Film Bumi Manusia: Sebagus Novelnya?

Bumi Manusia pernah menjadi novel yang selalu nangkring di meja kelas 12 IPA 2 selama berminggu-minggu. Novel punya Dian, yang kemudian dibaca Arul, dan kemudian dibaca gua. Iyalah, mana mungkin gua melewatkan kesempatan membaca novel yang berlatarkan Indonesia sebelum merdeka? Gua selalu suka segala hal yang berkaitan dengan sejarah. Rasanya kayak, lo melihat potongan kisah yang sekarang hilang, tapi kisah itu pernah eksis suatu hari di masa lampau. Bahkan orang-orang di dalamnya bisa saja berdiri persis di tempat lo berada sekarang. Hanya saja, dalam busana yang berbeda—melihat gedung yang berbeda serta menjalani garis waktu yang berbeda pula.


“Kenapa juga Dian dan Arul sangat-sangat-sangat merekomendasikan novel ini?” Well, pertanyaan gua terjawab begitu membaca sendiri novel karya Pramoedya Ananta Toer tersebut. Novel yang diterbitkan pertama kali tahun 1980 dan sempat dilarang beredar itu isinya bukan main. Rasanya jauh, jauh lebih berat dari novel-novel yang pernah gua baca. Mungkin karena latarnya yang sangat dekat dengan kenyataan di Indonesia saat itu? Yang jelas, gua sampai mengalami book hangover karena novelnya.

That was three years ago. Sekarang, di tahun 2019, adaptasi film dari novel Bumi Manusia hadir di bioskop per tanggal 15 Agustus. Gua sudah mendengar soal adaptasi film ini sebelumnya, juga sudah mengantisipasinya sejak pertama kali pemeran diumumkan. Sebelum diproduksi ke dalam film, Bumi Manusia pernah diangkat menjadi teater bertajuk Bunga Penutup Abad, dengan Reza Rahadian sebagai Minke dan Chelsea Islan sebagai Annelies. Di versi filmnya, Iqbaal dan Mawar Jongh lah yang mengambil alih peran pasangan tersebut. Gua inget banget sewaktu media memberitakan Iqbaal akan menjadi Minke—tentu saja penggemar buku Bumi Manusia ribut.

Bagi gua ribut-ribut soal pemeran sebuah adaptasi itu normal. Banyak novel yang gua suka akhirnya dibuat menjadi film, kemudian pemeran yang terpilih dianggap tidak akan sanggup memberi napas pada tokoh dalam novel. Gua inget banget kicauan orang di Twitter yang intinya memperingatkan Falcon serta Hanung Bramantyo, selaku sutradara Bumi Manusia, bahwa buku Bumi Manusia itu tidak main-main dan Minke bukanlah sembarang tokoh. Skeptis—begitulah pandangan orang-orang terhadap Iqbaal yang akan menjadi Minke dalam film. Gua sih fine-fine saja dengan Iqbaal, karena berdasarkan pengalaman adaptasi Dilan beberapa waktu lalu, Iqbaal terbukti sukses mematahkan keraguan orang-orang; malah dia melebihi ekspektasi khalayak. Tetap saja, gua agak heran karena dalam bayangan gua Minke dan Annelies tidak semuda itu. Untungnya, gua melihat sebuah tweet yang menjelaskan bahwa di masa tersebut orang dianggap dewasa pada umur yang lebih awal dibandingkan saat ini, sebab dahulu usia harapan hidupnya pun belum setinggi sekarang. Makes sense, sih, apalagi di novelnya memang Minke sendiri masih berstatus siswa HBS. Correct me if I'm wrong, tapi setau gua HBS jatuhnya setara SMA?


Hari ini, 18 Agustus 2019, gua memutuskan untuk nonton Bumi Manusia bareng Dian yang pertama kali memperkenalkan novel ini ke gua. Dari awal Bumi Manusia mau dijadikan film, kita memang selalu berisik membicarakannya di media sosial masing-masing. Ketika sampai di bioskop, bioskopnya rame banget dan tampaknya mayoritas memang berniat nonton Bumi Manusia. Sampai-sampai, sekali waktu mbak-mbak ticketing auto nanya ketika ganti antrian, “Bumi Manusia?”

Meski rating filmnya Dewasa, gua masih lihat banyak anak-anak seumur SMP berkeliaran sih, bahkan ada yang bawa anak kecil juga ke dalam bioskop dan rewel di tengah film... but, let's put this aside. Film Bumi Manusia berdurasi tiga jam, yang gua ramal bakal cukup untuk menjustifikasi ketebalan novelnya sendiri. Lalu, bagaimana dengan kenyataannya? Apa sesuai harapan?

