Si Pendengar


(art credit to, well, whoeverownsthepic)
Uap dari kopi itu sudah hampir hilang ketika akhirnya ia datang. “Tidak ada yang pernah benar-benar mendengarkan,” ceritaku langsung. Aku menangkupkan tangan di sekeliling cangkir. Kehangatan masih tersisa pada keramiknya, merambat ke jemariku yang kebas akibat udara dingin.
“Itukah alasannya kau kabur?” ia bertanya.
“Bukan hanya itu.” Kusesap kopi dalam cangkir tersebut. Rasanya pahit, tapi jenis kepahitan yang kusukai. Pahit yang mengalihkanku dari kepahitan yang sebenarnya—yang terjadi di dunia nyata. Aku menatap ke dalam manik matanya sebelum menjelaskan, “Ada banyak masalah. Keraguan. Amarah. Segalanya bercampur aduk. Dan tidak ada yang mendengarkanku. Aku mendengarkan mereka, tapi mereka semua menghilang begitu aku butuh dukungan.”
Bibir pemuda di hadapanku melengkung ke bawah, seperti terbuat dari lilin yang baru saja meleleh. “Aku, kan, mendengarkanmu. Aku selalu mendukungmu.”
Aku menunduk, memandangi kopi yang kini hanya memenuhi setengah cangkir. Uapnya telah hilang sepenuhnya. Kupikirkan kembali kalimat yang sudah berada di ujung lidahku, menimbang-nimbang apakah perkataanku akan menyakiti perasaannya.
Pada akhirnya, aku tetap mengatakannya. “Tapi kau tidak selalu ada,” kataku. “Kau hanya dapat muncul paling lama satu menit sebelum menghilang. Seperti uap kopi ini.”
Yang menanggapiku adalah keheningan panjang.
Ketika aku mendongak dengan rasa bersalah, aku sadar aku telah berbicara sendiri dalam kafe yang sepi.
Hantu pemuda tersebut, satu-satunya makhluk yang mendengarkanku di dunia meski ia sendiri tidak dapat didengar oleh orang lain, telah kembali lenyap.[]

Comments

Popular Posts