adikku sendiri.

Tetap saja Marun memaafkanku. Dia memaafkanku dan tetap menyayangiku sampai akhir hayatnya.

***

Ribuan pasang mata menatapku. Aku sudah selesai bercerita.

Dan di antara ribuan pasang mata itu, di antara kaburnya penglihatanku oleh air mata, aku melihat adikku. Memakai seragam SD, duduk di antara para hadirin. Tersenyum bangga dan mengangguk padaku. Aku, yang kini telah berubah menjadi orang baik-baik setelah kematiannya.

Mulutku membentuk kata “maaf” tanpa suara.

Bahkan dalam khayalanku, darah kering menodai kerah seragam adikku. Warnanya persis seperti namanya. Nama yang indah namun menyimpan ironi tersendiri.

Marun.

***

Comments

Popular Posts