Jawabannya:
bahkan lebih bagus dari harapan.

Hal yang paling menyebalkan ketika novel kesayangan kita dijadikan film layar lebar adalah, alur ceritanya seringkali diubah. Kadang hal-hal krusial dalam plot pun diubah! Hadeeeeh. Untungnya, film ini nggak begitu. Atau setidaknya, karena gua baca novelnya tiga tahun yang lalu, seingat gua tidak ada penambahan atau pengurangan dalam filmnya. Pun tidak ada pemborosan durasi: tiga jam penuh digunakan untuk menyajikan setiap peristiwa dalam novel dengan jelas. Oh ya, ada satu hal yang menarik dari penayangan Bumi Manusia. Sebelum film dimulai, penonton sebioskop diminta untuk berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya stanza pertama. That's new for me.

Kemudian, dari segi visualisasi, gila sih. I was amazed. Gua serius banget nonton di menit-menit pertama, berusaha mereguk sebanyak mungkin detail visual dalam film. Historical movie dari Indonesia yang pernah gua tonton nggak banyak, jadi gua benar-benar terpukau dengan bagaimana Bumi Manusia menciptakan atmosfir Indonesia tempo dulu, dengan noni-noni dan dokar-dokarnya. Gua sedikit merasa aneh sih dengan beberapa latar di awal yang warnanya terang dan tajam banget kayak warna-warna penganut aliran estetik ala-ala Tumblr jaman sekarang, tapi ya mungkin ini karena stereotip yang menempel di otak gua bahwa jaman dulu = earthy colors and all. Semakin jauh ke dalam alur cerita, gua semakin terbuai dengan latar yang disajikan dan seketika berasa masuk ke dalam filmnya hahaha. Karena sama-sama historical dan mengangkat tema perjuangan bangsa, mendadak gua jadi teringat film Les Misérables. Keren banget, sih, perfilman Indonesia bisa bikin kayak ginian!

Sama seperti di novelnya, di filmnya pun tokoh yang menurut gua paling ciamik adalah Nyai Ontosoroh. Ine Febriyanti benar-benar bisa menyampaikan perasaan Nyai Ontosoroh, seorang gundik yang berdiri tegak dan melawan meski disudutkan oleh hukum Eropa. I can literally feel every pain whenever she bursts out in anger. Sepanjang film, I found my eyes tearing up a few times karena marah pada ketidakadilan yang dia, dan mereka, rasakan. Iqbaal yang memerankan Minke pun as expected mampu membawakan dengan sangat baik peran pria Jawa yang terombang-ambing di antara kilauan ilmu pengetahuan modern. What I really love is, Minke tuh soft banget di hadapan Annelies, berbeda dengan ekspresinya di depan publik. Lantas bagaimana dengan Annelies? Gua bisa melihat kenapa Mawar Jongh dan Chelsea Islan sama-sama memerankan Annelies: keduanya punya pesona polos-polos menggemaskan. Cakep banget juga, bikin pusing pokoknya.

Overall, I think the movie does justice for the book. Melalui film Bumi Manusia, gua jadi bisa memahami hal-hal yang sempat gagal tercerna maknanya di novel. Keinginan gua untuk membaca kelanjutannya yang tergabung dalam Tetralogi Buru pun jadi bangkit kembali. Gua penasaran, setelah kehilangan Annelies, apa yang dilakukan Minke? Karena sejatinya, kisah ini bukan hanya tentang perjalanan cinta Minke-Annelies saja—kisah ini adalah tentang bumi manusia dengan persoalannya.

“Kita kalah, Ma.” 
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

[update! 24/08: kemarin gua nonton Bumi Manusia lagi sama temen-temen asrama yang dulu: Tifah dan Gita (minus Sonya karena lagi ratek MPD AGB). Gua kira bakal nangis lagi, ternyata ngga. Tapi, tetep mesmerized sama filmnya walau sepanjang film gua lebih banyak ketawa karena komentarnya Gita sama Tifah. Oiya, is it just me atau pas awal warnanya memang lebih vibrant? Soalnya kost-kostannya Minke tadinya mencolok mata banget, tapi ketika scene sebelum wedding agaknya tone-nya jadi lebih kuning.]



Sampai ketemu lagi,


Avia.

Comments

Popular Posts