Dunia Bodoh


Aku benci dunia. Itu saja.
            Semuanya terasa sangat aneh dan tidak nyata. Dunia ini terlalu sesak, penuh dengan berbagai macam topeng dan peran bodoh yang dimainkan oleh para manusia. Aku baru berumur enam belas dan aku telah menonton ratusan drama bertema sama – tema yang konyol dan membosankan. Contoh saja drama yang dilakoni oleh pasangan anak SMA yang berkelahi di kelas karena adanya orang ketiga dalam hubungan mereka, lalu drama percintaan seorang gadis yang sibuk mengejar pujaan hatinya, dan drama dengan tokoh utama si fakir perhatian yang tak pernah berhenti mencari masalah di sekolah...
            Makanya, aku memilih untuk menjadi peran sampingan saja. Kalau dalam drama Romeo dan Julietnya Shakespeare, aku sama seperti tokoh tanpa nama yang muncul di pesta dansanya Juliet dan hanya ikut berdansa lalu hilang entah kemana. Malah, sebenarnya aku tidak mengambil peran sama sekali. Aku benar-benar menutup diriku dari dunia – alias menjadi gadis anti-sosial yang hanya ditemani oleh pikirannya saja (ponsel pun tidak. Ha! Ponsel! Yang benar saja, untuk apa aku menggunakannya? Tidak akan ada yang perlu mengirim pesan singkat atau meneleponku).
            Di sekolah, aku duduk di bangku paling belakang pada barisan paling kiri. Aku tidak terlalu mencolok disitu, dan di sebelah kiriku ada jendela yang bisa kupakai untuk berpaling atau berpura-pura muntah saat siswa-siswi lainnya sedang memulai babak baru dalam drama kehidupan masing-masing. Kebanyakan orang di kelas tidak mempedulikanku, sama seperti aku tidak mempedulikan mereka. Aku sekolah hanya untuk belajar, bukan untuk mendapat masalah baru seperti mereka.
            Ya, kalau dipikir-pikir lagi, aku merupakan seorang gadis teladan. Kurang lebih begitu. Aku memang tidak dianugerahkan dengan kepintaran yang mengagumkan, tapi aku ini rajin dan tidak banyak tingkah, seperti murid teladan di SMA pada umumnya. Terkecuali mengingat fakta bahwa aku tidak menyukai sebagian besar guruku. Mereka sok pintar. Padahal perbedaan kami hanyalah jam terbang mereka yang lebih lama. Jika aku sudah dewasa atau cukup tua, tentu aku juga sepintar mereka.
            Satu-satunya, atau dua-duanya, atau tiga-tiganya, orang yang cukup kusukai di dunia adalah keluargaku; ayah, ibu, dan adikku. Alasannya cukup klise, karena kami adalah keluarga, dan keluarga tidak boleh saling membenci. Tapi tetap saja, aku selalu mengunci kamarku hampir dua puluh empat jam sehari. Prinsipku, semakin jarang aku memulai perbincangan dengan ketiganya, akan semakin jarang pula terjadi keributan di antara kami. Karena aku tidak mau ayah, ibu, atau adikku masuk ke dalam daftar “Orang-orang Bertopeng yang Paling Kuhindari”, jadi sebisa mungkin aku menjaga keharmonisan dengan prinsip itu – walau terkadang ibuku masuk ke dalam daftar tersebut. Ibu selalu mengeluh akan betapa datarnya wajahku, betapa aku tidak pandai berbicara, betapa canggung aku, dan lain-lain. Di antara mereka, aku memang paling menyukai ayahku, tapi dia sangat jarang pulang ke rumah karena sibuk bekerja. Adik perempuanku tidak terlalu buruk, hanya saja terlalu periang dan merepotkan.
            Dunia dalam mataku adalah sesuatu yang begitu abu-abu. Bunga yang bermekaran di musim semi hanyalah harapan semu yang akan layu saat pergantian musim. Debur ombak musim panas hanyalah nada tak berguna, sekedar kesenangan fana. Daun berbagai warna yang jatuh di musim gugur hanya akan terinjak dan terlupakan. Yang benar-benar nyata hanyalah musim dingin – musim yang membenci, musim yang penuh amarah, musim yang merupakan penjelmaan asli dari tiga musim lainnya
            Bahkan, musim pun memakai topeng. Ironis.
            Namaku Clara Avenue. Menurutku, hidup di dunia itu tidak memiliki tujuan.[]


note:
ini cuma cerita, oke? it doesn't have anything to do w/ me. ini pemikiran si tokoh dan bukan pemikiran si penulisnya wkwk.

Comments

Popular Posts